JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di Indonesia, terdapat salah satu upacara pemakaman tradisional yang dikenal sebagai upacara pemakaman paling mahal, yakni Rambu Solo khas Toraja.
Upacara ini biasanya berlangsung di pekarangan rumah adat atau tongkonan dan di lapangan dekat kampung, dengan dikerumuni oleh pihak keluarga dan tetangga.
Yang membuat upacara pemakaman ini terlihat semakin mencolok adalah deretan kerbau dan babi yang dipersiapkan sebagai kurban, serta kehadiran tau-tau, sebuah patung kayu yang menyerupai almarhum, di tebing atau liang batu.
Pelaksanaan upacara ini juga kerap kali mengambil waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu, dan jumlah hewan yang dikurbankan biasanya menjadi tolak ukur penghormatan keluarga kepada yang meninggal.
Menurut kepercayaan orang Toraja, kematian bukanlah sekedar berhentinya fungsi tubuh, tetapi proses pengalihan jiwa menuju alam roh yang disebut Puya.
Rambu Solo sendiri berfungsi untuk menghormati mendiang, menebus hubungan sosial yang harus ditutup dengan baik, dan menegaskan status keluarga di masyarakat.
Biaya upacara yang sangat besar dan dilakukan secara intensif membuat beberapa keluarga kerap kali memutuskan untuk menunda pemakaman sampai mereka memiliki cukup banyak sumber daya.
Jasad biasanya tetap berada di ruang khusus yang berada di rumah keluarga hingga hari upacara datang.
Persiapan upacara juga melibatkan pengundangan para kerabat dan tetangga, mereka terkadang datang dengan membawa bantuan makanan hingga hewan kurban.
Baca Juga: Selena Gomez Anggun dengan Gaun Ralph Lauren, Resmi Jadi Istri Benny Blanco
Ada beberapa rangkaian ritual utama dalam tradisi upacara pemakaman Rambu Solo ini. Mulanya, tradisi ini diawali dengan ritual ma'pasa tedong atau parade kerbau yang dilakukan sebelum penyembelihan.
Jenis kerbau yang digunakan dalam upacara pemakaman ini juga memiliki standar tersendiri. Kerbau yang langka dengan corak khusus akan dipandang lebih tinggi dan bernilai oleh para masyarakat.
Kemudian dilanjutkan dengan praktik penyembelihan hewan kurban, daging hewan kurban ini nantinya akan dibagikan kepada tamu dan keluarga.
Setelah penyembelihan selesai dilakukan, ritual yang akan dilanjutkan selanjutnya adalah ma'peliang atau pengusungan peti.
Dalam ritual ini, peti jenazah akan diarak menuju liang atau lokasi makam dengan prosesi yang melibatkan banyak orang. Ritual pengusungan ini sarat akan makna penghormatan kepada mendiang.
Setelah pemakaman, di tebing atau balkon batu biasanya dipasang patung kayu bernama tau-tau yang menyerupai almarhum. Tau-tau dipasang sebagai penanda makam dan pengingat sosok mendiang.
Baca Juga: Gus Barra: Pemkab Komitmen Memperlancar Akses dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat
Ritual terakhir yang juga terkenal karena dinilai cukup unik dan tidak biasa dalam rangkaian prosesi upacara ini adalah ritual ma'nene.
Di beberapa komunitas Toraja, setelah beberapa tahun pemakaman keluarga berlangsung, mereka akan membuka kembali makam untuk membersihkan dan merawat jenazah guna menegaskan ikatan abadi antara yang hidup dan yang telah tiada.
Segala prosesi dan ritualnya yang penuh simbol dan sarat makna menunjukkan bahwa upacara pemakaman Rambu Solo lebih dari sekadar prosesi pemakaman dan penghormatan terakhir biasa.
Di balik tampilan megah Rambu Solo yang terkadang kontroversial mengenai biaya, upacara ini menyimpan nilai penghormatan terhadap orang mati, penegasan identitas, dan hubungan sosial yang solid.
FANEZA
Editor : Imron Arlado