JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Sejak konflik yang melibatkan Palestina dengan Israel yang terjadi di Palestina terus memanas dan penderitaan rakyat Gaza terus disiarkan di seluruh dunia, perhatian masyarakat internasional semakin tajam tertuju pada isu kemanusiaan ini.
Situasi yang semakin tragis tersebut membuat masyarakat sadar bahwa tragedi yang terjadi bukan sekedar konflik bersenjata.
Melainkan konflik yang telah memasuki kategori genosida yang dilakukan oleh kelompok zionis terhadap bangsa Palestina.
Sementara itu, genosida adalah sebuah tindak kejahatan untuk menghancurkan dan memusnahkan sebagian hingga seluruh kelompok nasional, etnis, ras, atau agama.
Sedangkan zionis adalah seseorang yang mendukung gerakan genosida. Sejak saat itulah, sudut pandang orang-orang dalam menyikapi kejadian ini mulai terbelah.
Ada yang secara terang-terangan mendukung gerakan genosida Israel dan kebijakan militernya, ada pula yang memihak Palestina dengan membantu menyerukan keadilan, kemerdekaan, dan kemanusiaan.
Tak hanya individu masyarakat, beberapa perusahaan dan brand ternama juga terseret dalam kontroversi ini dan dianggap mendukung gerakan genosida yang secara otomatis termasuk dalam kategori zionis.
Beberapa brand besar internasional diketahui memberi dukungan secara langsung maupun tidak langsung kepada Israel melalui bantuan logistik, finansial, dan lainnya.
Maka dari itu, para masyarakat di seluruh dunia menjadi semakin kritis dengan melakukan gerakan boikot terhadap perusahaan maupun brand-brand yang dianggap terkait dalam gerakan zionis.
Dalam konteks inilah, muncul kabar terbaru tentang seorang anggota boyband Neo Technology Culture atau NCT bernama Mark Lee dari agensi besar SM Entertainment kembali menghebohkan media.
Kabar tersebut bukan berisi tentang karya ataupun prestasi barunya, melainkan kabar tentang kolaborasinya dengan salah satu brand makanan besar asal Amerika, yakni McDonald's.
Berita ini dengan cepat tersebar dan menuai berbagai reaksi keras dari kalangan sebagian besar penggemar di seluruh dunia.
Hal ini dikarenakan McDonald's telah menjadi sasaran boikot di berbagai gerakan pro-Palestina sejak beredarnya kabar bahwa cabang McDonald's yang berada di Israel melakukan aksi nyata dengan membagikan makanan gratis untuk tentara Israel yang saat itu tengah melancarkan serangan ke Palestina.
Dari aksi tersebut, publik kemudian menilai McDonald's terlibat sebagai brand yang mendukung zionisme sekaligus genosida dan gerakan boikot McDonald's di hampir seluruh negara, termasuk Indonesia, semakin menguat.
Publik juga menganggap bahwa seseorang yang membeli produk McDonald's sama dengan ikut serta memberi keuntungan serta dukungan kepada perusahaan yang salah satu cabangnya mendukung IDF, yakni pasukan pertahanan Israel.
Berita yang beredar tentang kasus ini di media sosial masih didominasi oleh tanggapan dan reaksi fans karena hingga sekarang masih belum ada konfirmasi ataupun klarifikasi resmi mengenai detail kolaborasi yang dikeluarkan oleh pihak yang terlibat.
Beredarnya dugaan kolaborasi tersebut muncul dari unggahan poster promosi di ... yang menunjukkan foto Mark Lee dan elemen visual produk terbaru McDonald's.
Berita awal dan penyebaran kabar ini juga banyak berasal dari unggahan penggemar dan komunitas fandom yang mengatakan masih belum ada konfirmasi lebih lanjut yang resmi dari pihak agensi, artis, dan brand.
Gerakan "cancel culture" dengan segera dilakukan oleh hampir seluruh penggemar sebagai bentuk rasa kecewa dengan cara menaikkan tagar boikot, berhenti mengikuti, hingga ajakan serta seruan untuk menuntut klarifikasi dari pihak yang terkait dilakukan di seluruh platform media sosial.
Gerakan ini dipilih menjadi salah satu cara menyuarakan protes kemanusiaan dan rasa kecewa karena jika kolaborasi tetap dilakukan dan boikot terus berjalan, dampaknya bisa bersifat fatal terhadap finansial dan reputasi pihak yang terlibat.
Melalui pengalaman masa lalu, boikot bisa memengaruhi penjualan dan mendesak perusahaan untuk mengambil langkah yang korektif.
Baca Juga: KB Samsat Kota Mojokerto Layani 45 Motor Ber-Plat Merah Kendaraan Dinas Kades
Namun, ada pula sebagian penggemar yang memilih untuk menunggu klarifikasi dan berargumen bahwa artis mungkin tidak memiliki kendali penuh atas keputusan bisnis yang disepakati oleh agensi.
Kasus ini menunjukkan bagaimana dunia industri hiburan modern, politik internasional, dan aktivisme konsumen saling berkaitan.
Selain itu, kasus ini juga menyoroti betapa pentingnya sensitivitas etis dalam memilih rekan kolaborasi komersial, baik dari perspektif artis, agensi, maupun brand.
Meski rasa kecewa terus melingkupi hati setiap penggemar, mereka juga tetap dengan tenang menyerukan rasa kecewanya tanpa menghakimi dan masih terus menunggu konfirmasi serta klarifikasi resmi mengenai detail kolaborasi dari pihak agensi, artis, dan brand.
FANEZA/Devi
Editor : Imron Arlado