JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Seiring meningkatnya popularitas game Roblox di kalangan anak-anak, pemerintah dan para ahli semakin mengingatkan orang tua untuk melakukan pengawasan ketat saat anak bermain game ini.
Penelitian terbaru menunjukan pengawasan ketat saat anak bermain Roblox tanpa pengawasan orang tua berisiko terpapar bahasa kasar, percakapan tidak pantas, serta perilaku tidak sesuai usia.
Roblox sebagai platfrom terbuka memungkinkan fitur chat yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan pemain lain secara bebas.
Hal ini berpotensi membuat anak-anak menerima kata-kata kasar, bullying, hingga percakapan negatif yang berdampak buruk pada perkembangan bahasa dan moral mereka. Berikut bahaya utama anak bermain game roblox:
- Paparan Konten Kekerasan dan Tidak Pantas
Banyak mode permainan di Roblox menampilkan adegan kekerasan. Berantem, penggunaan kata-kata kasar, darah, bahkan tema horor atau perilaku seksual, meski tampilan awalnya terlihat ramah anak.
Anak-anak SD yang belum mampu membedakan antara nyata dan fiksi berisiko meniru perilaku kekerasan dalam kehidupan sehari-hari setelah melihatnya di game.
- Potensi Kecanduan
Roblox menawarkan ribuan game yang terus bertambah setiap hari, membuat anak bisa menghabiskan waktu secara berlebihan di depan layar.
Studi menemukan kecanduanini dapat mengganggu aktivitas lain seperti belajar, tidur, atau berinteraksi di dunia nyata.
Baca Juga: Intip Fakta Menarik Squid Game 3, Musim Penutup Kisah dengan Permainan yang Lebih Brutal
- Risiko Interaksi dengan Orang Asing
Platfrom Roblox memungkinkan fitur chat publik dan privat, sehingga anak-anak bisa saja tanpa sadar berinteraksi dengan orang dewasa yang mencari korban(grooming), mendapat pesan tidak pantas atau menjadi korban penipuan.
Meskipun sudah ada filter usia dan fitur proteksi, efektivitasnya masih terbatas dan eksploitasi tetap mungkin terjadi.
- Regulasi Emosi dan Mental
Penelitian di Indonesia menunjukan intensitas bermain Roblox memengaruhi regulasi emosi anak usia dini.
Anak lebih mudah marah, sulit mengontrol emosi, dan kesulitan menyesuaikan diri saat harus berhenti main game.
Anak juga cenderung mengekspresikan emosi negatif jika akses ke game dibatasi secara mendadak.
Baca Juga: Ramai-ramai Viral Bendera One Piece, di Kota Mojokerto Benderanya Nangkring di Warung Kopi
- Kebingungan Batas Dunia Maya dan Nyata
Anak-anak khususnya usia SD ke bawah rentan hilang batas antara perilaku di dunia maya dengan realita.
Contohnya, tindak kekerasan yang dilakukan di game diulang di dunia nyata tanpa memahami konsekuensinya.
- Kecanduan TopUp
Anak bisa tergoda untuk melakukan pembelian dalam aplikasi menggunakan mata uang virtual (Robux) tanpa pemahaman yang dapat merugikan secara finansial jika diawasi orang tua.
Orang tua disarankan untuk mendiskusikan secara terbuka dengan anak mengenai pentingnya penggunaan bahasa yang sopan dan menghindari kata-kata kasar, serta mengatur batas waktu bermain agar anak tetap seimbang dalam kegiatan sehari-hari.
Penting bagi setiap orang tua untuk memahami bahwa Roblox bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang sosial virtual yang berpotensi membawa dampak bahasa dan perilaku jika tidak diawasi dengan benar.
Devi
Editor : Imron Arlado