JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Gerhana matahari adalah sebuah fenomena alam yang terjadi ketika Bulan berada sejajar dengan Matahari dan Bumi, sehingga cahaya Matahari sebagian atau seluruhnya.
Fenomena ini memiliki makna dan menjadi momen langka terutama bagi bagi umat muslim. Ada serangkaian shalat yang bisa dikerjakan ketika fenomena gerhana matahari ini terjadi.
Shalat gerhana matahari bisa disebut kusuf syamsy, dilakukan dengan dua rakaat, yang dapat dikerjakan secara berjamaah, baik di dalam masjid maupun di tempat yang luas.
Baca Juga: Fenomena Langit Langka: Terakhir Kali Gerhana Matahari Total Muncul di Tahun 2024
Shalat gerhana ini dilaksanakan pada saat terjadi gerhana matahari waktu di puncak hingga gerhana mataharinya selesai.
Menurut MUI Digital (Majelis Ulama Indonesia) yang menyebutkan bahwa shalat gerhana (kusuf) termasuk ke dalam kategori sunnah muakkadah, yang merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan.
Bagi yang ingin melakukan shalat gerhana matahari, dapat mengikuti tata cara yang telah ditentukan, mulai dari bacaan, rakat hingga niatnya.
Baca Juga: Gerhana Matahari Total Muncul Pada 2 Agustus, Berikut Sederet Mitos yang Dipercaya Masyarakat
Hal ini didasarkan dalil dari hadis Nabi Muhammad SAW:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ
“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena matinya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka dirikanlah shalat dan banyaklah berdoa hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian.” (HR. Bukhari no. 982)
Selain itu hal tersebut didasari juga dalil dari ayat Al-Qur’an dan hadis dari Rasulullah SAW (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Daarul Fikr, Juz 2, halaman 1.422).
وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
"Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya." (QS. Fuṣṣilat [41]:37).
Orang-orang yang diwajibkan melaksanakan shalat gerhana adalah orang yang ditinggal berada di daerah yang dilalui oleh gerhana. Sedangkan bagi yang tinggal di wilayah yang tidak dilintasi gerhana, tidak diwajibkan untuk melakukannya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Anime Wajib Ditonton Bagi Pemula, Ada yang Akan Tayang di Bioskop Agustus ini!
Sedangkan maksud dari ayat yang telah disebutkan adalah, umat islam dilarang untuk bersujud kepada matahari dan bulan, akan tetapi dianjurkan melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana, sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap kekuasaan Allah SWT.
Berikut tata cara shalat Gerhana Matahari:
Pelaksanaan shalat gerhana matahari ini tidak perlu adzan dan iqamah. Apabila matahari sudah berada di puncak, maka bilal menyerukan shalat dengan membaca “aṣ-ṣalātu jāmi’ah”
Niat shalat gerhana matahari
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatan-likhusuufi-syamsi imaaman/makmuman lillali ta'ala
Artinya: Saya niat shalat sunnah gerhana Matahari sebagai imam atau makmum karena Allah SWT.
Tata cara shalat gerhana matahari :
- Membaca niat shalat gerhana matahari
- Membaca doa iftitah dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah dan surah lainnya.
- Ruku’
- I’tidal
- Setelah i’tidal, tidak langsung melakukan sujud, melainkan dilanjutkan dengan membaca surah Al-Fatihah dan surah lainnya. Disunnahkan membaca Surah Ali Imran atau surah pendek lainnya, dengan dibaca secara sirri (dengan suara pelan atau tanpa dikeraskan).
- Ruku’ kedua
- Kemudia I’tidal
- Sujud
- Bangkit dari sujud dan melanjutkan rakat kedua sebagaimana rakat pertama
- Salam
Wulandari
Editor : Imron Arlado