JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di balik keindahan batik Laweyan dan aroma mistis tanah Jawa, tersimpan sebuah kisah kelam tentang cinta yang tak direstui dan kutukan yang tak terhindarkan.
Perempuan Pembawa Sial, film horor terbaru karya sutradara Rako Prijanto, membawa penonton menyelami legenda bahu Laweyan mitos perempuan yang diyakini membawa petaka bagi pria yang mencintainya.
Melalui tokoh Mirah, seorang perempuan misterius yang terjebak dalam stigma dan dendam masa lalu, film ini mengajak kita bertanya, apakah cinta cukup kuat untuk melawan takdir?
Mirah, Perempuan yang Dihantui Takdir
Mirah (diperankan oleh Yasamin Jasem) adalah seorang perempuan muda yang hidup dalam bayang-bayang stigma masyarakat.
Diyakini sebagai pembawa kutukan bahu Laweyan, sebuah mitos Jawa yang menyebutkan bahwa perempuan tertentu dapat membawa kemalangan bagi pria yang mencintainya.
Mirah bukan hanya dikucilkan, tapi juga menjadi simbol ketakutan dan kebencian di lingkungannya. Namun di balik tatapan dingin dan sikap tertutupnya, Mirah menyimpan luka mendalam.
Mirah tidak memilih takdirnya, tapi dipaksa untuk menjalani hidup yang penuh penderitaan. Ketika cinta datang menghampiri, Mirah harus memilih antara menerima kebahagiaan sesaat atau menghindari kehancuran yang mungkin terjadi.
Cinta yang Tak Direstui
Film Perempuan Pembawa Sial mengisahkan Mirah, seorang perempuan yang diyakini membawa kutukan bahu Laweyan, mitos Jawa yang menyebut perempuan tertentu bisa membawa malapetaka bagi pria yang mencintainya.
Ketika Mirah menjalin hubungan dengan pria yang tulus, cinta mereka menghadapi penolakan dari keluarga, masyarakat, dan kekuatan tak kasat mata yang terus mengintai.
Kutukan itu bukan sekadar cerita, tapi hidup dalam setiap langkah Mirah, menjadikan cinta sebagai kekuatan yang bisa menyembuhkan sekaligus menghancurkan.
Film ini menyuguhkan horor psikologis yang menyentuh, dengan latar budaya Jawa yang kental, dan menggambarkan perjuangan melawan stigma serta takdir kelam
Horor yang Menyentuh Nurani
Berbeda dari film horor konvensional, Perempuan Pembawa Sial tidak hanya mengandalkan jump scare atau visual menyeramkan.
Film ini menyentuh sisi psikologis dan sosial, mengajak penonton merenungkan bagaimana stigma dan mitos bisa menghancurkan kehidupan seseorang.
Dengan latar budaya Jawa yang kental, sinematografi yang memukau, dan musik yang menghantui, film ini berhasil menciptakan atmosfer yang mendalam dan menggugah.
Perempuan Pembawa Sial bukan sekadar film horor. Tapi cermin dari masyarakat yang masih percaya pada takhayul dan stigma. Melalui kisah Mirah, kita diajak untuk melihat lebih dalam, bahwa di balik label “pembawa sial”, ada manusia yang ingin dicintai dan dimengerti.
ANGELINA/Devi
Editor : Imron Arlado