JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Setiap orang tentu memiliki rasa percaya diri, sebuah sikap yang penting untuk membangun identitas, mengembangkan potensi, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Namun, ada kalanya rasa percaya diri berkembang menjadi sesuatu yang berlebihan hingga berubah menjadi obsesi terhadap diri sendiri. Kondisi inilah yang sering dikaitkan dengan gangguan narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Dan sebuah gangguan kepribadian yang ditandai dengan kebutuhan besar akan kekaguman, perasaan superior, serta kurangnya empati terhadap orang lain.
Gangguan narsistik bukan hanya sekedar rasa bangga pada diri sendiri. Pada dasarnya, percaya diri adalah hal sehat yang dibutuhkan setiap orang.
Namun, pada penderita NPD, rasa percaya diri tersebut seringkali rapuh dan bergantung pada validasi eksternal.
Baca Juga: Desa Gebangmalang, Kecamatan Mojoanyar Dirikan Omah Rembug sebagai Solusi Mengatasi Masalah Warga
Mereka membutuhkan pengakuan terus-menerus, merasa diri istimewah, dan mudah tersinggung ketika tidak mendapat perhatian atau pujian yang diinginkan.
Hal ini menciptakan ketegangan dalam hubungan sosial, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pertemanan.
Salah satu ciri utama gangguan narsistik adalah adanya perbedaan besar antara citra diri yang ditampilkan dengan kondisi emosional yang sebenarnya.
Banyak penderita NPD menampilkan diri sebagai pribadi yang penuh percaya diri, sukses, atau bahkan sempurna.
Namun, dibalik itu, mereka sering kali menyimpan rasa tidak aman, takut ditolak, atau merasa kurang berharga. Untuk menutupi perasaan tersebut, obsesi terhadap pencapaian, status, maupun penampilan menjadi cara mempertahankan citra diri.
Gangguan ini juga sering menimbulkan dampak serius dalam hubungan interpersonal. Kurangnya empati membuat penderita narsistik cenderung mengeksploitasi orang lain demi keuntungan pribadi.
Mereka bisa tampak sangat mempesona di awal perkenalan, tetapi seiring waktu, sikap manipulatif dan kebutuhan untuk selalu diistimewakan dapat merusak hubungan.
Pada akhirnya, orang-orang di sekitar mereka merasa lelah, diabaikan, atau bahkan terluka secara emosional.
Meski demikian, penting dipahami bahwa gangguan narsistik tidak sepenuhnya berarti seseorang tidak dapat berubah.
Dengan pendekatan psikoterapi, seperti terapi kognitif-perilaku, individu dengan NPD dapat belajar mengenali pola pikir dan emosi mereka.
Serta mengembangkan empati dan hubungan yang lebih sehat. Dukungan lingkungan sekitar, terutama dari keluarga dan orang terdekat, juga memiliki peran penting dalam proses pemulihan.
Masyarakat pun perlu memahami bahwa gangguan narsistik berbeda dengan sekadar sifat sombong atau percaya diri berlebihan. Ini adalah kondisi psikologis yang kompleks dan membutuhkan penanganan serius.
Edukasi mengenai kesehatan mental, kesadaran diri, serta batasan antara percaya diri yang sehat dan obsesi berlebihan dapat membantu kita memahami perbedaan tersebut dengan lebih baik.
Baca Juga: Usai Muncul Laporan MBG Tak Layak Konsumsi, Dewan Minta Dapur dan Wadah Dievaluasi
Pada akhirnya, menjaga keseimbangan antara rasa percaya diri dan kerendahan hati adalah kunci penting dalam kehidupan sosial. Percaya diri memang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan hidup,
Tetapi ketika berubah menjadi obsesi yang hanya berfokus pada diri sendiri, justru bisa menimbulkan penderitaan, baik bagi individu maupun orang-orang di sekitarnya.
Dengan mengenali gangguan narsistik lebih dalam, kita dapat belajar untuk lebih bijak dalam menilai diri, menghargai orang lain, serta membangun hubungan yang lebih sehat dan bermakna. AILEEN/Devi
Editor : Imron Arlado