Jawa Pos Radar Mojokerto - Akhir-akhir ini, terdapat banyak keluhan terkait penggunaan QRIS yang disampaikan oleh para pedagang di Kota Malang.
Meskipun sistem pembayaran digital ini awalnya diharapkan dapat memperlancar transaksi baik pembeli maupun pedagang, kenyataannya, kondisi di lapangan tidak sesuai ideal yang diharapkan.
Keluhan Pedagang di Pasar
Sejumlah pedagang di Pasar Klojen melaporkan kesulitan saat menggunakan QRIS. Beberapa diantaranya merasa dirugikan akibat transaksi yang tidak berhasil, di mana uang yang dikirimkan oleh pembeli tidak masuk ke rekening mereka meskipun terpotong.
Salah satu contohnya adalah Lia, seorang penjual kue basah, yang telah mengalami masalah berkali-kali. Karena merasa trauma, ia akhirnya memutuskan untuk menempelkan pengumuman sederhana di tokonya yang bertuliskan: ''Hanya Uang Tunai''.
Kisah serupa juga dibagikan oleh Didik, pemilik kedai kopi. Meskipun ia masih menerima pembayaran melalui QRIS, ia seringkali harus menunggu beberapa hari sebelum dana tersebut masuk ke rekeningnya.
Tidak jarang, ia harus mencari cara agar usahanya tetap berjalan lancar meskipun ada keterlambatan dalam penerimaan dana.
Lebih lanjut, banyak pedagang mengungkapkan keberatan mengenai potongan biaya transaksi atau MDR (Merchant Discount Rate). Bagi pengusaha kecil, potongan sekecil apapun pun dapat menjadi beban yang signifikan karena margin keuntungan mereka yang sangat tipis.
BI Malang Menyampaikan Penjelasan
Menanggapi banyaknya pengaduan, Bank Indonesia (BI) Malang akhirnya memberikan tanggapan. BI menegaskan bahwa mereka siap memberikan bantuan jika ada pedagang yang menghadapi masalah dengan QRIS.
Pedagang dapat melaporkan masalah tersebut secara langsung kepada penyedia layanan pembayaran, seperti bank atau aplikasi dompet digital, paling lambat 24 jam setelah terjadinya transaksi yang bermasalah.
Jika permasalahan belum terselesaikan, pedagang dapat langsung mengunjungi BI Malang untuk mendapatkan mediasi. BI menekankan bahwa proses mediasi ini tidak dikenakan biaya.
Selain menyediakan layanan pengaduan, BI Malang juga berencana untuk lebih aktif dalam memberikan edukasi kepada para pedagang di pasar-pasar.
Tujuan dari langkah ini adalah agar pedagang tidak mengalami kesulitan terkait cara melakukan pengecekan transaksi, memahami biaya MDR, serta mengetahui cara melaporkan jika terdapat masalah yang dihadapi.
Harapan Pedagang
Untuk para pedagang, QRIS dipandang sebagai solusi yang praktis, karena memungkinkan pembeli untuk tidak membawa uang tunai. Meskipun demikian, mereka berharap agar sistem ini dapat beroperasi dengan lebih aman dan efisien.
Dana yang berasal dari pembeli sebaiknya dapat langsung diterima tanpa menunggu dalam jangka waktu yang lama dan biaya transaksi seharusnya lebih terjangkau.
Di sisi lain, para pedagang menginginkan adanya jaminan keamanan yang dapat melindungi mereka dari penipuan melalui bukti transfer yang tidak valid atau penggunaan QRIS yang tidak sah.
QRIS memiliki berbagai keuntungan, terutama di zaman digital seperti sekarang. Oleh karena itu, konsumen dapat melakukan pembayaran dengan lebih mudah, sementara penjual tidak perlu repot menyiapkan uang kembali.
Namun, jika permasalahan teknis dan biaya tidak segera teratasi, para pedagang berisiko kehilangan kepercayaan dan kembali memilih metode pembayaran tunai.
Pentingnya peran Bank Indonesia dan penyedia layanan pembayaran. Mereka perlu memastikan bahwa QRIS dapat memberikan kemudahan yang sebenarnya, bukan justru memperumit keadaan.
Digitalisasi pembayaran melalui QRIS merupakan langkah positif untuk memajukan perekonomian. Namun, agar manfaatnya dapat dirasakan, sistem ini perlu lebih ramah bagi para pedagang kecil.
Dengan adanya respon yang cepat dari Bank Indonesia Malang serta mediasi yang dilakukan, diharapkan keluhan para pedagang dapat diminimalisir dan di masa mendatang, QRIS benar-benar akan menjadi solusi yang praktis, bukan hanya menjadi sumber permasalahan. Leny Ramandhan Oktaviany/FADYA
Editor : Imron Arlado