JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Jagat media sosial beberapa waktu terakhir diramaikan dengan fenomena unik bernama “Tepuk Sakinah”. Yel-yel islami yang sederhana namun sarat makna ini viral di TikTok dan Instagram sejak akhir tahun 2023, dan terus menjadi perbincangan hangat hingga kini.
Dengan format tepuk tangan berirama yang diiringi lirik ringan, “Tepuk Sakinah” berhasil menarik perhatian warganet sekaligus menimbulkan rasa penasaran publik.
Lirik Tepuk Sakinah ini bukan hanya yel-yel, tetapi tema nyanyian atau tepuk berirama Islami yang meng-highlight konsep rumah tangga harmonis. Lirik Tepuk Sakinah ini dibuat sederhana, pakai nada lagu anak “Kalau Kau Suka Hati”, tetapi liriknya diganti agar sejalan dengan ajaran Islam soal pernikahan.
Tujuannya yakni agar calon pengantin tidak sekadar mendengar ceramah kaku, tetapi ikut bertepuk tangan sambil nyanyi, jadi hafal lima pilar rumah tangga sakinah. Di balik kemunculannya yang sederhana, Tepuk Sakinah memiliki sejarah panjang.
Baca Juga: Menjelajahi Alam Liar dan Pesona Eksotis Pulau Komodo yang Menakjubkan di Timur Indonesia
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa ide dasar yel-yel ini sudah muncul sejak 2015. Saat itu, Kemenag mulai merancang cara baru untuk menyampaikan pesan pernikahan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menyentuh hati dan mudah diingat.
Melalui berbagai forum diskusi dan pelatihan, gagasan tersebut berkembang hingga akhirnya diresmikan menjadi bagian dari modul Bimwin. Liriknya pun sederhana namun penuh makna.
(Tepuk 3x) Berpasangan… Berpasangan… Berpasangan!
(Tepuk 3x) Janji Kokoh… Janji Kokoh… Janji Kokoh!
Saling Cinta… Saling Hormat… Saling Jaga… Saling Ridho… Musyawarah… Untuk Sakinah! Mashlahah!
Tepuk sakinah sendiri merupakan bagian dari bimbingan yang dilakukan pada calon pengantin. Gerakan ini merupakan inisiatif Kemenag untuk menyampaikan pesan-pesan penting pernikahan dengan cara yang interaktif.
Baca Juga: Meyden dan Hengky Ternyata Sudah Menikah sejak Agustus Lalu, Perayaannya Digelar di Lokasi Ini
Tujuannya adalah untuk mempopulerkan nilai-nilai keluarga harmonis seperti sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun, viralnya Tepuk Sakinah juga memunculkan sejumlah kesalahpahaman.
Tidak sedikit warganet yang mengira bahwa yel-yel ini merupakan syarat wajib menikah di KUA. Menanggapi hal itu, pihak Kemenag menegaskan bahwa Tepuk Sakinah hanyalah alat bantu edukasi, bukan kewajiban administratif.
Kepala Biro Humas Kemenag, Thobib Al Asyhar, menjelaskan bahwa esensi bimbingan pranikah adalah pemahaman terhadap nilai-nilai keluarga, bukan hafalan yel-yel.
Tepuk Sakinah hanya menjadi media kreatif agar pesan itu tersampaikan dengan cara yang lebih menyenangkan. Fenomena Tepuk Sakinah sekaligus menunjukkan bahwa lembaga keagamaan pun bisa beradaptasi dengan gaya komunikasi generasi muda.
Di tengah derasnya arus digital dan konten hiburan, Kemenag berhasil menemukan cara baru untuk menyampaikan nilai-nilai spiritual dengan bahasa yang ringan namun bermakna.
Pesan-pesan tentang cinta, hormat, dan musyawarah kini disampaikan lewat irama dan tepukan tangan yang ceria tanpa kehilangan makna sakral di baliknya.
Tri Yulia Setyoningrum/Linda