JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Delapan puluh tahun perjalanan seharusnya menjadi momen penuh sorak dan kebanggaan bagi sebuah lembaga negara.
Namun kenyataannya berbeda, ulang tahun DPR ke-80 justru berlangsung dalam kesunyian di balik tembok gedung, sementara di luar sana gema kritik rakyat terdengar jauh lebih lantang.
Alih-alih pesta gegap gempita, publik memilih cara perayaan yang sinis dengan menyulut gelombang protes di ruang digital sebagai tanda kekecewaan mendalam.
Sebuah ironi yang menggigit: wakil rakyat larut dalam upacara seremonial yang hambar, sementara rakyat sendiri menyalakan obor perlawanan dengan suara yang tak bisa dibungkam.
Tagar #IndonesiaGelap bukan sekadar olok-olok di dunia maya, melainkan jeritan kolektif yang lahir dari kekecewaan panjang rakyat.
Dari kasus korupsi yang berlarut tanpa penyelesaian, tragedi kemanusiaan yang dibiarkan tanpa empati, hingga kebijakan yang semakin terasa menjauh dari denyut kebutuhan masyarakat, semuanya berpadu dalam satu simbol yaitu gelap.
Baca Juga: Polres Mojokerto Gelar Doa Bersama Anak Yatim dan Tebar Aksi Sosial untuk Ciptakan Harkamtibmas
Lewat tagar ini, publik seakan menampar kesadaran para wakilnya sendiri, mengingatkan bahwa usia 80 tahun bukan prestasi jika cahaya kepercayaan rakyat sudah padam.
Pertanyaannya, apa gunanya merayakan ulang tahun lembaga yang kehilangan legitimasi di mata bangsa yang diwakilinya?
Kontras itu begitu jelas, seolah dipertontonkan tanpa tabir. Di dalam gedung megah, DPR menandai usia delapan dekade dengan pidato seremonial dan ritual formalitas yang terasa kering makna.
Namun, di luar sana, rakyat menatap dengan pandangan getir, mempertanyakan legitimasi lembaga yang seharusnya menjadi jembatan aspirasi mereka.
Bukannya menjadi ajang refleksi, ulang tahun ke-80 justru menyingkap jurang yang makin lebar: di satu sisi ada pesta simbolik di menara kekuasaan, sementara di sisi lain rakyat bergelut dengan kenyataan gelap yang kian menghimpit kehidupan sehari-hari.
Rakyat tidak membutuhkan panggung seremonial yang megah atau jargon manis yang hanya terdengar indah di mimbar. Yang mereka nantikan adalah bukti nyata: keberanian DPR menepati janji, mengembalikan kepercayaan publik yang kian tergerus.
Selama suara rakyat terus diperlakukan sebatas riuh latar yang bisa diabaikan, maka tagar seperti #IndonesiaGelap akan tetap menggema sebagai penanda perlawanan.
Baca Juga: Sinopsis Drama Korea Terbaru My Youth Segera Tayang 5 September 2025
Kini, pertanyaan yang tak bisa dielakkan adalah apakah DPR berani menyingkap tirai dan melihat kenyataan pahit ini, atau justru memilih tenggelam dalam euforia ulang tahun yang hanya dirayakan oleh dirinya sendiri, jauh dari denyut rakyat yang seharusnya mereka wakili?
Delapan puluh tahun jelas bukan usia yang singkat bagi sebuah lembaga negara. Namun, panjangnya jejak sejarah tidak serta-merta menjamin kedewasaan dalam berpolitik.
Baca Juga: Heboh Macan Tutul Masuk ke Bangunan Bekas Balai Desa, Rencana Akan dilepasliarkan di Gunung Ciremai
Selama DPR sibuk merayakan pencapaiannya sendiri, sementara rakyat justru kian terhimpit oleh gelapnya demokrasi, maka usia itu tak lebih dari angka kosong tanpa makna.
Yang akan diingat sejarah bukanlah pesta seremonial yang digelar di gedung megah, melainkan sejauh mana DPR mampu benar-benar hadir, mendengar, dan berpihak pada rakyatnya.
Dan hari ini, rakyat telah mengirimkan pesannya dengan tegas, bukan melalui tepuk tangan, melainkan lewat satu tagar yang bergema di jagat maya: #IndonesiaGelap. BINTANG PURNAMA/Linda
Editor : Imron Arlado