JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Teknologi yang terus mengalami perubahan dan kemajuan seiring berjalannya waktu tak hanya memberi memberi kemudahan dalam berkomunikasi. Akan tetapi, juga dapat memberi kemudahan bagi seseorang untuk mengerjakan sesuatu secara cepat dan instan.
Majunya perkembangan teknologi memungkinkan seseorang menciptakan segala hal dengan lebih mudah dan membuahkan hasil yang canggih. Contohnya adalah terciptanya teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
AI atau Artificial Intelligence sendiri merupakan sebuah teknologi kecerdasan buatan yang diciptakan oleh John McCarthy, seorang ilmuwan komputer dari Amerika.
Teknologi ini dikenal oleh cukup banyak orang pada tahun 1956 saat John McCarthy menghadiri sebuah konferensi di Dartmouth College.
Dalam teknologi AI ini, terdapat beberapa jenis penerapan dengan fungsi dan cara penggunaan yang berbeda beda. Salah satunya adalah Deepfake.
Deepfake merupakan sebuah jenis penerapan yang berfungsi sebagai alat pembuat gambar, video, hingga suara yang terdengar dan terlihat seperti orang asli.
Padahal, orang yang tampak maupun suara yang terdengar dalam foto atau video hasil teknologi AI adalah hasil manipulasi dari teknologi kecerdasan buatan.
Dalam beberapa bulan belakangan ini, deepfake juga dikenal karena perubahannya dari eksperimen teknis menjadi fenomena sosial karena hasilnya yang sangat meyakinkan dan alatnya lebih mudah diakses.
Baca Juga: BRI Pimpin Industri Keuangan Nasional di Peringkat Teratas
Secara sederhana dan singkatnya, deepfake dibuat dengan teknik deep learning atau pembelajaran mendalam yang melatih model dengan banyak foto atau rekaman suara seseorang.
Model pada jenis penerapan teknologi deepfake ini mempelajari karakteristik wajah, seperti ekspresi wajah dan intonasi atau ritme suara. Semakin banyak data yang dibaca dan semakin canggih modelnya, semakin realistis pula hasilnya.
Meski membawa begitu banyak kemudahan dan dampak yang positif, tak dapat dipungkiri bahwa teknologi kecerdasan buatan deepfake ini juga memiliki pengaruh yang buruk dan tantangan etika serta regulasi.
Contoh tantangan etika di masa kini adalah privasi dan perlindungan individu. Di masa kini, telah banyak orang yang menyalahgunakan wajah atau rekaman seseorang sebagai alat untuk modus penipuan yang secara otomatis akan melanggar hak privasi dan martabat.
Hukum yang belum cukup matang di beberapa negara juga menjadi pemicu adanya tantangan di tengah canggihnya teknologi deepfake.
Hal ini dikarenakan beberapa negara biasanya masih belum memiliki peraturan khusus yang mengatur pembuatan atau penyebaran deepfake.
Tak hanya itu, media sosial sebagai tempat atau platform utama penyebaran deepfake juga kerap kali mengalami dilema tentang seberapa cepat dan sejauh apa mereka harus menghapus, memberi peringatan, atau memverifikasi konten tanpa mengekang kebebasan berekspresi pengguna.
Deepfake merupakan alat canggih yang memiliki dua sisi kemungkinan, yakni membuka peluang kreatif dan efisiensi dalam seni sekaligus produksi.
Baca Juga: Desa Kembangsri, Kecamatan Ngoro Kembangkan Arena Bumi Perkemahan dan Wisata Terpadu
Namun, di sisi lain, teknologi yang semakin canggih seperti deepfake ini juga dapat memberi resiko yang cukup besar terhadap privasi, reputasi, dan stabilitas politik.
Solusi terbaik dalam menyikapi teknologi yang semakin canggih di zaman yang serba digital ini adalah dengan memperkuat teknologi deteksi dan transparansi.
Selanjutnya adalah menegakkan hukum yang melindungi korban dan meningkatkan literasi publik agar masyarakat dapat lebih teliti dan waspada pada bukti visual yang tak terverifikasi.
Setelah mengetahui dampak positif serta tantangan salah satu teknologi kecerdasan buatan ini, masyarakat serta pengguna sosial media diharapkan untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi yang berupa visual gambar, video, atau rekaman suara.
FANEZA/Linda
Editor : Imron Arlado