Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Fenomena Rebo Wekasan: Antara Keyakinan dan Kearifan Lokal

Imron Arlado • Rabu, 20 Agustus 2025 | 01:07 WIB
Fenomena Rebo Wekasan, tradisi Jawa di Rabu terakhir Safar untuk memohon keselamatan.
Fenomena Rebo Wekasan, tradisi Jawa di Rabu terakhir Safar untuk memohon keselamatan.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Bulan Safar 1447 H telah memasuki pekan terakhir. Di penghujung bulan ini terdapat satu hari yang dianggap istimewa, yakni Rabu terakhir yang dikenal dengan sebutan Rebo Wekasan.

Rabu Wekasan, atau sering juga disebut Rabu Pungkasan merupakan tradisi yang digelar setiap Rabu terakhir pada bulan safar.

Nama Rebu Wekasan berasal dari bahasa jawa dengan kata “Rebo” yang berarti Rabu dan “Wekasan” yang memiliki arti akhir atau penutup.

Menurut Kalender hijriyah Indonesia 2025 yang diterbitkan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Rebo Wekasan atau hari terakhir di bulan Safar 1447 H jatuh pada 20 Agustus 2025.

Bulan safar sendiri akan berakhir pada Minggu, 24 Agustus 2025 sebelum umat islam memasuki bulan Rabiul Awal atau Mulud.

 

 

Rebo Wekasan merupakan wujud kolaborasi antara kearifan lokal dan ajaran agama islam. Tradisi ini berakar dari budaya Jawa yang dilaksanakan dengan serangkaian ritual keagamaan sesuai syariat islam.

Bagi sebagian kalangan, Rebo Wekasan diyakini sebagai momen turunya bala atau musibah, sehingga berbagai ritual doa dan amalan digelar untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Fenomena ini bukan hanya persoalan keyakinan semata, melainkan juga sebagai cerminan dari kearifan lokal masyarakat yang berusaha menjaga kesinambungan antara spiritualitas, budaya dan kehidupan sehari-hari.

 

 

Meskipun fenomena Rabu Wekasan sering kali memunculkan perdebatan. Sebagian masyarakat modern menilai anggapan hari sial bertentangan dengan ajaran islam yang menolak tahayul.

Namun disisi lain, tradisi ini tetap dilihat sebagai kearifan lokal yang mengandung nilai positif.

Dengan demikian meski adanya perdebatan tentang perbedaan pandangan, banyak pihak sepakat bahwa tradisi ini lebih baik dipahami dalam kerangka spiritualitas dan sosial bukan sekadar tahayul.

Ditengah modernisasi sekarang ini, Rebo Wekasan terbukti masih bertahan. Bahkan di era digital, banyak masyarakat yang membagikan doa-doa khusus Rebo Wekasan melalui media sosial.

 

 

Hal ini menunjukan bahwa Rebo Wekasan tidak lagi dipandang sebagai tahayul, tetapi juga sebagai media dakwah dan syiar islam yang disampaikan dengan cara sederhana.

Fenomena Rebo wekasan adalah contoh nyata bagaimana keyakinan dan kearifan lokal berpadu dalam tradisi dan spiritualitas masyarakat.

Meskin beberapa kalangan memiliki pandangan yang berbeda karena dianggap tidak memiliki dasar kuat dalam syariat.

Namun Rebo Wekasan memberikan nilai positif dalam memperkuat ikatan sosial, memperbanyak doa dan mengingatkan manusia akan pentingnya ikhtiar.

 

Pada akhirnya, Rebo Wekasan bukan sekadar tahayul, melainkan momentum yang sebagai pengingat untuk masyarakat agar kembali mendekatkan diri kepada sang pencipta, memperbanyak doa dan menjaga harmoni kehidupan. Tio/Devi

Editor : Imron Arlado
#rebo wekasan #kearifan lokal #Safar 1447 Hijriah #keyakinan