JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Ketika mendengar kata "liburan", sebagian orang mungkin akan langsung terbayang kegiatan jalan-jalan, berfoto di tempat wisata, atau menikmati kuliner khas daerah.
Namun, belakangan ini muncul tren liburan terbaru yang sangat unik. Tujuan liburannya bukan untuk berpetualang, melainkan untuk tidur.
Konsep liburan ini dikenal dengan istilah "sleep tourism", yakni jenis wisata atau liburan yang fokus pada istirahat total dan kualitas tidur.
Tren sleep tourism ini tercipta dari kelelahan hidup di era modern yang serba cepat dan penuh tekanan.
Maka dari itu, hadirnya tren ini kerap kali dianggap sebagai bentuk liburan yang menawarkan ketenangan dan pemulihan diri.
Secara sederhana, sleep tourism merupakan konsep liburan yang cenderung lebih fokus terhadap kesehatan mental dan kualitas tidur melalui pengalaman rekreasi.
Bentuk dari sleep tourism ini cukup beragam, mulai dari program retret atau refleksi khusus, paket wellness, hingga pengalaman menginap di tempat yang telah dirancang sedemikian rupa untuk memberikan ketenangan maksimal.
Karena fokus utamanya pada kualitas tidur dan pemulihan diri, sebagian besar penyedia konsep liburan sleep tourism berasal dari sektor penginapan atau pusat kebugaran.
Baca Juga: Tsunami Melanda Sulawesi Utara Usai Diguncang Gempa Berkekuatan M 7,6
Beberapa di antaranya bahkan menyediakan kamar yang dilengkapi dengan sistem pencahayaan yang mampu menyesuaikan siklus alami tubuh, peredam suara, tempat tidur premium, hingga sesi relaksasi.
Tren sleep tourism ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan ada beberapa faktor pendorong yang memicu munculnya konsep liburan ini.
Yang pertama adalah tingkat stres, kecemasan, dan gangguan tidur semakin sering dialami oleh banyak orang, terutama mereka yang menempuh jarak jauh untuk bekerja atau menuntut ilmu.
Batasan waktu mereka untuk bekerja dan menuntut ilmu dengan waktu untuk istirahat menjadi semakin kabur.
Yang kedua, budaya di dunia kerja yang semakin intens menuntut produktivitas tinggi membuat waktu untuk istirahat total terasa seperti kemewahan.
Di beberapa negara, konsep liburan sleep tourism ini sudah digabung menjadi paket yang cukup unik.
Contohnya seperti beberapa hotel wellness internasional menawarkan paket sleep retreat yang termasuk konsultasi kebiasaan tidur, makanan ringan yang ramah tidur, dan sesi relaksasi.
Ada pula hotel kapsul di Jepang yang memiliki teknologi pengatur suara dan cahaya kerap kali digunakan para tamu untuk sekedar istirahat singkat namun maksimal.
Kemudian, di destinasi wisata seperti beberapa resort di Bali atau pegunungan Eropa, tersedia paket digital detox dan jam malam tanpa gadget, agar tamu dapat mengembalikan ritme tidur alami.
Manfaat sleep tourism ini sangat nyata namun tergantung waktu dan kualitas programnya.
Baca Juga: Lambat Ditangani, Pohon Tumbang Tutup Aliran Sungai Sadar Kota Mojokerto, Begini Penyebabnya!
Tidur berkualitas selama beberapa hari dapat mengembalikan energi, menurunkan tingkat stres, dan memperbaiki mood.
Praktik relaksasi yang sebelumnya diajarkan dalam konsep liburan ini juga dapat diterapkan kembali di rumah untuk memperbaiki kualitas sekaligus kebiasaan tidur dalam jangka panjang.
Sleep tourism bukanlah sekedar konsep liburan yang aneh, ia seakan merefleksikan kebutuhan hampir seluruh orang yang merasa lelah dengan ritme kehidupan modern.
Melalui konsep liburan ini juga dapat diketahui bahwa liburan terbaik terkadang bukan yang penuh agenda, tetapi yang memberi ruang dan kesempatan untuk pulih secara tubuh dan pikiran.
FANEZA/Wulandari
Editor : Imron Arlado