Jawa Pos Radar Mojokerto - Proyek jalan tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi) yang menelan anggaran Rp10,8 triliun ini ditargetkan untuk mulai beroperasi pada Januari 2026.
Kehadiran jalan tol ini diyakini akan menjadi solusi untuk mempercepat perjalanan dan menciptakan peluang pertumbuhan ekonomi, terutama di daerah dengan tingkat kesejahteraan yang rendah.
Salah satu segmen penting dari tol ini adalah Gending–Besuki, dengan panjang 49,68 km. Segmen ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu, Gending–Kraksaan (12,88 km), Kraksaan–Paiton (11,20 km), dan Paiton–Besuki (24,88 km).
Setelah tahap ini selesai, perjalanan yang biasanya menghabiskan waktu 1,5 jam dapat dipersingkat menjadi hanya 30 menit. Penghematan waktu ini berdampak signifikan terhadap mobilitas masyarakat, distribusi barang, dan sektor pariwisata.
Pembangunan Probowangi dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama menghubungkan Probolinggo dan Besuki, sementara tahap kedua melanjutkan ke Banyuwangi dengan panjang total 126,10 km.
Sampai September 2025, kemajuan pembangunan pada ruas Gending–Besuki telah mencapai 86 persen. Pemerintah yakin bahwa jadwal peresmian pada Januari 2026 akan dapat tercapai.
Baca Juga: Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko Ajak Remaja Lestarikan Budaya lewat Gamelan dan Bahasa Jawa
Menarik perhatian, jalan tol ini melewati area dengan angka kemiskinan yang cukup tinggi, contohnya Kabupaten Probolinggo. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah tersebut mencapai 16,31 persen, menjadikannya sebagai kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi keempat di Jawa Timur.
Situasi ini menjadikan kehadiran tol bukan sekadar mempercepat perjalanan, tetapi juga sebagai lambang harapan baru dalam membuka akses ekonomi serta mengurangi kesenjangan pembangunan.
Dengan adanya tol, produk pertanian, perikanan, dan industri rumah tangga dari daerah pesisir timur Jawa akan lebih lancar dipasarkan ke kota-kota besar maupun ke luar provinsi. Selain itu, Banyuwangi sebagai salah satu tujuan wisata utama juga akan mendapatkan keuntungan dari meningkatnya jumlah pengunjung wisatawan.
Potensi Dampak Positif
Tol Probowangi diharapkan memberikan berbagai keuntungan strategis, di antaranya:
Baca Juga: Avanza Terbakar usai Tabrak Truk di Tol Mojokerto, Tiga Orang Terluka Kini Dirawat di RSUD Basoeni
- Efisiensi logistik
Proses distribusi barang dan hasil pertanian menjadi lebih cepat serta lebih ekonomis.
- Peningkatan pariwisata
Wisatawan akan lebih mudah untuk mencapai Banyuwangi dan daerah sekitarnya, termasuk lokasi-lokasi seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, dan Taman Nasional Baluran.
- Investasi daerah
Infrastruktur yang baik seringkali menarik minat investor untuk membangun industri baru, baik dalam sektor manufaktur, perikanan, maupun agribisnis.
- Pemerataan pembangunan
Akses yang lebih baik membuka kesempatan bagi desa-desa terpencil untuk berkembang bersama kota besar.
Tantangan yang Menyertai
Walaupun optimisme tinggi, proyek ini tetap menghadapi berbagai rintangan. Isu-isu klasik seperti pembelian tanah dan kompensasi perlu diselesaikan dengan cara yang adil agar tidak memicu ketegangan sosial.
Selain itu, faktor lingkungan juga harus diperhatikan dengan serius, khususnya karena jalan tol berada di daerah pesisir yang memiliki ekosistem yang rentan.
Tidak kalah penting, penghubungan jalan tol dengan jalan-jalan sekunder di desa dan kecamatan sekitarnya harus diperhatikan. Tanpa jalur penghubung yang cukup, keuntungan dari jalan tol hanya akan dirasakan oleh sebagian pihak, sedangkan masyarakat di desa-desa terpencil akan tetap terpinggirkan.
Masa Depan Konektivitas Jatim
Jika tepat sebagaimana diharapkan, jalan tol Probowangi akan menjadi salah satu rute paling penting di wilayah Jawa Timur. Perjalanan yang dulunya memakan waktu lama dan melelahkan kini dapat diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Namun, keberhasilan proyek ini tidak hanya dinilai dari selesainya pembangunan atau banyaknya kendaraan yang melintas, tetapi juga seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat, khususnya di daerah yang paling terpencil dan miskin.
Dengan demikian, keberadaan tol tidak hanya berfungsi sebagai jalan yang cepat, melainkan juga sebagai sarana untuk mendorong perubahan ekonomi dan sosial yang lebih merata di bagian timur Jawa. Okta/Linda
Editor : Imron Arlado