Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sound Horeg, Antara Hiburan Rakyat dan Kontroversi Kebisingan

Imron Arlado • Selasa, 7 Oktober 2025 | 23:13 WIB
Sound horeg, dengan dentuman bass yang menggelegar dari truk sound system
Sound horeg, dengan dentuman bass yang menggelegar dari truk sound system

JAWA POS RADAR MOJOKERTO –  Sound horeg, dengan dentuman bass yang menggelegar dari truk sound system, telah menjelma menjadi simbol hiburan rakyat di berbagai daerah, terutama Jawa Timur.

Mengiringi hajatan, pawai kampung, hingga malam takbiran dengan semangat meriah yang khas. Namun di balik euforia itu, muncul kontroversi. Karena memicu keluhan warga dan bahkan fatwa haram dari MUI Jawa Timur.

Dianggap mengganggu ketenangan publik, fenomena ini memunculkan perdebatan tentang batas antara kebebasan berekspresi dan hak atas lingkungan yang nyaman.

Sound horeg, gabungan dari kata “sound” dan “horeg” (bahasa Jawa yang berarti bergetar). Berawal dari tradisi penggunaan pengeras suara dalam hajatan dan takbiran keliling di Jawa Timur sejak era 1980-an, lalu berkembang pesat sejak awal 2000-an.

Ketika komunitas lokal mulai memodifikasi truk dengan perangkat audio berkapasitas besar sebagai panggung berjalan dalam pawai dan karnaval.

Popularitasnya melonjak pasca-pandemi 2020, saat masyarakat merindukan hiburan publik, dan tren ini menyebar ke berbagai daerah seperti Blitar, Jember, dan Banyuwangi.

Komunitas seperti Faskho Sengox dan BJ Hunter menjadi pionir dalam pergerakan ini, sementara nama seperti Brewog Audio kini dikenal luas sebagai ikon sound horeg yang menggabungkan kreativitas lokal dengan dentuman bass ekstrem yang khas.

 

Antara Hiburan dan Gangguan Sosial

Sound horeg telah menjadi fenomena sosial yang unik. Di mana dentuman bass ekstrem dari truk sound system bukan hanya sekadar hiburan.

 

Tetapi juga bentuk ekspresi komunitas lokal yang memperkuat identitas kampung dan membuka peluang ekonomi bagi pelaku hiburan jalanan seperti teknisi audio, penari, dan pedagang.

Di sisi lain, keberadaannya memicu kontroversi karena kebisingan yang ditimbulkan sering kali melampaui batas kenyamanan, menyebabkan gangguan tidur, stres, dan konflik antarwarga, serta menimbulkan kekhawatiran akan polusi visual dan pengaruh negatif terhadap anak-anak.

Fenomena ini mencerminkan tarik-ulur antara semangat ekspresi rakyat dan kebutuhan akan ketertiban serta kenyamanan lingkungan.

 

Solusi dan Jalan Tengah Sound Horeg

Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan komunitas sound horeg mulai mencari jalan tengah agar hiburan ini tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu lingkungan.

Beberapa solusi yang diusulkan antara lain pembatasan volume maksimal (di bawah 85 desibel), pengaturan jam operasional (misalnya hingga pukul 22.00), serta kewajiban izin lingkungan sebelum menggelar acara.

 

 

Konsep sound harmoni juga mulai digaungkan, yaitu pendekatan yang menggabungkan ekspresi budaya dengan etika sosial dan kesehatan publik, agar sound horeg tetap hidup sebagai hiburan rakyat yang bertanggung jawab.

Sound horeg bukan sekadar dentuman bass di jalanan. Tetapi  cerminan budaya, ekspresi komunitas, sekaligus tantangan sosial yang perlu ditata dengan bijak. Dengan pendekatan yang seimbang, hiburan rakyat ini bisa tetap hidup tanpa mengorbankan kenyamanan bersama.

ANGELINA

 

Editor : Imron Arlado
#MUI Jawa Timur #sound sistem #brewog audio #karnaval #Hiburan rakyat #Sound hereg