JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Saat ini, banyak orang menganggap ponsel sebagai kebutuhan utama, bahkan lebih penting dari dompet.
FOMO atau fear of missing out sering kali menjadi fenomena yang berkaitan erat dengan kecanduan media sosial.
Ketakutan berlebihan untuk tidak mengetahui berita atau tren terkini ini dapat menimbulkan efek negatif, terutama pada kesehatan mental.
Meski tampak sepele, dampak FOMO tidak boleh dianggap remeh dan perlu mendapat perhatian. Ketika melihat teman-teman mereka berbagi momen bahagia, mereka cenderung membandingkan diri dan merasa kurang berharga.
Dampaknya kecemasan sosial dan penurunan rasa percaya diri, terutama saat seseorang merasa tidak “ikut tren”.
FOMO yang berarti rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang terjadi, terutama dalam konteks sosial.
Istilah ini pertama kali populer di era media sosial, biasanya muncul saat seseorang melihat unggahan teman di media sosial seperti liburan, nongkrong, atau pencapaian dan merasa dirinya tertinggal atau tidak cukup baik.
Biasanya yang rentan mengalami kondisi ini ialah remaja, karena mereka sedang dalam fase pencarian jati diri dan sangat aktif di media sosial. Mereka cenderung membandingkan hidup mereka dengan orang lain, dan merasa harus “ikut” agar tidak dianggap ketinggalan.
Dampak Psikologis dan Emosional
Psikolog remaja, Dr. Rika Pramesti menjelaskan, tekanan sosial digital bisa menyebabkan penurunan harga diri.
“Remaja cenderung membandingkan diri dengan citra ideal yang ditampilkan di media sosial. Ketika merasa tidak sebanding, mereka mulai meragukan nilai dirinya sendiri,” ujarnya.
Ironisnya, meski aktif di media sosial, banyak remaja justru merasa kesepian. Interaksi digital yang dangkal tidak selalu memberikan koneksi emosional yang tulus. Meski aktif secara digital, mereka sering merasa kesepian dan tidak benar-benar terhubung secara emosional dengan orang lain.
Fenomena FOMO ini menjadi alarm bagi orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan untuk lebih memperhatikan kesehatan mental remaja.
Edukasi tentang literasi digital, penguatan nilai diri, dan ruang aman untuk berekspresi menjadi kunci agar generasi muda tidak kehilangan jati diri di tengah gemerlap dunia maya.
Kehilangan Jati Diri Akibat FOMO
Cenderung meniru gaya hidup orang lain demi mendapatkan validasi sosial di media digital.
Mereka mulai mengubah cara berpakaian, berbicara, bahkan minat pribadi agar terlihat “ikut tren” dan diterima oleh lingkungan online. Validasi diri bergeser dari nilai-nilai pribadi ke angka digital seperti likes, views, dan followers.
Akibatnya, banyak dari mereka mengalami kebingungan identitas atau disonansi antara diri yang asli dan citra yang ditampilkan di media sosial. Hal ini bisa memicu kecemasan, stres, dan penurunan harga diri.
Penting bagi mereka yang merasa FOMO untuk menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa banyak likes atau followers yang dimiliki, melainkan oleh seberapa jujur mereka terhadap diri sendiri.
Media sosial bisa menjadi tempat berbagi dan berekspresi, tapi jangan biarkan itu mengendalikan cara kamu melihat dan menilai dirimu. Jadilah versi terbaik dari dirimu, bukan salinan dari orang lain. Karena jati diri yang kuat akan selalu lebih berharga daripada validasi yang sementara.
ANGELINA
Editor : Imron Arlado