Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bahaya Perfeksionisme terhadap Kesehatan Mental yang Sering Diabaikan dalam Kehidupan Sehari-hari

Imron Arlado • Rabu, 3 September 2025 | 22:58 WIB

 

Banyak orang menganggap perfeksionisme sebagai sifat yang patut dibanggakan. sumber foto: pinterets
Banyak orang menganggap perfeksionisme sebagai sifat yang patut dibanggakan. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Banyak orang menganggap perfeksionisme sebagai sifat yang patut dibanggakan. Seorang perfeksionis sering dipuji karena pekerjaannya rapi, hasilnya maksimal, dan kemampuannya menjaga detail. 

Tidak sedikit pula yang percaya bahwa perfeksionisme adalah kunci kesuksesan, karena membuat seseorang terus berusaha lebih keras daripada orang lain. Namun, di balik semua kesan positif itu, perfeksionisme sebenarnya bisa menjadi jebakan yang berbahaya.

Sifat ini membuat seseorang tidak pernah merasa cukup, selalu khawatir gagal, dan terjebak dalam siklus stres yang tidak ada habisnya. Akibatnya, kesehatan mental bisa terganggu, meskipun dari luar terlihat baik-baik saja.

 

Perfeksionisme: Antara Standar Tinggi dan Ketidakpuasan Diri

Memiliki standar tinggi pada dasarnya bukan hal yang salah. Orang dengan standar tinggi biasanya mampu mendorong dirinya untuk berkembangan, namun tetap menerima kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

 

Baca Juga: Ning Ita Rombak Tujuh Jabatan Strategis di Pemkot Mojokerto

 

Berbeda dengan itu, perfeksionisme bukan hanya sekadar tentang ingin yang terbaik, tetapi tentang takut dianggap tidak sempurna. Perfeksionis kerap merlasa nilai dirinya ditentukan dari pencapaian atau penilaian seseorang. 

Pola pikir ini akhirnya menimbulkan tekanan luar biasa dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam pekerjaan, pendidikan, hubungan, maupun hal-hal sederhana seperti penampilan atau aktivitas sosial.

 

 

Dampak Negatif Perfeksionisme pada Kesehatan Mental

 

Perfeksionis sering merasa tidak pernah cukup baik, meski sudah berusaha keras. Perasaan ini menimbulkan stres berkepanjangan dan memicu kecemasan yang berlebihan.

Ketidakmampuan menerima kegagalan dapat dapat membuat perfeksionis merasa putus asa. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi karena mereka merasa tidak pernah memenuhi standar diri sendiri maupun orang lain.

Alih-alih merasa bangga atas pencapaian, perfeksionis cenderung fokus pada kekurangan kecil. Hal ini mengikis rasa percaya diri dan menumbuhkan perasaan rendah diri.

Terus-menerus berusaha menjadi sempurna membuat seseorang kehabisan energi, baik secara fisik maupun mental. Burnout akhirnya muncul sebagai akibat dari tekanan tanpa henti.

 

 

Mengelola Perfeksionisme agar Tidak Merusak Kesehatan Mental

Perfeksionisme memang tidak mudah dihilangkan, tetapi dapat dikelola agar tidak menimbulkan dampak buruk. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

 

Perfeksionisme sering dianggap sebagai sifat yang positif, tetapi kenyataannya bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental. Stres, kecemasan, depresi, hingga burnout adalah risiko nyata yang bisa muncul jika perfeksionisme dibiarkan tanpa kendali.

Dengan menyadari bahaya ini, kita bisa mulai mengelola perfeksionisme agar tidak menguasai hidup. Belajar menerima ketidaksempurnaan, menurunkan standar yang terlalu tinggi, dan menghargai proses adalah langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar. 

Pada akhirnya, bukan kesempurnaan yang membuat hidup bahagia, melainkan kemampuan untuk merasa cukup dan berdamai dengan diri sendiri. AILEEN/FADYA

 

Editor : Imron Arlado
#standar tinggi #burnout #self compassion #Perfeksionisme #Dampak Negatif Perfeksionisme #kesehatan mental #perfeksionis #Mengelola Perfeksionisme