JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di era saat ini, munculnya gangguan dari berbagai sisi seperti tekanan akademik atau pekerjaan dan arus pendapat di media sosial semakin padat.
Semua hal tersebut akhirnya memicu terjadinya kelelahan mental berlebih, gangguan panik, dan mudah tersulut emosi.
Kemudian filsafat hidup stoisisme hadir sebagai jawaban praktis dari fenomena ini. Bukan janji solusi instan, tetapi cara berpikir yang dapat membantu kita untuk tetap tenang di kondisi yang berantakan.
Stoisisme sendiri merupakan aliran filsafat yang telah dimulai oleh seseorang bernama Zeno dari Citium sejak sekitar abad ke-3 sebelum masehi.
Inti ajaran ini cukup sederhana yakni, kebahagiaan yang stabil datang dari mengatur reaksi batin diri sendiri, bukan dari mengendalikan dunia luar.
Stoisisme memberi pemahaman dan penekanan kuat pada akal sehat sekaligus kebajikan sebagai dasar hidup yang baik.
Baca Juga: Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal Tuntaskan Pembangunan Infrastruktur Bersumber Dana Desa
Orang yang menerapkan stoisisme melihat bahwa banyaknya hal yang kerap kali dianggap sebagai ''masalah'' sebenarnya terjadi karena penilaian dan ekspektasi diri sendiri, bukan peristiwa itu sendiri.
Hidup seseorang yang menerapkan stoisisme kerap kali dianggap tidak berperasaan. Akan tetapi, hal yang sebenarnya terjadi jauh berbeda dengan persepsi itu.
Melainkan belajar merespon masalah dengan kepala dingin sehingga segala keputusan yang diambil tidak dipengaruhi oleh emosi.
Filsafat hidup stoisisme memiliki beberapa prinsip penting, yakni:
- Dikotomi Kendali
Salah satu prinsip paling terkenal stoisisme, membedakan antara dua kelompok: Hal yang bisa dikendalikan (pikiran, nilai, pilihan, dan usaha) dan hal yang tidak bisa dikendalikan (cuaca, sudut pandang orang lain, dan hasil akhir yang bergantung pada banyak faktor).
Prinsip ini menunjukkan bahwa jika seseorang dapat fokus pada apa yang bisa dikendalikan, energi mental bisa menjadi lebih efektif.
- Kebajikan sebagai Tujuan Utama
Stoisisme juga percaya bahwa tujuan hidup sejati adalah hidup yang selaras dengan kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri. Bukan mengejar status, uang, atau pujian.
- Memento Mori
Prinsip satu ini sama artinya dengan mengingat kematian atau kefanaan hidup yang kemudian mampu membantu seseorang menentukan urutan prioritas.
- Amor Fati
Menerima takdir, begitulah inti dari prinsip ini. Bukan pasrah yang pasif, melainkan menerima kenyataan yang terjadi dan mencari cara terbaik untuk menghadapinya.
Baca Juga: Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal Tuntaskan Pembangunan Infrastruktur Bersumber Dana Desa
- Premeditation Malorum
Prinsip ini biasanya diwujudkan dengan cara membayangkan kemungkinan terburuk, sebuah teknik mental mempersiapkan diri terhadap masalah untuk mengurangi rasa terkejut dan dapat meresponnya dengan lebih efektif.
Sederhananya, stoisisme bukan soal menahan diri sampai mati rasa, ia menawarkan cara berpikir yang dapat membantu seseorang agar dirinya tidak mudah dikuasai perasaan.
Stoisisme telah menunjukkan meskipun manusia tidak dapat mengubah dunia dalam satu kali klik, mereka akan selalu bisa mengubah cara dirinya merespon. Hal tersebut juga seringkali sudah cukup untuk membuat hidup menjadi lebih ringan dan bermakna.
FANEZA/FADYA
Editor : Imron Arlado