Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pola Asuh yang Salah Akan Berdampak Besar Terhadap Psikologi Anak, Begini Kata Ahlinya

Imron Arlado • Jumat, 8 Agustus 2025 | 00:28 WIB

 

Pola asuh adalah fondasi utama dalam membentuk perkembangan mental dan emosional seorang anak. sumber foto: pinterets
Pola asuh adalah fondasi utama dalam membentuk perkembangan mental dan emosional seorang anak. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pola asuh adalah fondasi utama dalam membentuk perkembangan mental dan emosional seorang anak. Dalam lingkungan keluarga yang sehat, anak akan merasa aman, diterima dan dicintai tanpa syarat.

Namun, tidak semua anak beruntung tumbuh dalam lingkungan demikian. Beberapa justru hidup dalam pola asuh yang toxic, yang secara tidak sadar (atau bahkan sengaja) membentuk luka psikologi yang dalam dan berdampak jangka panjang.

 

Apa itu Toxic Parenting?

Toxic Parenting merujuk pada gaya pengasuhan yang secara terus-menerus memberikan dampak negatif terhadap kondisi psikologi anak.

Pola ini tidak selalu terlihat dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan lebih sering hadir dalam bentuk yang lebih halus seperti manipulasi emosional.

 

Ciri-ciri pola asuh yang toxic antara lain:

 

Baca Juga: Menelusuri Jejak Peradaban sebelum Sungai Eufrat Mengering

 

 

Orang tua dengan pola asuh toxic sering kali tidak menyadari perilaku salah karena mereka menganggap ini demi kebaikan anak. Namun, niat naik tanpa kesadaran emosional dapat menimbulkan luka yang dalam.

 

Dampak Psikologis pada Anak

Pola asuh yang salah bisa menciptakan trauma emosional yang menetap, bahkan hingga dewasa dan menjadi orang tua sendiri. Inilah dampak-dampak umum dari toxic parenting tentang psikologi anak:

 

 

Anak yang tumbuh di bawah tekanan dan kritik konstan akan mengalami kesulitan mempercayai nilai dirinya sendiri.

Mereka merasa tidak pernah cukup baik, selalu salah, dan hidup dalam ketakutan akan kegagalan.

 

Baca Juga: Produktivitas vs Overworking: Bagaimana Menyeimbangkannya? Baca Penjelasannya!

 

 

 

Lingkungan rumah yang tidak aman secara emosional menciptakan stres kronis pada anak. Mereka belajar untuk menyembunyikan perasaan, takut berbicara, dan cemas dalam situasi sosial.

 

 

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh toxic sering tumbuh tanpa pemahaman akan relasi yang sehat. Mereka bisa menjadi terlalu bergantungan, takut ditinggalkan, atau justru menghindari kedekatan emosional.

 

 

Konsep inner child merujuk pada bagian dari diri seseorang yang membawa kenangan dan luka masa kecil. Dalam banyak kasus, orang dewasa yang dibesarkan secara toxic memiliki inner child yang terluka.

Ada dua respon ekstrem dari anak terhadap ekspektasi orang tua yang tidak sehat. Pertama, menjadi perfeksionis demi mendapatkan pengakuan. Kedua, menjadi apatis karena merasa usaha apapun tidak akan cukup.



Mengapa Siklus ini Terus Berulang?

Salah satu alasan utama toxic parenting sulit dihentikan adalah karena pola ini seringkali merupakan warisan antar generasi.

 

 

Orang tua yang pernah mengalami pengasuhan tidak sehat saat kecil, cenderung mengulanginya kepada anak-anak mereka.

Mereka tidak pernah diajarkan cara mengelola emosi, berkomunikasi dengan empati, atau mengenali kebutuhan psikologi anak.

Selain itu, budaya yang menormalisasi kekerasan verbal dan fisik dalam keluarga turut memperkuat siklus ini.

 

Jalan Menuju Pemulihan

Meskipun dampak dari toxic parenting sangat nyata dan dalam, bukan berarti tidak ada jalan keluar.

Proses penyembuhan dimulai dari kesadaran seperti, menyadari bahwa apa yang pernah diterima bukanlah bentuk cinta yang sehat.

 

Berikut langkah-langkah untuk bisa pulih:

 

 

 

 

Toxic parenting bukan hanya sekedar tentang orang tua yang galak atau keras. Ini adalah pola yang secara terus-menerus merusak perkembangan emosional anak, menciptakan luka psikologi yang bisa terbawa seumur hidup. 

Menyadari dan mengakui keberadaan pola ini adalah langkah awal menuju perubahan. Anak-anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung, penuh empati, dan aman secara emosional. AILEEN

Editor : Imron Arlado
#Gangguan Kecemasan dan Depresi #Dampak Psikologis pada Anak #pola asuh #emosional anak #Luka Inner Child #apatis #boundaries #Perfeksionisme #toxic parenting #psikologi anak