JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Generasi Z telah mengubah cara dunia memandang fashion. Dengan kreativitas tanpa batas dan keberanian mengekspresikan diri.
Mereka menjadikan media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai runway digital. Dari gaya Y2K yang penuh nostalgia hingga streetwear edgy yang penuh statement, OOTD (Outfit of the Day) ala Gen Z bukan sekadar pakaian. Tetapi bentuk identitas, mood, dan bahkan sikap terhadap dunia.
Evolusi OOTD di Era Gen Z
OOTD bukanlah konsep baru, namun Gen Z telah mengubahnya menjadi bentuk seni dan komunikasi. Setiap unggahan OOTD di TikTok atau Instagram bukan hanya soal pakaian, tetapi juga narasi visual yang menyampaikan mood, kepribadian, dan bahkan opini sosial.
Mereka tidak takut bereksperimen, mencampur gaya vintage dengan modern, atau memadukan high fashion dengan barang thrift.
Tren Fashion yang Mendominasi
1. Y2K Revival
Gaya tahun 2000-an kembali dengan penuh semangat. Crop top, celana low-rise, kacamata berwarna neon, dan aksesori playful menjadi ciri khas tren ini. Gen Z menghidupkan kembali estetika pop culture era Britney Spears dan Paris Hilton, namun dengan sentuhan modern dan lebih inklusif.
Baca Juga: Terbengkalai Menahun, Perahu Pemkot Mojokerto di Taman Bahari Mojopahit Akhirnya Dievakuasi
2. Streetwear Personal
Streetwear tetap menjadi favorit, namun Gen Z menambahkan elemen personal seperti patch DIY, grafis custom, dan layering yang unik. Sneakers chunky, hoodie oversized, dan celana cargo menjadi staples, sering dipadukan dengan aksesori seperti beanie, rantai, dan tote bag bergambar.
3. Sustainable Fashion
Kesadaran lingkungan membuat Gen Z memilih fashion yang lebih berkelanjutan. Thrifting, upcycling, dan mendukung brand lokal menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Mereka bangga mengenakan pakaian bekas yang diubah menjadi karya baru, sebagai bentuk perlawanan terhadap fast fashion.
4. Gender-Neutral Style
Gen Z menolak batasan gender dalam fashion. Rok, blazer, dan makeup digunakan lintas gender, menciptakan ruang ekspresi yang lebih bebas dan inklusif. Gaya ini tidak hanya populer di media sosial, tetapi juga mulai diadopsi oleh brand besar.
5. Cottagecore & Soft Aesthetic
Gaya feminin dan dreamy seperti dress floral, cardigan rajut, dan warna pastel menjadi tren di Instagram dan Pinterest. Cottagecore mencerminkan keinginan untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk kota dan kembali ke estetika pedesaan yang tenang.
Media Sosial sebagai Runway Digital
TikTok dan Instagram telah menjadi runway digital di mana tren fashion Gen Z lahir dan menyebar. Algoritma TikTok memungkinkan gaya baru viral dalam waktu singkat, sementara Instagram menjadi tempat kurasi visual yang lebih artistik. Hashtag seperti #OOTD, #GenZFashion, dan #ThriftFlip menjadi sumber inspirasi jutaan pengguna.
Influencer muda seperti Emma Chamberlain, Wisdom Kaye, dan Bretman Rock memainkan peran penting dalam membentuk selera fashion Gen Z. Mereka tidak hanya memamerkan pakaian, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kepercayaan diri, keberagaman, dan kreativitas.
Baca Juga: Gus Bupati Mojokerto Pastikan Produktivitas Pertanian Surplus
Fashion sebagai Pernyataan Sosial
Bagi Gen Z, fashion adalah alat untuk menyuarakan isu-isu penting. Mereka menggunakan pakaian untuk mendukung gerakan seperti body positivity, climate justice, dan hak LGBTQ+. Gaya mereka mencerminkan keberanian untuk berbeda, menolak standar kecantikan konvensional, dan merayakan keunikan individu.
OOTD ala Gen Z bukan sekadar tren musiman ini adalah gerakan budaya yang mencerminkan semangat zaman. Dengan kreativitas, keberanian, dan kesadaran sosial, Gen Z telah mengubah cara dunia memandang fashion. Mereka tidak hanya mengenakan pakaian, mereka menghidupkannya, menjadikannya media ekspresi, komunikasi, dan perubahan.
ANGELINA
Editor : Imron Arlado