Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Viral Kasus Balita di Sukabumi Picu Obat Cacing Mendadak Populer di Kalangan Anak Muda

Imron Arlado • Kamis, 28 Agustus 2025 | 00:20 WIB
Viral Kasus Balita di Sukabumi Picu Obat Cacing Mendadak Populer di Kalangan Anak Muda
Viral Kasus Balita di Sukabumi Picu Obat Cacing Mendadak Populer di Kalangan Anak Muda

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Baru-baru ini viral kasus kematian seorang balita di Sukabumi akibat telat penanganan penyakit cacingan. Hal ini memicu keresahan masyarakat, terutama di kalangan Gen Z.

Dalam unggahan-unggahan di TikTok pun memperlihatkan banyak anak muda yang mengaku baru sadar terakhir kali minum obat cacing saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Kini mereka beramai-ramai membeli obat cacing dan mengkonsumsinya untuk mencegah infeksi cacing gelang.

Ada yang menuliskan, “Gen Z langsung ketar-ketir minum obat cacing setelah dengar kasus balita asal Sukabumi,” atau “Jangan lupa minum obat cacing enam bulan sekali.”

Meski dibalut dengan tulisan candaan, unggahan-unggahan tersebut berhasil memengaruhi banyak orang untuk segera membeli obat cacing sebagai langkah preventif.

 

 

Fenomena ini memunculkan beragam tanggapan. Sebagian masyarakat menganggap langkah tersebut sebagai kewaspadaan terhadap risiko penyakit cacingan.

Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa tren ini dipengaruhi rasa panik berlebihan tanpa pemahaman medis yang memadai.

Menurut Prof. Taniawati Supali, Guru Besar Parasitologi FKUI, obat cacing yang banyak dibeli masyarakat seperti albendazol atau mebendazol tergolong aman bagi orang dewasa. Namun, beliau menegaskan konsumsi obat ini tidak boleh berlebihan.

“Aman sih sebetulnya, asal sesuai aturan ya minumnya. Kalau dia makannya cuman satu-satu gitu tidak apa-apa,” ujar Prof Tania di Jakarta Pusat, Senin 25 Agustus 2025.

Ia juga menuturkan, di daerah yang vaksinasinya kurang, seperti kasus campak, penolakan terhadap obat cacing juga sering terjadi.

Banyak orang tua yang belum tahu cara memberikan obat cacing dengan benar kepada anaknya, bahkan ada yang membuang obat tersebut.

Menurutnya, edukasi sangat diperlukan terutama di wilayah endemis, seperti di desa-desa masih memiliki kebiasaan buang air besar masih dilakukan di tanah.

"Kalau daerah endemis, kan banyak di desa-desa itu dia BAB-nya di tanah jadi nular lagi, kan cacingnya bertelur di tanah, tumbuh jadi larva terus masuk dari tangan, jadi perlu edukasi," sambungnya.

 

 

Hal serupa juga disampaikan Prof. Zullies Ikawati, Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada.

Ia menjelaskan bahwa konsumsi obat cacing idealnya dilakukan setiap enam bulan sekali, terutama untuk kelompok yang berisiko tinggi seperti anak-anak, perempuan usia subur, atau orang dewasa yang sering kontak dengan tanah.

Obat ini efektif membunuh cacing dewasa, tetapi tidak mencegah telur cacing yang baru menetas, sehingga kebersihan lingkungan tetap menjadi kunci utama pencegahan.

Meski demikian, Prof. Zullies mengingatkan bahwa tidak semua orang dewasa perlu rutin minum obat cacing.

Bagi mereka yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi baik dan jarang terpapar risiko, konsumsi obat cacing bisa dilakukan hanya jika ada indikasi klinis atau merasa bergejala.

“Orang dewasa di daerah perkotaan dengan sanitasi baik, air bersih, serta kebersihan pribadi terjadi, biasanya tidak perlu minum obat cacing rutin tiap 6 bulan. Namun, tetap dianjurkan bila ada risiko tinggi atau gejala,” kata Prof Zullies

Pada kebanyakan jenis cacing yang menginfeksi manusia hanya menimbulkan gejala yang ringan saja. Berikut beberapa gejala infeksi cacing:

Rizma/Wulan

Editor : Imron Arlado
#anak muda #balita Sukabumi cacingan #obat cacing #Gen Z #Edukasi Penyakit Kecacingan #penyakit cacingan