Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengapa Otak Manusia Cenderung Lebih Lama Memikirkan Hal Negatif Dibanding Hal Positif? Simak Penjelasannya!

Imron Arlado • Senin, 11 Agustus 2025 | 21:03 WIB
Pernahkah anda merasa sebuah komentar buruk dari seseorang terus terngiang-ngiang di kepala, sementara pujian yang anda terima hanya sebentar saja terasa?. sumber foto: pinterets
Pernahkah anda merasa sebuah komentar buruk dari seseorang terus terngiang-ngiang di kepala, sementara pujian yang anda terima hanya sebentar saja terasa?. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pernahkah anda merasa sebuah komentar buruk dari seseorang terus terngiang-ngiang di kepala, sementara pujian yang anda terima hanya sebentar saja terasa?.

Fenomena ini bukan hanya sekedar perasaan. Otak manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk memikirkan hal negatif lebih lama dibanding hal positif.

Secara ilmiah, kecenderungan ini dikenal dengan istilah negativity bias. Dari sudut pandang evolusi, ini adalah mekanisme bertahan hidup.

 

Warisan dari Masa Lalu, Perspektif Evolusi

Ribuan tahun lalu, manusia hidup di lingkungan yang penuh risiko. Ancaman datang dari berbagai arah seperti, binatang buas, cuaca ekstrem, atau makanan beracun. Bagi nenek moyang kita, mengingat bahaya lebih penting daripada mengingat hal menyenangkan.

Misalnya, jika seseorang mengingat dengan jelas di mana seekor harimau biasanya berkeliaran. Ia memiliki peluang lebih besar untuk selamat dibanding orang yang hanya mengingat lokasi pohon buah yang enak untuk dimakan

 

 

Mesin Emosi di otak: Peran Amigdala dan Hormon Stres

Secara biologis, hal negatif memicu reaksi emosional yang lebih kuat di otak. Bagian otak yang berperan besar adalah amigdala, pusat pengatur rasa takut dan kewaspadaan. 

Saat kita menghadapi ancaman atau pengalaman buruk, amigdala menyalakan alarm yang memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. 

Kortisol membuat otak lebih siap menyimpan detail pengalaman tersebut. Tujuannya jelas agar kita menghindari kejadian serupa di masa depan.

Inilah sebabnya mengapa pengalaman memalukan saat sekolah, kegagalan di tempat kerja, atau komentar menyakitkan bisa bertahan di ingatan selama bertahun-tahun.



Rumination: Ketika Pikiran Terjebak di Masa Lalu

Salah satu alasan kita terjebak dalam hal negatif adalah kebiasaan rumination atau memutar ulang kejadian buruk di kepala. Misalnya, setelah, membuat kesalahan saat presentasi, kita mungkin terus bertanya seperti, “Kenapa aku bisa lupa poin itu?”, “Mereka pasti menganggap aku bodoh”. 

Proses ini membuat memori negatif semakin kuat dan emosinya semakin melekat. Sebaiknya, pengalaman positif jarang kita ruminasikan dengan cara yang sama.



Pengaruh Budaya dan Pola Asuh

Selain faktor biologis, lingkungan dan budaya juga mempengaruhi. Dalam banyak masyarakat, anak-anak sering mendapat lebih banyak peringatan daripada pujian.

Kalimat seperti “Jangan lari-lari, nanti jatuh!” atau “Jangan pegang itu, berbahaya!” terdengar jauh lebih sering daripada “Kamu hebat sudah mencoba!”.

Baca Juga: Hanya Butuh Waktu 38 Detik, El Rumi Kalahkan Jefri Nichol

 

Pola ini membentuk kebiasaan otak untuk memberi perhatian lebih besar pada potensi masalah atau kesalahan. Akibatnya, saat dewasa, kita lebih cepat mengingat kegagalan dan kritik dibanding keberhasilan dan apresiasi.

 

Dampak Negativity Bias dalam Kehidupan Sehari-hari

Kecenderungan ini mempengaruhi berbagai aspek hidup, mulai dari hubungan pribadi, pekerjaan, hingga kesehatan mental:

 

 

Bisakah Kita Mengubahnya?

Kabar baiknya, meskipun negativity bias adalah sifat bawaan, kita bisa melatih otak untuk menyeimbangkan. Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:

 

 

Setiap hari, tulis minimal tiga hal positif yang terjadi, sekecil apa pun. Kebiasaan ini memberi sinyal pada otak untuk mencari hal baik.

Saat mengalami momen menyenangkan, berhenti sejenak. Tarik napas dalam-dalam, rasakan detailnya, dan simpan dalam pikiran selama 10-20 detik.

Saat menyadari pikiran mulai berputar pada kejadian negatif, alihkan dengan aktivitas fisik, membaca, atau berbicara dengan orang yang mendukung.

Otak manusia cenderung memikirkan hal negatif lebih lama karena warisan evolusi, reaksi biologis yang kuat, kebiasaan rumination, dan pengaruh budaya. Namun, sifat ini bukan kutukan permanen. 

Dengan latihan kesadaran, syukur, dan reframing, kita dapat memberi ruang yang lebih besar untuk hal-hal baik dalam hidup. AILEEN 

Editor : Imron Arlado
#kortisol #negativity bias #Rumination #Hal Positif #amigdala #Pengaruh Budaya dan Pola Asuh #hormon stres #Mindfulness