Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kilas Balik Hari Pramuka Indonesia, Inilah Profil Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Imron Arlado • Jumat, 15 Agustus 2025 | 01:19 WIB
Makna 14 Agustus, Kilas Balik Hari Pramuka Indonesia, Siapakah Sri Sultan Hamengkubuwono IX ?
Makna 14 Agustus, Kilas Balik Hari Pramuka Indonesia, Siapakah Sri Sultan Hamengkubuwono IX ?

Jawa Pos Radar Mojokerto - Pada awal kemerdekaan, Indonesia memiliki berbagai Organisasi kepanduan yang bergerak sendiri-sendiri, membawa bendera dan prinsip masing-masing. Indonesia yang memiliki tradisi kepanduan dengan sejarah nya yang bermakna.

Awal mula pada masa kolonial hingga akhirnya menjadi organisasi kepemudaan yang diperingati secara nasional tepat pada setiap 14 Agustus.

Di balik lahirnya peringatan ini ada sosok penting yang tidak hanya berperan sebagai pemimpin daerah maupun negara, tetapi tokoh pemersatu gerakan kepanduan di tanah air, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang dikenal luas sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

Bapak Pramuka Indonesia tersebut lahir bernama Gusti Raden Mas Dorodjatun pada 12 April 1912 di Yogyakarta. Bapak Pramuka Indonesia menempuh pendidikan dasarnya di HIS Yogyakarta, melanjutkan ke MULO di Semarang, AMS di Bandung, dan kemudian menimba ilmu di Universiteit Leiden, Belanda.

 

 

Melalui kecerdasannya dan wawasan yang luas serta pandangan hidup berpihak kepada masyarakat menjadi pemimpin yang disegani. Sri Sultan Hamengkubuwono IX memimpin Kesultanan Yogyakarta (1940–1988), menjadi Gubernur DIY, dan Wakil Presiden RI (1973–1978). Di luar politik, beliau berperan penting dalam menyatukan organisasi kepanduan yang terpecah.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX Mencetuskan nama “Pramuka” dari kata Jawa poromuko (pasukan terdepan), yang dimaknai sebagai Praja Muda Karana—“jiwa muda yang suka berkarya”—sejalan dengan visinya membentuk generasi tangguh, mandiri, dan berkarakter.

Perjalanan yang terbentuknya Gerakan Pramuka dimulai pada tanggal 9 Maret 1961, yang diingat sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka, di mana nama "Pramuka" secara resmi dipakai untuk menyatukan seluruh aktivitas kepanduan di Indonesia.

 

 

Pada tanggal 20 Mei 1961, Presiden Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 yang secara resmi menetapkan keberadaan Gerakan Pramuka secara hukum.

Puncak dari proses ini terjadi pada tanggal 20 Juli 1961, ketika seluruh organisasi kepanduan bersatu dalam satu ikrar di Istora Senayan, menandai persatuan di bawah satu bendera.

Momen bersejarah terjadi pada tanggal 14 Agustus 1961 ketika Presiden Soekarno mengukuhkan Gerakan Pramuka di Istana Negara dan menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang menjadi Ketua Kwartir Nasional pertama. Hari ini ditetapkan sebagai Hari Pramuka Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 448 Tahun 1961.

Selain itu, Indonesia juga merayakan 22 Februari sebagai Hari Kepanduan Sedunia untuk mengenang kelahiran Lord Robert Baden-Powell, pendiri gerakan Pramuka internasional. Kedua tanggal ini memiliki arti berbeda tetapi sama-sama signifikan bagi komunitas kepanduan.

 

 

Sebagai Ketua Kwartir Nasional, HB IX membawa sejumlah inovasi, termasuk pengenalan salam Pramuka, penyebutan “kak”, dan perluasan akses pendidikan kepramukaan untuk semua lapisan masyarakat. Karena komitmennya, ia dianugerahi Penghargaan Bronze Wolf oleh World Organization of the Scout Movement pada tahun 1973.

Hari Pramuka berfungsi sebagai pengingat akan arti penting pendidikan karakter, kemandirian, dan pengabdian kepada masyarakat. Gerakan ini membekali generasi muda dengan keterampilan kepemimpinan, kolaborasi, kemampuan hidup sehari-hari, serta penerapan nilai-nilai Pancasila, sebuah semangat yang masih sangat relevan sampai sekarang.

 

 

Setiap tanggal 14 Agustus, anggota Pramuka di seluruh tanah air Indonesia mengenakan baju berwarna cokelat, melaksanakan upacara, dan terlibat dalam aktivitas sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah penggabungan kepanduan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Perayaan ini berfungsi sebagai kesempatan untuk menguatkan kembali semangat persatuan, kepemimpinan, dan pengabdian untuk pembangunan bangsa melalui generasi yang akan datang.  Leny Ramandhan Oktaviany

Editor : Imron Arlado
#Sejarah hari Pramuka #Lahirnya Pramuka Indonesia #HUT Pramuka 2025 #Gerakan Pramuka Indonesia #Sri Sultan Hamengkubuwono IX