JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Indonesia akan memasuki fase transisi yang signifikan dalam siklus cuaca tahunannya pada bulan September 2025, yang akan berlanjut hingga Februari 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi akan adanya perubahan cuaca yang signifikan dari musim kemarau ke musim hujan yang akan berlangsung secara bertahap, diiringi dengan adanya potensi cuaca ekstrem di beberapa lokasi, di situasi ini memerlukan kewaspadaan serta persiapan dari masyarakat untuk bisa beradaptasi.
Di bulan September, sebagian besar wilayah yang berada di Indonesia masih dalam kondisi musim kemarau, tetapi hujan lokal ringan hingga sedang juga mulai muncul, khususnya di Sumatera Utara, Sulawesi, hingga Kalimantan.
Hal ini dipicu oleh pergerakan area tekanan rendah yang menciptakan kemungkinan terjadinya hujan, dan memasuki bulan Oktober hingga November, curah hujan mulai meningkaat terutama di wilayah barat Indonesia seperti Jawa, Sumatera, dan sekitarnya yan menandakan awal musim penghujan di sejumlah daerahh.
Sementara itu, di wilayah timur seperti Papua dan Nusa Tengggara, musim kemarau masih berlangsung dengan suhu yang cukup panas.
BMKG juga memperingatkan kemungkinan terjadinya hujan lebat yang disertai dengan angin kencang secara sporadis yang dapat menyebabkan risiko banjir dan tanah longsor di daera yang rentan.
Pada bulan Desember hingga Februari 2026, musim hujan diperkirakan akan menjangkau seluruh Indonesia dengan curah hujan yang tinggi.
Wilayah seperti Sumatera, Bali, Jawa, Nusa Tenggara Baraat, dan Sulawesi akan mengalami curah hujan yang signifikan.
Warga yang tinggal di daerah rawan banjir dan tanah longsor disarankan untuk bersiap menghadapi kemungkinan genangan dan banjir.
Fenomena iklim global La Nina (suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menjadi lebih dingin dari suhu biasanya) yang mungkin terjadi pada akhir 2025 hingga awal 2026 juga memiliki potensi mempengaruhi pola cuaca di selururh negeri, dengan indikasi meningkatnya curah hujan dibandingkan dengan tahun-tahun normal dan durasi yang lebih panjang.
Secara umum, suhu udara selama periode ini diprediksi dalam rentang normal dengan variasi yang moderat, messkipun gelombang panas masih ada kemungkinan untuk muncul di daerah perkotaan dan dataran rendah.
Berikut ini adalah beberapa cara menghadapi musim kemarau dan penghujan.
- Mengenakan pakaian yang memiliki bahan ringan dan berwarna cerah, gunakan topi atau payung, dan jangan lupa untuk mengenakan tabir surya padasaat melakukan aktivitas luar ruangan.
- Siapkan peralatan untuk menghadapi hujan seperti payung dan jas hujan, serta hindari area yang rawan banjir dan tanah longsor pada musim hujan.
- Menjaga kesehatan dan juga pola istirahat, konsultasi dengan dokter bila perlu saat mengalami masalah akibat cuaca ekstrem.
- Simpan dan gunakan air dengan bijak, periksa saluuran air dan pastikan saluran tidak mengalami kebocoran, jangan lupa untuk memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan non konsumsi.
- Minum air putih setidaknya 3 hingga 4 liter per hari, dan jnagan lupa untuk mengkonsumsi bbuah-buahan dan sayuran yang mengandung nutrisi dan air.
- Menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah banjir dan penyakit-penyakit lain yang muncul pada saat terjadinya banjir.
Kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat sangat penting menjelang perubahan musim ini yang berpotensi membawa dampak luas, pemantauan yang dilakukan terus-menerus dan penyesuaian kepada lingkungan akan menjadi kunci untuk menghadapinya dengan aman dan nyama. Dzafir Kirana Adelia/Wulan
Editor : Imron Arlado