JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Media sosial kerap menjadi ruang lahirnya istilah-istilah baru yang kemudian merambah ke percakapan publik.
Belakangan ini, istilah "performative male" mencuri perhatian warganet, bahkan sampai diperdebatkan dalam ruang akademis.
"Performative male" merupakan satire untuk laki-laki yang berpura-pura woke demi menarik perhatian perempuan.
"Performative male" diketahui tercipta untuk mengkategorikan para pria yang berperilaku sesuai standar perempuan saat ini.
Di kalangan Gen Z, istilah ini semakin populer. "Performative male" kerap digambarkan sebagai pria berpenampilan rapi, estetik, dan terkesan berwawasan luas.
Mereka gemar membicarakan isu sosial seperti feminisme, kesehatan mental, atau lingkungan, meskipun pembahasannya sering dangkal atau hanya di permukaan.
Fokus utamanya bukan memperdalam diskusi, melainkan menciptakan kesan “pria sadar isu” yang mudah mendapat atensi.
Fenomena ini berakar pada teori performativitas gender yang diperkenalkan oleh filsuf Judith Butler pada dekade 1990-an.
Baca Juga: Sedang Hits di Kalangan Gen-Z! Mengenal Fenomena Performative Male di Sosial Media
Butler menjelaskan bahwa identitas gender tidak bersifat alami atau bawaan lahir, melainkan dibentuk dari pengulangan tindakan, gestur, dan cara berpenampilan yang kemudian dianggap normal.
Dalam konteks laki-laki, performativitas ini muncul dalam bentuk gestur, gaya bicara, hingga pilihan busana yang seakan menegaskan kejantanan mereka.
Konsep ini merujuk pada perilaku laki-laki yang menampilkan identitas maskulin tertentu bukan semata karena kebutuhan pribadi, melainkan sebagai bentuk pertunjukan sosial.
Istilah ini muncul sebenarnya untuk menamai fenomena beberapa pria berpenampilan lebih rapi dan terkesan berwawasan.
Dengan kata lain, maskulinitas tidak hanya lahir dari dalam diri, tetapi juga dikonstruksi melalui cara laki-laki ingin dipersepsikan orang lain.
Namun sepertinya, sebutan ini juga menjadi sindiran atau candaan oleh netizen.
Banyak yang mempertanyakan, apakah ini sekedar pencitraan? Atau sebuah tanda bahwa maskulinitas sedang bergeser menuju tatanan yang lebih terbuka, rapuh, dan otentik?
Baca Juga: Tren Intimate Wedding yang Ramai Dilirik oleh Pasangan Muda
Sayangnya tren di internet ini, kini kehilangan esensinya. Menariknya, istilah ini tidak berhenti di dunia maya.
Pada Sabtu (2/8/2025) lalu, diadakan sebuah acara bertajuk Kontes Performative Male di Taman Langsat, Jakarta Selatan.
Acara ini dikemas sebagai satire yang merayakan sekaligus mengolok-olok fenomena pria performatif. Kontes ini juga menimbulkan beragam reaksi.
Sebagian menganggapnya sekadar hiburan kocak, sementara yang lain melihatnya sebagai kritik tajam terhadap citra maskulinitas yang kini semakin cair dan kompleks.
Sebagian pengamat menyebut bahwa meski terkesan dangkal, tren ini menunjukkan adanya keterbukaan generasi muda laki-laki untuk menampilkan sisi yang lebih rapuh, peka, dan tidak melulu maskulin tradisional.
Namun, di sisi lain, satir netizen yang melekat pada istilah ini menunjukkan adanya keraguan apakah semua itu benar-benar tulus atau hanya demi citra.
Apakah ini sekadar tren pencitraan di media sosial? Atau tanda bahwa laki-laki generasi sekarang tengah mencoba keluar dari definisi lama tentang kejantanan?
Jawabannya mungkin ada di antara keduanya setengah satire, setengah transformasi budaya.
Tti Yulia Setyoningrum/Devi
Editor : Imron Arlado