Jawa Pos Radar Mojokerto - Nama PT Freeport Indonesia kembali menarik perhatian publik setelah adanya kontroversi terkait sponsor Pestapora 2025.
Tekanan signifikan dari para musisi, aktivis, dan masyarakat mendorong penyelenggara untuk mengakhiri kemitraan dengan perusahaan tambang emas besar tersebut pada 5 September 2025.
Namun, isu ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Di balik keuntungan besar dari pertambangan, terdapat sejarah panjang kerusakan lingkungan, konflik sosial, serta tragedi kemanusiaan yang terjadi di Papua.
Kerusakan Lingkungan Tailing
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencatat pada tahun 2018 bahwa kerugian negara akibat kerusakan lingkungan ini mencapai Rp185 triliun.
Angka besar ini mencerminkan seberapa besar pengaruh operasi tambang terhadap keberlanjutan alam di Papua.
Sejak tahun 1974, limbah tailing dari kegiatan tambang Freeport telah menumpuk hingga 167 juta ton.
Limbah ini mencemari sungai-sungai penting di Mimika, seperti Aghawagon dan Ajkwa. Ekosistem perairan yang sebelumnya mendukung kehidupan masyarakat adat kini mengalami kerusakan parah.
Kerusakan itu tidak hanya berhenti di sana. Pada tahun 2000, terjadi longsoran di Danau Wanagon yang menyebabkan bencana besar. Lalu pada tahun 2019, kebocoran 11 juta meter kubik limbah semakin memperburuk pencemaran.
Tragedi Kecelakaan Kerja
Operasi tambang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga meninggalkan banyak kecelakaan tragis.
Salah satu kejadian menyedihkan adalah longsor di tambang Grasberg pada tahun 2003. Insiden ini mengakibatkan dua pekerja tewas, lima lainnya luka-luka, dan enam orang dinyatakan hilang.
Peristiwa tersebut memicu serangkaian protes serta meningkatkan perhatian terhadap rendahnya standar keselamatan kerja di lokasi tambang terbesar dunia itu.
Konflik Sosial dan Hak Asasi Manusia
Ketegangan sosial semakin meningkat dengan keterlibatan pihak militer. Antara tahun 2001 hingga 2003, masyarakat sering melakukan protes yang sering berujung pada tindakan represif.
Konflik ini menunjukkan betapa rapuhnya hubungan antara kepentingan perusahaan, pemerintah, dan masyarakat adat. Tidak hanya lingkungan yang terdampak, tetapi masyarakat Papua juga menderita.
Lebih dari 6.000 orang terkena dampak langsung akibat hilangnya tanah adat, pencemaran sumber air, dan menurunnya kesehatan. Penduduk seringkali kehilangan akses ke tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Kontroversi Terkini: Pestapora 2025
Perhatian publik kembali meningkat saat Freeport menjadi sponsor untuk festival musik terbesar di Indonesia, Pestapora 2025. Keputusan ini menimbulkan gelombang penolakan.
Sejumlah musisi besar bahkan menarik diri dari daftar penampil sebagai bentuk protes. Akhirnya, pihak penyelenggara membatalkan kerjasama tersebut dan mengakui adanya kelalaian karena tidak mempertimbangkan rekam jejak Freeport.
Kontroversi terkait Freeport menegaskan bahwa isu tambang tidak hanya berkisar pada angka keuntungan dan kontribusi ekonomi. Ada biaya tinggi yang dibayar oleh alam dan masyarakat Papua.
Dengan kerugian lingkungan yang mencapai ratusan triliun rupiah, kehilangan nyawa, dan konflik yang berkepanjangan, publik kini semakin kritis mempertanyakan, untuk siapa sebenarnya operasi tambang ini?
Fokus terhadap Freeport di Pestapora 2025 hanyalah bagian kecil dari masalah, yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dapat menemukan solusi agar tragedi yang sama tidak terjadi lagi. Leny Ramandhan Oktaviany/Linda
Editor : Imron Arlado