Jawa Pos Radar Mojokerto - Lagu anak - anak yang berjudul "Naik Kereta Api" ciptaan Ibu Sud, atau Saridjah Niung.
Dia menciptakan lagu ini terinspirasi saat menaiki kereta api menuju Surabaya. Kini Pemerintahan Republik Indonesia menegaskan kembalinya komitmen untuk mewujudkan terobosan Transportasi di pulau jawa.
Adanya perjalanan Bandung - Surabaya yang identik dengan kata “Lama” karena jarak tempuh kurang lebih 10 jam, kini akan lebih cepat menjadi 3 jam.
Presiden Prabowo Subianto, lewat arahan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar ide di atas kertas.
Menurut AHY, presiden menginginkan jalur kereta cepat yang sudah beroperasi dari Jakarta ke Bandung diperpanjang hingga Surabaya.
“Ini bukan cuma soal membangun rel baru, tapi soal membangun konektivitas nasional yang lebih kuat,” jelas AHY. Ia juga menambahkan, pemerintah sedang menyiapkan aturan pendukung agar proyek ini punya dasar hukum yang kuat dan bisa segera dikerjakan.
Dukungan juga datang dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, yang memastikan proyek kereta cepat Jakarta – Surabaya tetap berjalan.
Beliau menyebut proyek ini sudah masuk Rencana Induk Perkeretaapian Nasional dan kini menunggu terbitnya Perpres sebelum masuk tahap studi gabungan dengan calon investor, termasuk dari Tiongkok.
Bagi banyak masyarakat Indonesia, kenangan pertama tentang kereta datang dari lagu anak-anak “Naik Kereta Api.”
Liriknya sederhana, ceria, dan menggambarkan perjalanan penuh kegembiraan di atas rel. Lagu ini sering dinyanyikan di TK atau SD, dan menanamkan imajinasi bahwa naik kereta adalah petualangan yang menyenangkan.
Jika proyek ini direalisasikan maka banyak manfaat ekonomi dan sosial, dampaknya memudahkan mobilitas masyarakat, jalur kereta cepat Bandung – Surabaya akan membuka peluang ekonomi baru di kota-kota yang dilewati.
Distribusi barang bisa lebih cepat, wisata antarwilayah akan meningkat, dan potensi investasi di sepanjang jalur akan bertambah.
Meski banyak pihak yang optimistis, jalan menuju realisasi proyek ini tentu tidak mulus. Selain persoalan pendanaan, ada tantangan teknis seperti pembebasan lahan, perizinan, dan integrasi dengan jalur yang sudah ada.
Pemerintah juga perlu meyakinkan publik bahwa proyek ini layak secara finansial dan bermanfaat jangka panjang.
Beberapa pengamat mengingatkan bahwa proyek kereta cepat Jakarta – Bandung saja sudah menelan biaya besar dan menghadapi berbagai hambatan. Oleh karena itu, untuk proyek yang skalanya jauh lebih panjang ini, persiapan harus jauh lebih matang.
Dulu, anak-anak melantunkan lagu mengenai keseruan bepergian dengan kereta, membayangkan perjalanan yang panjang dan penuh panorama yang indah.
Saat ini, jika rencana ini terlaksana, mereka akan dapat menyanyikan lagu tersebut sambil benar-benar melaju dengan cepat dari Bandung menuju Surabaya dan sebelum mereka selesai menyanyikannya beberapa kali, stasiun tujuan sudah terlihat di depan mereka.
Jika semua tahap ini berjalan dengan baik, harapan untuk melakukan perjalanan selama 3 jam dari Bandung ke Surabaya akan menjadi kenyataan, bukan sekadar angan, tetapi sebuah kesempatan yang bisa mengubah peta mobilitas dan ekonomi Jawa di masa depan. Leny Ramandhan Oktaviany
Editor : Imron Arlado