JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Ironi dunia digital Indonesia, menjadi negara dengan populasi pengguna internet terbesar keempat di dunia.
Indonesia justru tercatat memiliki tarif internet paling mahal di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), namun dengan kecepatan paling lambat yang menempati posisi kedua se Asia Tenggara.
Hal ini berdasarkan data terbaru dari Cable.co.uk dan We Are Social.
Berdasarkan data Cable.co.uk dan We Are Social per Februari 2025, tarif internet Indonesia mencapai US$0,41 atau sekitar Rp6.809 per Mbps per bulan. Tarif ini menempatkan Indonesia sebagai tarif internet tertinggi di ASEAN, melampaui beberapa negara tetangga.
Negara tetangga tersebut menetapkan tarif sebesar Filipina US$0,14 (Rp2,325), Malaysia US$0,09 (Rp1,494), Vietnam US$0,04 (Rp664), Singapura US$0,03 (Rp498), dan Thailand US$ (Rp332) per Mbps per bulan.
Secara global, Indonesia menempati urutan ke-12 sebagai negara dengan harga internet termahal, bahkan lebih mahal dibandingkan Amerika Serikat, Inggris, dan Hong Kong.
Harga internet Indonesi yang tinggi tidak diimbnagi dengan kecepatan yang kompetitif.
Untuk fixed broadband, Indonesia mencatat kecepatan sebesar 39,88 Mbps dan untuk mobile broadband 45,01 Mbps menjadikan salah satu yang terendah di ASEAN.
Berdasarkan data Speedtest Global Index per Agustus 2025, kecepatan internet Indonesia berada di urutan ke-83 untuk mobile broadband sedangkan untuk fixed broadband berada di urutan ke-116 dunia.
Kondisi ini memunculkan kritik dari berbagai pihak, terutama di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat pada internet untuk berinteraksi, bertransaksi, bekerja dan belajar.
Hal ini menunjukan tidak adanya keseimbangan antara biaya dan pengalaman yang dirasakan oleh konsumen.
Diharapkan pemerintah dan para penyedia layanan dapat berkolaborasi untuk kembali mengkaji struktur biaya dan meningkatkan efisiensi operasional agar dapat menawarkan layanan yang lebih cepat, stabil dan terjangkau, setara dengan harga internet negara- negara ASEAN.
Septian Trio/Wulandari
Editor : Imron Arlado