Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Revisi Buku Sejarah Diprotes, Generasi Muda Lawan dengan Simbol Pop Culture

Imron Arlado • Rabu, 20 Agustus 2025 | 03:56 WIB

 

Buku Sejarah Indonesia II
Buku Sejarah Indonesia II

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Rencana pemerintah meluncurkan buku sejarah nasional edisi baru menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan.

Generasi muda bahkan memilih cara unik untuk menyuarakan penolakan, yakni menggunakan simbol budaya populer seperti karakter dan ikon anime dalam aksi protes mereka. 

Penundaan peluncuran yang semula dijadwalkan pada peringatan HUT ke-80 RI itu dinilai sebagai bukti kuat bahwa revisi sejarah masih menjadi polemik sensitif di tengah masyarakat.

Pemerintah menunda peluncuran buku sejarah nasional edisi baru yang awalnya direncanakan bertepatan dengan peringatan HUT ke-80 RI pada Agustus 2025.

Jadwal penerbitan digeser ke November setelah revisi isi buku menuai kritik luas karena dianggap berpotensi mengaburkan fakta sejarah.

 

Baca Juga: Peran Emotional Intelligence dalam Membangun Karier dan Hubungan Profesional

 

Kontroversi mencuat lantaran sejumlah peristiwa sensitif, seperti tragedi 1965–1966 dan kerusuhan anti-Tionghoa, disebutkan tidak dituliskan secara utuh dalam naskah buku tersebut.

Banyak akademisi dan sejarawan khawatir revisi itu justru menimbulkan apa yang mereka sebut sebagai “amnesia sejarah” di tengah generasi baru Indonesia.

Pemerintah sebagai penggagas revisi beralasan bahwa penyusunan buku sejarah dimaksudkan untuk menyederhanakan narasi agar lebih mudah dipahami masyarakat.

Namun, alasan tersebut menuai respons skeptis karena dianggap berpotensi mengabaikan kompleksitas sejarah yang seharusnya tetap dipahami secara utuh.

Generasi muda juga menyuarakan penolakan dengan cara kreatif. Melalui media sosial, mereka membanjiri linimasa dengan gambar karakter anime dan simbol budaya populer bernuansa perlawanan.

Dalam aksi demonstrasi kecil di Jakarta dan Yogyakarta, sejumlah poster bergambar tokoh fiksi populer turut dibawa sebagai sindiran terhadap dugaan manipulasi sejarah.

 

Baca Juga: Isu soal Gaji Anggota DPR RI Naik Hingga Rp100 Juta, Puan Maharani Akhirnya Buka Suara

 

Fenomena ini memperlihatkan bahwa generasi muda mampu menyampaikan kritik terhadap isu serius seperti sejarah melalui bahasa budaya populer yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Penggunaan simbol pop culture menjadi cara mereka menegaskan pendapat sekaligus menarik perhatian publik.

Penundaan peluncuran hingga November 2025 membuat pemerintah mendapat sorotan publik untuk meninjau kembali isi buku sejarah.

Masih menjadi tanda tanya apakah revisi yang menuai polemik akan diperbaiki atau tetap dipertahankan dengan risiko memperpanjang kontroversi?

 

BINTANG PURNAMA/Devi

Editor : Imron Arlado
#buku sejarah Indonesia edisi revisi #pemerintah #generasi muda #HUT RI Ke 80 #pop culture