JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Masa remaja adalah fase penting dalam pertumbuhan, karena tubuh berkembang dengan cepat dan postur tubuh mulai terbentuk. Namun, di balik proses alami ini, ada risiko kelainan tulang belakang yang sering kali tidak disadari, yaitu scoliosis.
Skoliosis adalah kondisi kelainan tulang belakang yang membuat postur tubuh melengkung ke samping menyerupai huruf “S” atau “C”.
Meski terdengar sederhana, skoliosis bisa berdampak serius jika tidak ditangani sejak dini. Menariknya, kondisi ini seringkali muncul pertama kali pada masa remaja, periode pertumbuhan cepat yang membuat tulang belakang lebih rentan mengalami perubahan.
Masa remaja merupakan fase percepatan pertumbuhan tulang. Saat tubuh bertambah tinggi dengan cepat, keseimbangan postur bisa terganggu.
Jika kelengkungan tulang belakang tidak segera dikenali, scoliosis dapat berkembang semakin parah seiring dengan bertambahnya usia.
Faktor risiko yang mempengaruhi munculnya skoliosis antara lain:
- Riwayat keluarga dengan skoliosis.
- Pertumbuhan pesat di usia pubertas.
- Kebiasaan postur tubuh yang buruk dalam jangka panjang.
Skoliosis tidak selalu menimbulkan rasa sakit pada tahap awal. Oleh karena itu, penting mengenali gejalanya sedini mungkin. Berikut beberapa tanda yang bisa muncul:
- Bahu tidak sejajar – salah satu bahu tampak lebih tinggi dibanding bahu lainnya.
- Pinggang atau pinggul miring – bagian pinggul terlihat menonjol ke satu sisi.
- Tulang belikat menonjol – salah satu tulang belikat terlihat lebih menonjol daripada sisi satunya.
- Postur tubuh condong ke satu sisi – meskipun berdiri tegak, tubuh tampak miring.
- Perbedaan panjang kaki – tampak salah satu kaki lebih panjang sehingga membuat cara berjalan tidak seimbang.
- Pakaian tidak jatuh rata – baju atau rok terlihat miring meskipun dipakai dengan benar.
Jika dibiarkan, skoliosis dapat menyebabkan nyeri punggung kronis, gangguan pernapasan, bahkan mempengaruhi kepercayaan diri remaja akibat perubahan postur tubuh.
Penyebab skoliosis yang paling sering tidak diketahui (skoliosis idiopatik) dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi beberapa penyebab lain meliputi kelainan bawaan, gangguan saraf dan otot seperti cerebral palsy, cedera tulang belakang, infeksi, atau proses degenerasi akibat penuaan.
Dengan deteksi dini, dokter bisa merekomendasikan langkah penanganan yang sesuai, mulai dari observasi, fisioterapi, penggunaan penyangga (brace), hingga tindakan medis jika diperlukan.
Orang tua bisa melakukan pemeriksaan sederhana dengan tes membungkuk ke depan (Adam’s Forward Bend Test). Meminta anak berdiri tegak lalu membungkuk perlahan.
Jika terlihat ada sisi punggung yang lebih tinggi atau tidak simetris, itu bisa menjadi tanda awal skoliosis. Meski begitu, pemeriksaan medis oleh tenaga kesehatan tetap menjadi langkah paling akurat untuk memastikan diagnosis.
Skoliosis pada remaja seringkali diawali dengan tanda-tanda ringan yang mudah diabaikan. Padahal, semakin cepat dikenali, semakin besar peluang mencegah kelainan tulang belakang berkembang parah.
Baca Juga: Membongkar Teknologi Deepfake Sebagai Inovasi Digital dan Ancaman Nyata
Oleh karena itu, penting bagi orang tua maupun remaja untuk lebih peka terhadap perubahan postur tubuh.
Deteksi dini bukan hanya menyelamatkan kesehatan tulang belakang, tetapi juga menjaga kualitas hidup remaja agar tetap bisa tumbuh dan berkembang dengan percaya diri.
NIYA/Linda
Editor : Imron Arlado