JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Pernahkah kamu mendengar cerita tentang seseorang yang tengah tertidur lelap tetapi tiba-tiba terbangun dan berdiri atau berjalan tanpa arah?.
Kejadian tersebut kerap kali disebut sebagai fenomena sleep walking yang artinya tidur berjalan atau somnambulisme.
Meski fenomena ini tampak misterius dan menyeramkan, sleepwalking sebenarnya adalah sebuah kondisi medis yang memiliki dasar neurologis atau sistem saraf.
Sleep walking sendiri merupakan salah satu jenis parasomnia, yakni perilaku yang tidak biasa saat sedang tidur.
Secara teknis, sleepwalking terjadi ketika seseorang mengalami bangun parsial atau sementara dengan tingkat kesadaran yang belum sepenuhnya saat tidur lelap.
Saat hal itu terjadi, sistem motorik dalam tubuh aktif sehingga seseorang bisa duduk, berjalan, dan melakukan tindakan lain.
Namun, bagian otak yang bertanggung jawab sebagai kesadaran dan memori belum sepenuhnya aktif.
Maka dari itu, seseorang yang mengalami sleepwalking atau tidur berjalan umumnya tampak berkaca-kaca, bereaksi lambat, dan tidak ingat bagian dirinya sleepwalking setelah benar-benar bangun.
Perilaku yang terjadi pada saat sleep walking juga cukup beragam, ada yang berjalan tanpa arah, hingga melakukan rangkaian tindakan yang kompleks seperti berpakaian, membuka pintu, makan, dan berbicara.
Baca Juga: Sound Horeg, Antara Hiburan Rakyat dan Kontroversi Kebisingan
Mata seseorang yang mengalami sleep walking juga tidak terpejam, tapi terbuka dengan tatapan yang kosong.
Durasi berlangsungnya sleepwalking biasanya hanya beberapa detik hingga menit kemudian kembali tidur atau bangun dengan keadaan bingung tanpa ingatan kejadian tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir kejadian sleepwalking ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Namun, sleepwalking juga bisa muncul atau berlanjut pada orang dewasa.
Selain itu, fenomena sleep walking juga dapat terjadi karena riwayat keluarga atau faktor genetik.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan sleepwalking lebih tinggi apabila salah satu atau kedua orang tuanya pernah mengalaminya.
Ada beberapa faktor umum yang memicu terjadinya situasi sleepwalking, seperti kurang tidur atau jadwal tidur berantakan yang membuat tidur dalam atau deep sleep menjadi tidak stabil.
Kemudian stress emosional, demam, konsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu, dan gangguan tidur lainnya juga bisa menjadi pemicu terjadinya situasi ini.
Sementara itu, upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mencegah sleepwalking ini bisa dilakukan dengan cara menjaga kualitas dan kuantitas tidur.
Baca Juga: Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mojosari Gencarkan Sosialisasi Kesehatan Masyarakat
Tak hanya itu, menurunkan stress dan membuat lingkungan tidur menjadi lebih aman juga sangat penting untuk mengatasi hal ini. Contohnya seperti mengunci pintu dan menjauhkan benda tajam.
Jika sleepwalking terjadi dalam kurun waktu yang sering, pemeriksaan oleh spesialis tidur atau terapi perlu dilakukan.
Sederhananya, kombinasi pencegahan lingkungan dan perbaikan pola tidur adalah langkah awal yang harus dilakukan untuk mencegah serta mengatasi sleep walking. Sementara penanganan medis dilakukan jika situasi ini mulai membahayakan.
Dengan memahami pemicu dan menerapkan langkah pencegahan sederhana, resiko serta kemungkinan terjadinya situasi ini dapat dikurangi atau dihindari dan kualitas tidur menjadi tetap terjaga.
FANEZA
Editor : Imron Arlado