RADAR MOJOKERTO - Berbohong adalah suatu tindakan seseorang tidak mengatakan hal atau informasi sebenarnya kepada lawan bicara dengan atau tanpa adanya tujuan tertentu.
Alih-alih tahu bahwa tindakan tersebut tidak benar, beberapa orang menganggap berbohong justru menjadi sebuah rutinitas atau kebiasaan dan pada kondisi tersebut bisa masuk dalam kategori gangguan yang disebut mythomania atau kebohongan patologis.
Definisi Mythomania
Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa mythomania merupakan kondisi seseorang yang memiliki kebiasaan berbohong, meski tanpa disertai alasan jelas dibaliknya.
Mythomania terjadi berulang tanpa bisa dikendalikan dan bersifat kompulsif. Seorang mythomania tidak memiliki keterikatan pada fakta atau kebenaran, cenderung berisi khayalan yang diolah sedemikian rupa untuk membuatnya seakan benar terjadi dalam realita.
Mythomania vs Bohong
Mythomania memanglah bagian dalam kebohongan. Namun ternyata mythomania dengan berbohong biasa memiliki perbedaan.
Berbohong biasa umumnya dilakukan atas dorongan tertentu dan memiliki alasan jelas yang melandasinya, misalnya takut untuk melukai orang lain, menghindar dari masalah, menutupi kesalahan, dan sebagainya.
Pada mythomania, kebohongan dilakukan secara berulang kali meski tidak ada alasan khusus mengapa kebohongan itu diutarakan.
Bahkan dalam kasus mythomania, seseorang dapat berbohong dengan tanpa bisa dikendalikan, terjadi begitu saja.
Ciri Mythomania
1. Membicarakan kehebatan diri sendiri
Orang dengan mythomania lebih sering menyanjung kehebatan dalam dirinya dan ingin mendapatkan validasi atas kehebatan yang disampaikan.
Dalam kondisi ini, bisa juga dikatakan bahwa mythomania berkorelasi dengan kepribadian narsistik.
2. Defensif
Saat melakukan kebohongan, terkadang ada yang memberikan tanda-tanda kecemasan seperti keringat dingin atau keragu-raguan saat bicara. Namun saat terbiasa melakukannya, seseorang malah tidak menunjukkan reaksi fisik apapun sehingga sulit untuk diidentifikasi.
Ada atau tidaknya reaksi fisik seorang mythomania adalah bentuk dari perilaku defensif atau perlindungan terhadap diri sendiri atas respon orang lain, termasuk saat orang lain mengomentari dan mengkritik ceritanya.
3. Menjadi korban untuk memperoleh empati
Meski tidak selalu, namun beberapa orang dengan mythomania akan bertindak seolah sebagai korban untuk mendapat empati dari pendengar.
4. Cerita stabil, terstruktur, dan dramatis
Pengidap mythomania akan menciptakan kebohongan dengan alur terstruktur dan konsisten terhadap polanya sehingga akan menumbuhkan kepercayaan bagi setiap kebohongannya.
Meski begitu, terkadang cerita yang disampaikan cenderung lebih dramatis agar terkesan lebih menarik untuk didengar.
5. Menghindar atau menanggapi pertanyaan terlalu cepat dan kurang jelas
Kehadiran pertanyaan mendadak atau diluar ekspektasi membuat seorang mythomania merasa kebingungan dan cenderung menghindarinya, misal dengan mengalihkan topik pembicaraan.
Dalam kondisi lain, pertanyaan bisa dijawab dengan terlalu cepat namun tidak memiliki jawaban yang jelas dan masuk akal.
6. Denial atas kebenaran
Saat dihadapkan dengan fakta, seorang mythomania akan tetap menyangkal atau bersikap denial atas kebenaran yang ada. Kebiasaan berbohong akan tetap mendorongnya untuk melakukan kebohongan lain dan menyangkal kebenaran.
Penyebab Mythomania
Meski belum memiliki penyebab pasti, namun mythomania bisa disebabkan oleh trauma. Selain itu, ada kemungkinan lain yang berhubungan dengan gangguan mental atau gangguan kepribadian dari pengidap mythomania, sehingga lebih baik untuk mengkonsultasikannya dengan dokter.
Secara umum, mythomania bisa disebabkan akibat insecurity atau rendahnya kepercayaan diri seseorang. Hal ini bisa dikarenakan akibat adanya anggapan bahwa hidup yang dijalani terlalu menyedihkan atau justru biasa-biasa saja sehingga memerlukan bumbu-bumbu kebohongan agar orang lain melihat bahwa kehidupannya begitu menarik.
Namun tidak semua dengan mythomania memiliki alasan khusus saat melakukan kebohongan atas suatu hal.
Cara Menghadapi Mythomania
Sarankan untuk berobat atau pergi ke dokter. Saat berhadapan dengan seorang mythomania, cobalah ajak untuk berkonsultasi dengan ahli seperti dokter dan psikolog agar kebiasaan tersebut tidak menimbulkan efek negatif dalam jangka panjang.
Menunjukkan kebenaran tanpa emosi. Seorang mythomania tidak akan mudah dikendalikan dan cenderung menyangkal kebenaran. Oleh karenanya, penting menciptakan suasana yang tenang dan berbicara secara perlahan untuk menunjukkan kebenaran sebenarnya.
Berikan dukungan. Tidak perlu menghakimi secara berlebihan saat bertemu seorang mythomania. Cukup berikan ruang aman dan tetap suportif dengan menunjukkan rasa empati.
Harapannya adalah dengan support dan pemberian ruang aman dan nyaman bisa mendukung seorang mythomania untuk perlahan berbicara lebih jujur dan tidak merasa malu.
Tetapkan batasan. Buat batasan yang sehat dengan pengidap mythomania. Sebab, menanggapi kebohongan secara terus menerus bisa menimbulkan kelelahan secara emosi dan mental diri sendiri.
Editor : Imron Arlado