Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Hari Batik Nasional, Merajut Identitas dan Warisan Budaya Indonesia

Imron Arlado • Jumat, 3 Oktober 2025 | 00:29 WIB
Sejak tahun 2009,  UNESCO telah menetapkan bahwa tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional Indonesia. Sumber foto: Google
Sejak tahun 2009, UNESCO telah menetapkan bahwa tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional Indonesia. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Sejak 2009, setiap 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Penetapan ini berawal dari pengakuan dunia internasional, yakni UNESCO, yang mengakui batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda untuk kemanusiaan.

Pengakuan tersebut semakin menegaskan bahwa kehadiran batik bukan hanya sekadar kain hiasan bermotif, tetapi juga mengandung nilai budaya, filosofi, dan sejarah yang panjang.

Sejak saat itu, pemerintah Indonesia terus mendorong masyarakat untuk memperingati Hari Batik Nasional dengan mengenakan batik secara serentak baik di kantor, maupun sekolah.

Kata ''batik'' sendiri berasal dari bahasa jawa ''amba'' yang berarti menulis, dan ''titik'' yang berarti titik-titik kecil.

Sementara itu, seni membatik sudah ada sejak abad ke-17 dan berkembang pesat di lingkungan keraton Jawa seperti Yogyakarta dan Surakarta.

Di masa itu, kegunaan batik masih sangat terbatas dan digunakan sebagai simbol status sosial. Di mana hanya kalangan bangsawan yang diperbolehkan mengenakan motif batik tertentu.

Seiring berjalannya waktu, batik semakin berkembng dan tersebar luas di berbagai daerah dengan ciri khasnya masing-masing.

Contohnya seperti batik pesisir yang dipenuhi warna-warna cerah karena dipengaruhi oleh budaya Tionghoa dan Arab, atau juga batik pedalaman yang tampak lebih tenang dengan warna coklat keemasan.

Kemerdekan Indonesia kemudian membawa batik menjadi benda dengan peran yang semakin kuat sebagai simbol identitas bangsa.

 

 

Tokoh-tokoh penting termasuk Presiden Soekarno pada saat itu pun kerap kali mengenakan batik saat menghadiri acara-acara resmi untuk menunjukkan kebanggaan terhadap budaya Indonesia kepada dunia.

Seperti yang sudah diketahui, sejak dahulu batik telah menjadi identitas nasional Indonesia. Bahkan hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas motif batik masing-masing yang menggambarkan alam, budaya, dan nilai kehidupan masyarakat setempat.

Misalnya batik Pekalongan dengan ciri khas penuh warna cerah yang menggambarkan keterbukaan masyarakat pesisir terhadap budaya asing.

Sedangkan batik Yogyakarta dan Solo cenderung lebih elegan dengan warna sogan atau cokelat keemasan yang kental dengan filosofi Jawa.

Batik menjadi salah satu bagian paling penting dalam diplomasi budaya. Di beberapa kesempatan berharga, batik kerap kali dijadikan sebagai hadiah resmi untuk tamu negara atau dipamerkan di acara internasional.

Selain digunakan sebagai hadiah resmi dan dipamerkan di acara internasional, batik juga turut berkontribusi besar dalam perekonomian kreatif Indonesia.

Tak sedikit UMKM batik yang sukses menembus pasar global dan membawa nama Indonesia sekaligus budayanya semakin dikenal luas oleh dunia.

Batik tidak hanya menarik karena warnanya yang elegan dan coraknya yang rumit, tetapi juga karena setiap motifnya mengandung cerita dan makna yang mendalam.

Contohnya seperti batik parang yang motifnya menyerupai ombak tak berujung, melambangkan semangat yang tak pernah padam dan tekad pantang menyerah.

Kemudian batik sido mukti yang kerap kali digunakan saat pernikahan adat Jawa, menjadi simbol harapan untuk kehidupan rumah tangga yang bahagia dan makmur.

 

 

Selain kaya akan makna filosofis, batik juga memiliki keragaman dalam cara pembuatannya. Setiap teknik pembuatan batik akan menghasilkan karakter yang berbeda balik dari segi detail, harga, dan nilai seninya.

Beberapa teknik pembuatan batik yaitu batik tulis, batik cap, batik printing, dan batik kontemporer.

Dari semua teknik itu, jenis batik yang paling mahal adalah batik yang dibuat dengan teknik batik tulis.

Hal ini dikarenakan proses pembuatannya dikerjakan secara manual dengan sangat detail dan bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Sehingga nilai batik tulis bisa lebih tinggi dari jenis batik lainnya.

Batik bukan hanya kain bermotif indah, melainkan jati diri bangsa Indonesia yang telah diakui dunia. Setiap helaian batik adalah doa, harapan, dan filosofi hidup yang diwariskan secara turun-temurun.

FANEZA/FADYA

Editor : Imron Arlado
#batik #2 Oktober #batik sido mukti #budaya #hari batik nasional #identitas nasional #batik parang #ciri khas #Teknik Pembuatan