JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Sejak hari pertama digelar, ribuan pengunjung langsung membanjiri area Kota Baru Parahyangan tempat Big Bad Wolf (BBW) 2025 berlangsung.
Bazar buku internasional yang sudah lama dinantikan itu disambut gegap gempita oleh para pecinta literasi dari berbagai kalangan.
Mereka rela mengantre panjang, bahkan sejak pagi, demi berburu ribuan judul buku dengan harga miring yang jarang ditemui di tempat lain.
Riuh rendah suara pengunjung yang berdesakan di antara rak-rak buku menciptakan atmosfer meriah, menjadikan Bandung seakan bertransformasi menjadi surga literasi sementara, tempat gairah membaca dipertemukan dengan pesta diskon yang menggoda.
Bukan hanya para pembaca muda yang memenuhi arena, orang tua, keluarga, hingga kolektor buku langka pun larut dalam euforia berburu bacaan.
Rak-rak yang dipenuhi ribuan judul dari beragam genre, mulai fiksi, sains, sejarah, sampai literatur anak ditelusuri dengan antusias seakan tak ingin ada satu pun yang terlewat.
Diskon besar-besaran memang menjadi magnet utama, tetapi lebih dari itu, suasana hangat yang mempertemukan komunitas literasi dari berbagai penjuru daerah menjadikan BBW Bandung 2025 melampaui sekadar bazar buku.
BBW ini bertransformasi menjadi festival budaya baca, ketika gairah intelektual berpadu dengan kegembiraan kolektif. Kehadiran BBW Bandung 2025 dianggap menghadirkan napas segar bagi denyut literasi di kota kembang.
Banyak pengunjung menuturkan bahwa ajang ini bukan sekadar arena berburu buku murah, melainkan ruang perjumpaan ide dan pengalaman, tempat generasi muda makin dekat dengan dunia baca.
Bagi komunitas literasi, momentum ini menjadi bukti nyata bahwa gairah membaca belum padam, justru ini adalah usaha menemukan ruang baru untuk bertumbuh dan memperluas jangkauan.
Baca Juga: Skincare Minimalis: Tiga Langkah Praktis untuk Kulit Sehat dan Terawat
Dampak BBW Bandung 2025 terasa melampaui dunia literasi. Kehadiran ribuan pengunjung membuat hotel-hotel di sekitar Kota Baru Parahyangan penuh sesak, sementara kafe hingga restoran meraup berkah dari derasnya arus pencinta buku.
Kota Bandung pun menjelma bukan hanya sebagai tuan rumah bazar, tetapi sebagai destinasi wisata literasi, gairah membaca berpadu dengan denyut ekonomi kreatif yang terus menghidupkan kota.
Penyelenggara menekankan, BBW Bandung 2025 tidak boleh berakhir hanya sebagai pesta sesaat.
Mereka berkomitmen menghadirkan lebih banyak judul, membuka akses bacaan yang lebih luas, sekaligus meneguhkan bazar ini sebagai agenda tahunan yang menghidupkan budaya literasi tanah air.
Baca Juga: Terdakwa Rudapaksa Anak Mengaku Punya Trauma Masa Kecil
Harapan itu bertemu dengan doa para pengunjung: semoga antusiasme berburu buku murah menjelma gerakan panjang, melahirkan generasi pembaca baru yang tumbuh bersama semangat literasi.
Big Bad Wolf Bandung 2025 akhirnya menegaskan satu hal bahwa gairah membaca di negeri ini belum mati. Di tengah euforia digital, antrean panjang dan wajah-wajah sumringah di antara rak buku menjadi saksi bahwa literasi masih punya rumahnya sendiri.
Dari kota kembang, semangat itu menyala, menyebar, dan mengingatkan kita semua bahwa masa depan bangsa tak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh halaman-halaman yang terus dibuka.
BINTANG PURNAMA/Linda
Editor : Imron Arlado