JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Gangguan kesehatan mental memiliki beragam bentuk dan tingkat keparahan. Salah satunya adalah distimia, yang dalam istilah medis dikenal sebagai Persistent Depressive Disorder (PDD) atau gangguan depresi persisten.
Kondisi ini sering kali tidak mudah dikenali karena gejalanya tampak ringan jika dibandingkan dengan depresi mayor.
Namun, distimia justru berbahaya karena berlangsung dalam jangka panjang, bahkan bertahun-tahun, dan dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan.
Berbeda dengan depresi berat yang gejalanya tampak jelas dan lebih mengganggu aktivitas sehari-hari, distimia hadir secara perlahan dan halus.
Banyak orang yang menganggap perasaan sedih, kurang bersemangat, atau hilangnya minat sebagai bagian dari kepribadian atau akibat stres biasa.
Padahal, kondisi ini adalah tanda adanya gangguan psikologis yang memerlukan perhatian. Orang dengan distimia biasanya tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, bersekolah, atau berinteraksi sosial.
Baca Juga: Bertani Asyik dengan Urban Farming di Tengah Hiruk-pikuk Perkotaan
Akan tetapi, mereka menjalaninya dengan energi rendah, motivasi yang kurang, serta perasaan murung yang terus-menerus. Karena gejalanya samar, distimia sering dianggap sebagai “kesedihan bawaan” atau sifat melankolis.
Padahal, jika dibiarkan, gangguan ini bisa berkembang menjadi depresi berat dan meningkatkan resiko munculnya masalah kesehatan mental lain.
Baca Juga: Desa Gebangmalang, Kecamatan Mojoanyar Dirikan Omah Rembug sebagai Solusi Mengatasi Masalah Warga
Cara Mengenali Distimia
Untuk membantu membedakan antara kesedihan biasa dan distimia, berikut beberapa tanda yang dapat menjadi perhatian:
- Perasaan sedih atau murung yang berlangsung lama - Bukan hanya hitungan hari atau minggu, melainkan bisa bertahan lebih dari dua tahun pada orang dewasa dan setidaknya satu tahun pada remaja.
- Hilang minat pada aktivitas yang biasanya menyenangkan - Hal-hal kecil yang dulu membawa kebahagiaan, kini terasa hambar atau tidak lagi menarik.
- Energi rendah dan cepat lelah - Meskipun tidak melakukan aktivitas berat, penderita distimia sering merasa kehabisan tenaga.
- Kesulitan berkonsentrasi dan membuat keputusan - Pikiran terasa lambat, sulit fokus, dan ragu-ragu dalam mengambil langkah kecil sekalipun.
- Rasa tidak berharga atau putus asa - Pikiran negatif tentang diri sendiri muncul berulang kali, seakan tidak ada masa depan yang lebih baik.
- Gangguan tidur dan pola makan - Bisa berupa sulit tidur, terlalu banyak tidur, kurang nafsu makan, atau justru makan berlebihan.
Mengapa Distimia Sering Tidak Disadari?
Distimia sering terabaikan karena gejalanya tidak terlalu mencolok. Orang di sekitarnya mungkin melihat penderita sebagai pribadi yang “serius”, “pendiam”, atau “kurang ceria”.
Bahkan, penderita sendiri kerap menganggap kondisi tersebut sebagai hal normal dalam hidupnya. Inilah alasan pentingnya edukasi tentang distimia, agar masyarakat lebih peka terhadap tanda-tandanya.
Penanganan dan Harapan
Meskipun berlangsung lama, distimia bukanlah kondisi yang tidak bisa diatasi. Dengan dukungan yang tepat, pengidapnya dapat kembali menjalani hidup dengan lebih berkualitas.
Konseling psikologis, terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavioral Therapy), serta pengobatan medis jika diperlukan, bisa membantu meredakan gejala.
Selain itu, pola hidup sehat, olahraga rutin, tidur cukup, dan menjaga hubungan sosial yang baik juga sangat berperan dalam pemulihan. AILEEN/Devi