Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengenal Distimia atau Gangguan Depresi Persisten yang Sering Tak Disadari dan Cara Mengenalinya

Imron Arlado • Sabtu, 20 September 2025 | 23:56 WIB

 

Gangguan kesehatan mental memiliki beragam bentuk dan tingkat keparahan. sumber foto: pinterets
Gangguan kesehatan mental memiliki beragam bentuk dan tingkat keparahan. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Gangguan kesehatan mental memiliki beragam bentuk dan tingkat keparahan. Salah satunya adalah distimia, yang dalam istilah medis dikenal sebagai Persistent Depressive Disorder (PDD) atau gangguan depresi persisten.

Kondisi ini sering kali tidak mudah dikenali karena gejalanya tampak ringan jika dibandingkan dengan depresi mayor.

Namun, distimia justru berbahaya karena berlangsung dalam jangka panjang, bahkan bertahun-tahun, dan dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan.

Berbeda dengan depresi berat yang gejalanya tampak jelas dan lebih mengganggu aktivitas sehari-hari, distimia hadir secara perlahan dan halus. 

Banyak orang yang menganggap perasaan sedih, kurang bersemangat, atau hilangnya minat sebagai bagian dari kepribadian atau akibat stres biasa. 

Padahal, kondisi ini adalah tanda adanya gangguan psikologis yang memerlukan perhatian. Orang dengan distimia biasanya tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, bersekolah, atau berinteraksi sosial.

 

Baca Juga: Bertani Asyik dengan Urban Farming di Tengah Hiruk-pikuk Perkotaan

 

Akan tetapi, mereka menjalaninya dengan energi rendah, motivasi yang kurang, serta perasaan murung yang terus-menerus. Karena gejalanya samar, distimia sering dianggap sebagai “kesedihan bawaan” atau sifat melankolis. 

Padahal, jika dibiarkan, gangguan ini bisa berkembang menjadi depresi berat dan meningkatkan resiko munculnya masalah kesehatan mental lain.

Baca Juga: Desa Gebangmalang, Kecamatan Mojoanyar Dirikan Omah Rembug sebagai Solusi Mengatasi Masalah Warga

 

Cara Mengenali Distimia 

Untuk membantu membedakan antara kesedihan biasa dan distimia, berikut beberapa tanda yang dapat menjadi perhatian:

 

Mengapa Distimia Sering Tidak Disadari?

Distimia sering terabaikan karena gejalanya tidak terlalu mencolok. Orang di sekitarnya mungkin melihat penderita sebagai pribadi yang “serius”, “pendiam”, atau “kurang ceria”. 

Bahkan, penderita sendiri kerap menganggap kondisi tersebut sebagai hal normal dalam hidupnya. Inilah alasan pentingnya edukasi tentang distimia, agar masyarakat lebih peka terhadap tanda-tandanya.

 

 

Penanganan dan Harapan

Meskipun berlangsung lama, distimia bukanlah kondisi yang tidak bisa diatasi. Dengan dukungan yang tepat, pengidapnya dapat kembali menjalani hidup dengan lebih berkualitas. 

Konseling psikologis, terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavioral Therapy), serta pengobatan medis jika diperlukan, bisa membantu meredakan gejala. 

Selain itu, pola hidup sehat, olahraga rutin, tidur cukup, dan menjaga hubungan sosial yang baik juga sangat berperan dalam pemulihan. AILEEN/Devi



Editor : Imron Arlado
#psikologi #gangguan depresi #distimia #Persistent Depressive Disorder #Berinteraksi Sosial #depresi #melankolis #kesehatan mental