JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Sebuah peristiwa yang menyentuh terjadi di Taman Kanak-kanak (TK) di Sangkrah, Kota Solo, ketika seorang anak laki-laki mengalami cedera serius di area genitalnya akibat "bermain sunatan" dengan teman saat pelajaran prakarya di sekolah.
Kejadian itu terjadi selama kelas prakarya pada hari Kamis, 11 September 2025, ketika siswa melakukan aktivitas potong-memotong di bawah pengawasan guru.
Akan tetapi, sementara guru sedang membantu anak-anak lain untuk mencuci tangan, seorang siswa mengambil gunting kembali dan tanpa sadar melukai teman sekelasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dwi Ariyatno, menyatakan bahwa tindakan tersebut diduga terjadi karena anak yang melukai tidak memahami dengan baik konsep sunat, melainkan hanya meniru perilaku tanpa menyadari risikonya.
Korban segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang mendesak. Meskipun terluka cukup parah, kondisinya kini sudah membaik, dan dia bahkan telah menjalani sunat sebagai bagian dari proses penyembuhan medis.
Dinas Pendidikan Solo menyampaikan bahwa pengaruh psikologis juga menjadi perhatian penting, mengingat insiden itu sempat membuat korban merasa takut untuk pergi ke sekolah dan memilih untuk belajar dari rumah untuk sementara.
Pihak sekolah serta Dinas Pendidikan Solo dengan cepat menanggapi insiden ini dengan melakukan mediasi dan penyelidikan yang mendetail.
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menyatakan komitmen mereka dalam mendukung pemulihan korban dan memastikan keselamatan semua anak di sekolah.
Investigasi lanjutan dilakukan untuk mendapatkan rincian lengkap tentang kejadian dan mencegah hal serupa berlangsung lagi.
Polisi dari Sektor Pasar Kliwon Solo juga terlibat dalam penyelidikan dan memastikan bahwa insiden ini adalah kecelakaan yang disebabkan oleh ketidaktahuan anak-anak, tanpa ada unsur kekerasan atau niat jahat.
Alat yang terlibat adalah gunting standar yang digunakan untuk prakarya di kelas, dan kejadian ini dipicu oleh kurangnya pengawasan saat anak-anak bermain peran sebagai juru sunat.
Peristiwa ini memberikan pelajaran kepada sekolah untuk meningkatkan pengawasan ketika anak-anak menggunakan alat tajam, khususnya selama kegiatan prakarya yang melibatkan interaksi antara siswa yang masih sangat muda.
Pendidikan mengenai potensi bahaya penggunaan alat seperti gunting dan komunikasi dengan orang tua kini semakin diperkuat untuk mencegah terulangnya kejadian yang tidak diinginkan.
Saat ini, korban sedang menjalani perawatan lanjutan dan mendapatkan dukungan psikologis, dengan harapan agar pemulihan fisik dan mentalnya berjalan dengan baik demi masa depan yang lebih cerah untuk anak tersebut. Dzafir Kirana Adelia/Devi
Editor : Imron Arlado