Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Memahami OCD sebagai Gangguan Psikologis yang Sering Disalahpahami dalam Kehidupan Sehari-hari

Imron Arlado • Selasa, 16 September 2025 | 20:16 WIB

 

Obsessive Compulsive Disorder (OCD) merupakan salah satu gangguan psikologis yang sering kali dipandang sebelah mata dan disalahartikan oleh masyarakat.  sumber foto: pinterets
Obsessive Compulsive Disorder (OCD) merupakan salah satu gangguan psikologis yang sering kali dipandang sebelah mata dan disalahartikan oleh masyarakat. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Obsessive Compulsive Disorder (OCD) merupakan salah satu gangguan psikologis yang sering kali dipandang sebelah mata dan disalahartikan oleh masyarakat.

Tidak sedikit orang yang menyamakan OCD dengan sifat perfeksionis, rapi, atau sekadar suka kebersihan. 

Padahal OCD jauh lebih kompleks dan memiliki dampak besar pada kualitas hidup penderitanya.

Kesalahpahaman inilah yang membuat banyak individu dengan OCD merasa terabaikan, bahkan dianggap berlebihan ketika berjuang menghadapi kondisi mereka.

Secara sederhana, OCD ditandai dengan adanya obsesi berupa pikiran yang tidak diinginkan, berulang, dan sulit dikendalikan, serta kompulsi berupa perilaku yang dilakukan secara berulang untuk meredakan kecemasan akibat obsesi tersebut. 

Contohnya, seseorang dengan OCD mungkin merasa cemas luar biasa jika tidak mencuci tangan berkali-kali, bukan hanya karena ingin bersih, tetapi karena muncul pikiran intrusif bahwa dirinya bisa membahayakan orang lain jika tidak melakukannya. 

Dalam kasus lain, penderita OCD bisa terjebak pada perilaku menghitung, mengecek pintu berulang kali, atau bahkan diliputi rasa bersalah yang tidak masuk akal.

Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, OCD kerap dijadikan bahan candaan. Ungkapan seperti “Aku OCD banget, ya, suka rapih!” justru memperkuat stigma dan memperkecil pemahaman masyarakat tentang betapa seriusnya gangguan ini. 

Akibatnya, penderita OCD sering merasa tidak dimengerti, sehingga enggan mencari bantuan profesional karena khawatir dianggap berlebihan atau hanya mencari perhatian.

 

Baca Juga: Efektivitas Program Bantuan Sosial dalam Menjangkau Masyarakat yang Membutuhkan

 

Faktanya, OCD dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari produktivitas, hubungan sosial, hingga kesehatan mental secara keseluruhan. 

Rasa cemas yang terus-menerus, rasa bersalah berlebihan, dan ritual kompulsif yang memakan waktu bisa membuat penderita sulit menjalani aktivitas normal.

Bahkan, tidak jarang OCD disertai dengan gangguan lain seperti depresi atau kecemasan sosial.

Penting untuk disadari bahwa OCD bukanlah kelemahan pribadi atau sekadar kebiasaan buruk yang bisa dihilangkan dengan niat kuat.

OCD adalah gangguan psikologis yang memerlukan pemahaman, dukungan, dan dalam banyak kasus, intervensi medis seperti terapi perilaku kognitif (CBT) atau pengobatan tertentu. 

Dengan perawatan yang tepat, penderita OCD dapat belajar mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Masyarakat perlu lebih membuka diri terhadap pemahaman yang benar mengenai OCD.

Alih-alih menstigma atau menjadikannya lelucon, langkah kecil seperti mendengarkan dengan empati, menghindari penilaian, dan mendorong penderita untuk mencari bantuan profesional bisa menjadi dukungan yang sangat berarti. 

 

Baca Juga: Besok, Sidang Pembuktian Korupsi Kapal TBM Mojokerto Digelar di PN Tipikor Surabaya

 

Edukasi publik juga penting agar persepsi tentang OCD tidak lagi terbatas pada stereotip rapi atau bersih, melainkan dipahami sebagai kondisi medis serius yang membutuhkan perhatian.

Dengan pemahaman yang lebih baik, kita dapat membantu menciptakan lingkungan yang inklusif bagi penderita OCD.

Kesadaran bahwa OCD bukan pilihan, melainkan sebuah tantangan yang nyata, akan membuka ruang bagi mereka untuk mendapatkan dukungan, bukan cemoohan.

Pada akhirnya, memahami OCD bukan hanya soal empati, tetapi juga langkah nyata untuk mendukung kesehatan mental secara keseluruhan di masyarakat. AILEEN/Wulandari

Editor : Imron Arlado
#gangguan psikologis #produktifitas #kecemasan sosial #mental health #stigma #ocd #obsesi #perfeksionis