Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mesopotamia: Sejarah Awal Munculnya Peradaban Dunia Mulai dari Sumeria hingga Babilonia

Imron Arlado • Selasa, 5 Agustus 2025 | 00:12 WIB
Mesopotamia merupakan suatu wilayah tertua di dunia yang dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban kuno yang megah. Sumber foto: Google
Mesopotamia merupakan suatu wilayah tertua di dunia yang dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban kuno yang megah. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Mesopotamia merupakan suatu wilayah tertua di dunia yang dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban kuno yang megah.

Dahulu kala, di tanah Mesopotamia, para manusia pertama kali meninggalkan gaya hidup nomaden atau berpindah-pindah dan mulai menerapkan gaya hidup menetap yang terorganisir.

Peradaban yang tumbuh di tanah Mesopotamia menjadi pilar yang sangat penting dalam sistem sosial, politik, ekonomi, hukum, dan budaya.

Hal ini karena letak Mesopotamia yang strategis dan berada di wilayah yang subur antara Sungai Eufrat dan Tigris yang subur dan dapat mendukung berkembangnya kehidupan.

Karena itu, Mesopotamia dijuluki dengan sebutan "Cradle of Civilization" yang memiliki arti "Buaian Peradaban".

Letak Mesopotamia adalah di wilayah yang saat ini disebut dengan Irak Selatan yang saat itu beriklim panas dan kering.

Mesopotamia tepatnya terletak di antara dua sungai yang mengalir secara sejajar dan berkala membanjiri wilayah daratan di sekitarnya.

Banjir kedua sungai ini membawa lumpur subur yang disebut dengan aluvium. Aluvium ini memberikan pengaruh yang baik untuk pertanian.

 

Baca Juga: Fesyen yang Menunjang Penampilan

 

Namun, banjir kedua sungai ini tidak bisa diprediksi. Maka dari itu para masyarakat Mesopotamia harus membangun sistem irigasi dan pengendalian air yang baik.

Dari situlah, manusia dapat mempelajari konsep bekerja sama, membangun bendungan, kanal, sekaligus sistem pertanian yang terstruktur secara rapi.

Lingkungan wilayah Mesopotamia juga menjadi pemicu munculnya peradaban maju karena manusia telah terlatih untuk mengatur sumber daya secara efisien agar bisa bertahan hidup.

Sementara itu, peradaban pertama dan tertua di dunia yang muncul di wilayah Mesopotamia adalah Sumeria. Sumeria berkembang kurang lebih sekitar tahun 4500 hingga 1900 sebelum masehi.

Masyarakat Sumeria secara mandiri membangun kota-kota yang disebut dengan city-states atau kota-negara, contohnya seperti Uruk, Ur, Eridu, Lagash, dan Nippur.

Masing-masing kota tersebut memiliki sistem pemerintahan yang berbeda dan dipimpin oleh seorang lugal (raja) atau ensi (imam-raja).

Raja dan imam raja di sini memiliki perbedaan pada fungsi serta kedudukannya di konteks waktu dan kota.

Lugal sendiri memiliki peran utama sebagai raja sekuler dan militer yang seringkali muncul saat kondisi wilayah mengalami konflik dan membutuhkan pemimpin perang.

Lugal juga dipercaya sering menguasai banyak kota dan kekuasaannya lebih mirip dengan raja dinasti atau pemimpin kerajaan. Sedangkan, ensi adalah gelar untuk pangeran yang berkuasa di kota-negara.

Sumeria juga dikenal sebagai wilayah pertama yang menciptakan sistem tulisan pertama di dunia, yakni tulisan paku atau cuneiform.

Para masyarakat Sumeria juga membangun sebuah kuil bertingkat besar yang menjadi pusat keagamaan dan politik yang disebut sebagai Ziggurat.

Selain itu, bangsa Sumeria juga mengembangkan sistem bilangan berbasis 60 yang kemudian menjadi dasar bagi sistem waktu modern. Seperti 60 detik per menit, dan 60 menit per jam.

Sumeria dipercaya menganut sistem politeisme, mereka mempercayai bahwa hanya Tuhan mereka masing-masing yang dapat mengatur alam dan kehidupan masyarakat.

Dewa-dewa utama rakyat Sumeria saat itu adalah An (dewa langit), Enlil (dewa angin), Enki (dewa air dan kebijaksanaan), dan Innana (dewi cinta dan perang).

 

Baca Juga: Kacamata Cat Eye yang Kembang Ngetren

 

Sumeria juga memiliki karya sastra yang terkenal karya Epos Gilgamesh. Karya ini memuat nilai-nilai moral, mitologi, dan pandangan hidup pada masa itu.

Setelah Sumeria mengalami penurunan, para masyarakat bangsa Amorit mendirikan kerajaan baru bernama Babilonia sebagai penerus peradaban Sumeria dengan melanjutkan serta menyempurnakan tradisi Sumeria dalam aspek administrasi, hukum, dan arsitektur.

Kota Babilonia yang juga dikenal sebagai Babylon terletak di wilayah strategis sepanjang sungai Eufrat dan tumbuh menjadi pusat perdagangan dan budaya yang penting.

Kejayaan Babilonia semakin terlihat saat berada di bawah kepemimpinan Nebukadnezar II pada periode Neo-Babilonia di tahun 626-539 sebelum masehi.

Nebukadnezar II memerintah dengan kehebatannya dan memperindah kota Babilonia hingga menjadi pusat peradaban dunia. Ia membangun Gerbang Ishtar, salah satu gerbang kota paling indah dengan ubin biru dan relief singa yang besar.

 

Baca Juga: Masalah Overkapasitas Lapas Belum Tuntas

 

Ia juga membangun sebuah bangunan yang termasuk dalam tujuh keajaiban kuno yang disebut sebagai Taman Gantung Babilonia.

Babilonia kemudian mengalami masa keruntuhan pada tahun 539 SM karena ditaklukkan oleh Cyrus Agung dari Persia. Kejadian ini menandai berakhirnya kekuasaan bangsa Babilonia sekaligus menandai bahwa tanah Mesopotamia telah menjadi bagian dari Kekaisaran Persia Achaemenid.

FANEZA

 

Editor : Imron Arlado
#irak selatan #gerbang ishtar #lugal #buaian peradaban #taman gantung babilonia #Peradaban Kuno #pusat keagamaan #Cradle of Civilization #Nebukadnezar II #ensi #sumeria #ziggurat #babylon #cyrus agung #Kekaisaran Persia Achaemenid #pemicu munculnya peradaban baru #wilayah tertua #babilonia #mesopotamia