Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengaktifkan Indera, Surabaya Menjadi Penyelenggara Pameran Seni Antar Generasi

Imron Arlado • Sabtu, 20 September 2025 | 03:34 WIB
Nada Merupa di Surabaya menampilkan 17 seniman dari berbagai generasi, menggabungkan seni visual dan musik menjadi satu pengalaman.
Nada Merupa di Surabaya menampilkan 17 seniman dari berbagai generasi, menggabungkan seni visual dan musik menjadi satu pengalaman.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Surabaya sekali lagi menarik perhatian berkat adanya pameran seni multi medium bertajuk Nada Merupa.

Kegiatan ini menawarkan pertemuan istimewa antara musik dan seni visual, memberikan pengalaman yang tidak hanya memanjakan penglihatan dan pendengaran, tetapi juga mengundang pengunjung untuk berpikir lebih mendalam tentang makna sebuah karya seni.

Pameran yang diadakan pada pertengahan bulan September 2025 ini menghadirkan karya dari 17 musisi terkenal, mencakup berbagai generasi, baik yang lebih tua maupun yang lebih muda.

Tokoh-tokoh terkenal seperti Sam Bimbo, Guruh Soekarno Putra, dan Sudjiwo Tejo juga berkontribusi dengan karya-karya mereka.

Selain itu, pameran ini tidak hanya menampilkan musik, tetapi juga karya seni visual yang menggambarkan perjalanan mereka di dunia seni.

 

 

Frans Sartono, sebagai kurator pameran, menjelaskan bahwa tujuan utama Nada Merupa adalah memberikan tempat bagi kolaborasi lintas disiplin seni. Musik tidak hanya didengarkan, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk visual.

Sedangkan karya seni rupa tidak hanya dipamerkan, tetapi juga berinteraksi dengan melodi dan ritme yang mengisi ruang. Kombinasi ini menciptakan suasana yang unik dan berbeda dibandingkan dengan pameran seni pada umumnya.

Di setiap pojok galeri, pengunjung dapat menemukan karya seni visual yang memiliki hubungan erat dengan musik yang mendampinginya.

Warna, bentuk, dan tekstur seolah mengajak nada yang dimainkan, menciptakan harmoni serta interaksi antara elemen visual dan suara.

Beberapa karya bahkan disajikan dalam format instalasi yang memungkinkan penonton merasakan musik dengan cara yang lebih mendalam.

Keunikan lainnya adalah cara musisi mengungkapkan diri mereka melalui medium yang berbeda. Selama ini, orang mengenal mereka melalui lagu-lagu, melodi, dan lirik.

Namun di Nada Merupa, para musisi menampilkan perspektif lain, bagaimana mereka memandang dunia melalui garis, warna, dan komposisi.

Hal ini menjadikan pameran menjadi tempat yang lebih personal untuk memahami perjalanan kreativitas musisi, sekaligus membuka dialog tentang batasan seni.

Bagi sebagian pengunjung, pengalaman yang disuguhkan memberikan nuansa baru. Mereka tidak hanya hadir untuk menikmati melodi atau sekadar melihat karya seni, namun juga diajak untuk merasakan pengalaman estetika yang lebih dalam.

Beberapa mengistilahkan ini sebagai “pengalaman ganda” yang ​​memanjakan telinga dengan musik yang bisa dilihat, serta menikmati seni rupa yang dapat didengarkan.

 

 

Lebih dari sekedar hiburan, Nada Merupa muncul sebagai pengingat akan pentingnya keberadaan seni dalam kehidupan sehari-hari.

Seni bukan hanya sebuah benda yang cantik untuk dipajang atau didengar, tetapi juga merupakan bahasa yang mampu menjembatani berbagai generasi, menghubungkan perasaan, dan memicu pemikiran.

Di tengah derasnya arus hiburan digital yang instan, acara seperti ini menjadi sarana berharga untuk berhenti sejenak, tempat di mana para penggemar seni dapat merasakan kembali keotentikan sebuah karya.

Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas, seni merupakan elemen dari kehidupan yang selalu ada sepanjang waktu.

Seni ada bukan hanya untuk memberikan keindahan, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran, memperkaya jiwa, dan menciptakan komunikasi antara seniman dan penikmatnya.

Dengan variasi musik dan karya yang dipamerkan, Nada Merupa menunjukkan bahwa seni selalu dapat menemukan metode baru agar tetap signifikan.

Pameran ini menjadi bukti bahwa ketika musik dan seni visual bersatu, muncul pengalaman yang lebih luas, menyentuh, dan meninggalkan kesan yang mendalam.  Leny Ramandhan Oktaviany/Devi

Editor : Imron Arlado
#nada merupa #surabaya #pameran seni #Dunia Seni #Sam Bimbo #sudjiwo tedjo #karya seni #Guruh Soekarno Putra