Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengukur Dampak Nyata Bansos, Antara Harapan untuk Mandiri dan Ancaman Ketergantungan

Imron Arlado • Selasa, 16 September 2025 | 20:12 WIB
Hampir seluruh negara di dunia ini memiliki salah satu program yang sama, yakni bantuan sosial atau bansos. Sumber foto: Google
Hampir seluruh negara di dunia ini memiliki salah satu program yang sama, yakni bantuan sosial atau bansos. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Hampir seluruh negara di dunia ini memiliki salah satu program yang sama, yakni bantuan sosial atau bansos, sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap kesejahteraan sekaligus melindungi warganya.

Program ini umumnya dirancang dan ditujukan kepada keluarga yang berada di kalangan masyarakat rentan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar hidup, terutama saat menghadapi kondisi sulit seperti krisis ekonomi, bencana, maupun pandemi.

Begitu pula di Indonesia, program bantuan sosial telah menjadi salah satu komponen penting dalam rangkaian kebijakan sosial dan ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengurangi angka kemiskinan.

Di Indonesia cukup banyak jenis bantuan sosial yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai atau BPNT, dan Bantuan Langsung Tunai yang juga akrab disebut BLT.

 

Baca Juga: Even Pelukis Muda Merdeka Ditutup dengan OTS Lima Perupa

 

Namun, di balik manfaatnya yang sudah bisa dirasakan dalam jangka pendek, terdapat pertanyaan yang lebih dalam tentang program ini dari berbagai kalangan masyarakat yang kerap kali menjadi sorotan penting ketika masyarakat membicarakan dampak bansos di Indonesia.

Para masyarakat mulai mempertanyakan apakah bantuan sosial benar-benar efektif dalam mengurangi angka kemiskinan berjangka panjang atau justru membuat penerimanya menjadi menggantungkan hidupnya pada bantuan pemerintah?

Manfaat bantuan sosial yang paling nyata adalah perlindungan terhadap daya konsumsi dan ekonomi rumah tangga miskin.

Dengan bantuan ini, keluarga penerima bansos dapat memastikan kebutuhan pangan keluarga sehari-hari tetap terpenuhi, sehingga mereka tidak jatuh pada situasi rawan kelaparan.

Program bantuan sosial seperti PKH yang berfokus pada keluarga dan anak bersekolah memberikan dampak positif berupa peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan dasar.

 

Baca Juga: Efektivitas Program Bantuan Sosial dalam Menjangkau Masyarakat yang Membutuhkan

 

Selain itu, dana bansos juga mengalir pada lingkungan sekitar seperti pasar lokal. Aliran dana bansos yang digunakan di pasar lokal turut berperan dalam menciptakan aktivitas ekonomi kecil, dari pedagang warung hingga pelaku usaha mikro (UMKM).

Keberadaan program bantuan sosial ini juga kerap kali menjadi titik perdebatan masyarakat tentang perannya sebagai solusi darurat atau bantuan jangka panjang.

Sejak awal diresmikan, bantuan sosial telah diposisikan sebagai alat bantu dalam kondisi darurat. Contohnya seperti ketika masyarakat mengalami keterbatasan ekonomi, kehilangan pekerjaan, hingga bencana alam.

Dalam keadaan seperti itu, program bantuan ini berfungsi sebagai penyangga agar kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi.

Akan tetapi, di sisi lain, sebagian masyarakat berpendapat bahwa jika dilihat dalam jangka panjang peran bansos seharusnya tidak berhenti pada fungsi dan konsep penyelamatan sesaat atau darurat.

Menurut sebagian masyarakat, bantuan sosial idealnya mampu menjadi pijakan bagi keluarga penerima untuk keluar dari belenggu kemiskinan, meningkatkan kualitas hidup, dan mendorong mereka menuju kemandirian ekonomi.

Sementara itu, munculnya resiko ketergantungan masyarakat terhadap program bantuan sosial ini dipicu oleh kualitas bantuan yang hanya difokuskan pada konsumsi jangka pendek.

Sehingga tidak ada dorongan bagi masyarakat untuk melakukan investasi pada usaha produktif ataupun peningkatan kapasitas diri.

Selain itu masalah lain seperti ketidakaturan data penerima bantuan juga bisa menimbulkan resiko besar.

 

Baca Juga: Besok, Sidang Pembuktian Korupsi Kapal TBM Mojokerto Digelar di PN Tipikor Surabaya

 

Ketidakaturan data ini umumnya muncul karena adanya keluarga yang sebenarnya sudah mampu tetapi masih menerima bantuan, sementara keluarga yang benar-benar membutuhkan justru terlewat.

Resiko dan masalah tersebutlah yang kemudian menunjukkan bahwa keberhasilan bansos tidak bisa jika hanya diukur dari jumlah penerima, tetapi juga dari arah perubahan perilaku dan kondisi ekonomi mereka.

Faktor penentu kualitas dampak bansos ini juga meliputi beberapa faktor, yakni akurasi data, efektivitas penyaluran, serta kemampuan program dalam mendorong kemandirian masyarakat agar manfaatnya lebih berkelanjutan.

Jika dirancang dan dijalankan secara tepat, bantuan sosial tidak hanya berguna sebagai alat bantu sementara, tetapi juga investasi sosial yang mampu memutus rantai kemiskinan dan membuka jalan bagi masyarakat untuk menuju kehidupan yang lebih mandiri.

FANEZA/Wulandari

Editor : Imron Arlado
#Resiko #bansos #Ketergantungan #bantuan sosial #faktor penentu kualitas #ketidakaturan data #dampak positif #manfaat