JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Ribuan orang, mayoritas pelajar, mengalami keracunan massal usai mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.
Hingga Kamis siang (25/9/2025), tercatat lebih dari 1.300 orang menjadi korban, dan pemerintah daerah menetapkan kasus ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kebanyakan merupakan pelajar SD hingga SMA/SMK. Setidaknya lima siswa dari sekolah yang berbeda datang dengan keluhan sesak nafas, sakit perut, pusing, dan mual.
Mereka adalah siswa yang sempat menjalani perawatan Rabu kemarin (24/09). Kepala Puskesmas Cipongkor, Yuyun Sarihotimah, menyebut korban terus bertambah setiap hari.
“Sejak Senin hingga Rabu jumlahnya sudah 1.171 orang. Hari ini kembali bertambah,” ujarnya.
Tak hanya pelajar, dua ibu menyusui di Desa Cigombong juga mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi paket MBG. Dapur SPPG Neglasari, merupakan dapur pemasok santapan MBG, yang diduga menyebabkan keracunan massal di Kecamatan Cipongkor, pada Rabu (24/9).
Beberapa siswa mengaku mulai merasakan gejala beberapa jam setelah makan. Seorang siswi dari MA Syarif Hidayatullah mengatakan, “Awalnya pusing, lalu sakit di ulu hati, akhirnya muntah-muntah.”
Menu MBG hari itu berupa ayam, tahu, sayur, sambal, dan buah stroberi. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan, penanganan awal terjadinya kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan tanggung jawab pemerintah daerah (pemda).
Tito beralasan, pemda punya beragam fasilitas untuk penanganan awal kasus keracunan MBG.
"Yang merawat mereka pasti, kalau terjadi insiden yang pertama kali adalah dari otoritas daerah setempat seperti Pemda, (yang) punya rumah sakit, punya ambulans, kemudian punya tenaga kesehatan, (sistem) emergency," ucap Tito dalam siaran pers, Kamis (25/9/2025).
Ia menambahkan, Kemendagri memfasilitasi kerja sama antara Badan Gizi Nasional (BGN) dengan pemda agar program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu tetap berjalan baik.
“Ada 62 daerah 3T yang difokuskan bekerja sama dengan BGN. Di luar daerah itu, sudah ada satgas-satgas pendamping,” ujarnya.
Polda Jawa Barat sudah menurunkan tim penyidik untuk menelusuri sumber kontaminasi. Polisi bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, BPOM, dan BGN guna memastikan penyebab pasti keracunan.
Kantor Staf Presiden menilai lemahnya kepatuhan terhadap SOP dan pengawasan di lapangan menjadi faktor risiko utama.
Baca Juga: Aisar Khaled Diusir dari Bali, Singgung Pekerja Indonesia di Malaysia dan Picu Polemik Netizen
“Regulasinya ada, tapi implementasi dan pengawasan masih jauh dari ideal,” ujar staf KSP, Muhammad Qodari.
Pakar kesehatan menilai ada empat faktor utama penyebab keracunan MBG, yakni buruknya kebersihan bahan makanan, penyajian yang tidak sesuai suhu standar, kesalahan proses pengolahan, serta kontaminasi silang dari petugas penyaji.
Tri Yulia Setyoningrum/Linda
Editor : Imron Arlado