JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki beragam tradisi, budaya, gaya hidup, hingga tata busana yang kuat dan memiliki makna sosial.
Mulai dari festival tahunan hingga kerajinan tangan yang terus dipelihara secara turun-temurun.
Salah satu warisan budaya dan tradisi Jepang yang paling ikonik dan sering menjadi pertanyaan orang adalah budaya oiran yang kini kerap kali dipentaskan ulang melalui prosesi sakral yang disebut parade Oiran Dochu atau prosesi berjalan oiran.
Sebuah parade yang ditujukan untuk perekaan ulang prosesi jalan kaki para oiran dari periode Edo pada sekitar tahun 1603-1867 di Jepang.
Parade oiran dochu ini dilakukan ketika seorang oiran dipamerkan atau hendak berpindah lokasi menemui pelanggan penting.
Ia berjalan di depan banyak rombongan sebagai bentuk dari menunjukkan status, kemewahan, dan daya tarik kepada publik.
Dalam prosesi budaya oiran dochu tersebut yang paling sering menjadi perhatian adalah pemandangan seorang oiran yang berjalan dengan perlahan dan anggun.
Oiran yang tengah melaksanakan parade ini biasanya mengenakan kimono berat, memakai sandal kayu yang tinggi dan besar, dipayungi, serta dilayani oleh rombongan pengiring.
Parade oiran dochu menjadi sebuah tontonan sakral yang menarik perhatian karena tatanan busana serta prosesnya yang unik dan sangat berbeda dari pakaian serta kegiatan sehari-hari.
Sementara itu, oiran adalah seorang perempuan yang menempati kelas atas atau posisi tertinggi di dunia hiburan dan kesenian Jepang pada era Edo.
Baca Juga: Mengenal Gaya Hidup Gen Z Dari Tren Viral hingga Keseharian yang Otentik
Oiran memiliki status sosial dan peran yang kompleks daripada pelacur biasa. Selain melayani, mereka juga diharuskan untuk menguasai seni-seni tradisional Jepang, seperti tari, musik, puisi, hingga kemampuan berbincang cerdas dan kritis.
Hal tersebut menunjukkan bahwa meski kegiatannya merupakan prostitusi tingkat tinggi, oiran juga berfungsi sebagai simbol budaya dan intelektualitas pada masanya.
Para oiran juga seringkali disebut sebagai courtesans yang berarti seorang wanita penghibur kelas atas dengan pakaian sangat mewah dan memakai sandal kayu serta aksesoris berukuran besar dan tinggi.
Posisinya yang menempati kelas atas juga berpengaruh dalam tarif dan akses oiran yang sangat mahal, karena itu hampir seluruh klien oiran berasal dari kalangan kaya yang berpengaruh.
Meski kegiatan aslinya berhubungan dengan prostitusi kelas tinggi, para oiran juga dihormati sebagai figur budaya dan estetika pada masanya.
Dalam pertunjukan oiran dochu, para oiran biasanya mengenakan kimono yang berlapis tebal dengan banyak ornamen sehingga keseluruhan pakaian menjadi berat. Bahkan dalam catatan sejarah disebut beratnya mencapai puluhan kilogram.
Selain itu, ciri khas lain dari oiran yang membedakannya dengan gaya kebanyakan wanita adalah obi atau sabuk tradisional Jepang yang diikat di depan, bukan di punggung seperti kebanyakan obi modern.
Tata rambut yang sangat rumit model sanggul berukuran besar dengan gaya tradisional dan dipasangi banyak aksesoris rambut atau kanzashi dari bahan mewah serta riasan wajah yang tegas dipulas putih (oshiroi) dengan warna bibir merah merona, memberi kesan megah, formal, dan dramatis yang khas.
Tak berhenti di situ, bagian paling unik dari tatanan busana oiran adalah penggunaan sandal berukuran besar dan tinggi yang bernama koma-geta.
Ukuran tinggi sandal ini biasanya sekitar 20 cm yang memperlihatkan cara berjalan yang sangat khusus dan khas. Langkahnya kecil dan perlahan sehingga terlihat anggun namun tidak praktis.
Baca Juga: Pemadaman Selama 6 jam Akan kembali Menyasar Beberapa Wilayah di Kota Mojokerto
Beberapa orang juga menyebut gaya berjalan oiran menyerupai pola angka delapan atau gerakan sliding yang juga disebut dengan suri-ashi. Gerakan ini biasanya ditampilkan untuk menunjukkan bahwa perempuan itu berada dalam posisi berkelas.
Saat ini parade oiran dochu kerap kali ditemukan dalam festival budaya di beberapa daerah, misalnya parade terkenal seperti yang rutin diadakan di Bunsui. Di mana beberapa wanita tampil sebagai oiran dan diiringi oleh puluhan pengikut.
Biasanya parade ini juga ditemukan dalam acara reenactment atau acara hiburan edukasi lain di Tokyo maupun kota-kota lain yang menonjolkan warisan Edo.
Parade oiran dochu menampilkan kombinasi antara keindahan visual dan lapisan makna sosial historis melalui properti atau ornamen yang seakan bekerjasama untuk menyampaikan pesan tentang status dan estetika di zaman Edo.
Publik bahkan menganggap bahwa melihat oiran berjalan sama dengan melihat sepotong sejarah sosial yang dikemas dalam bentuk seni panggung jalanan.
FANEZA/Devi
Editor : Imron Arlado