JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Generasi muda saat ini kini berbondong-bondong untuk melakukan thrifting. Selain harganya yang murah, thrifting kini mulai berkembang menjadi budaya baru.
Thrifting adalah kegiatan jual beli barang-barang bekas dengan harga miring, ramainya adalah thrifting pakaian, dengan Rp20.000 kamu sudah dapat membawa pulang sebuah pakaian.
Pakaian adalah pilihan yang digemari pada saat thrifting, sebab kamu dapat membeli pakaian dengan merk ternama hanya dengan harga miring yang jauh dari harga pasarannya.
Dan jika kamu sedang beruntung, kamu dapat mengantongi barang-barang yang memiliki merk ternama dalam sekali belanja, tentunya juga dengan harga yang sangat miring dari harga pasar.
Bagi kaum yang suka hal-hal berbau vintage, thrifting akan menjadi pilihan yang menarik. Sebab kamu dapat menemukan barang-barang vintage yang sebelumnya belum pernah kamu lihat, barang yang unik, dan sekali lagi murah.
Sehingga jika kamu sudah mulai bosan berbelanja modern di mall dan toko pakaian modern lainnya, kamu bisa segera memulai petualanganmu untuk berburu pakaian dan kebutuhan dengan thrifting.
Bagi kamu yang akan membuka usaha sampingan, thrifting juga patut untuk dicoba, lho! Sebab pada era yang serba modern seperti saat ini, tentu akan memudahkanmu untuk berjualan.
Berjualan pakaian thrifting dapat dilakukan secara online juga, seperti melakukan siaran langsung pada sebuah media sosial (TikTok, Instagram, YouTube) atau mempromosikannya secara online (WhatsApp).
Selain itu, thrifting juga membantu dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih dari limbah-limbah pabrik yang memproduksi pakaian.
Meskipun masih sedikit yang berpikiran seperti itu, setidaknya generasi muda saat ini sudah bisa memilah untuk tidak menghambur-hamburkan banyak uang hanya demi model berpakaian.
Namun thrifting ini juga menjadi kontroversi, lantaran dapat memberi dampak buruk terhadap barang lokal.
Pasalnya, thrifting merupakan barang impor dengan harga murah, sehingga menjadikan barang lokal hasil UMKM kalah dalam segi harga yang sedikit lebih mahal dibandingan dengan harga thrifting.
Selain dapat menjadi pesaing barang lokal, barang impor ini juga dipertanyakan mengenai kebersihannya. Banyak sekali ditemukan kasus pakaian thrifting yang kotor, bau, dan sudah tidak layak pakai.
Dikhawatirkan jika mendapat barang impor dari sumber yang tidak bertanggung jawab akan membahayakan kesehatan pembeli.
Maka alangkah baiknya, bagi kamu yang akan memulai bisnis thrifting ini untuk mencari sumber yang terpercaya agar usahamu laku dan semakin dikenal banyak orang. Dzafir Kirana Adelia/Linda Tresnawati
Editor : Imron Arlado