Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Takut Bahagia? Fenomena Cherophobia dan Dampaknya pada Kehidupan Modern

Imron Arlado • Selasa, 29 Juli 2025 | 22:23 WIB
Takut Bahagia? Fenomena Cherophobia dan Dampaknya pada Kehidupan Modern
Takut Bahagia? Fenomena Cherophobia dan Dampaknya pada Kehidupan Modern

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di balik senyum dan tawa yang kerap dianggap sebagai tanda kebahagiaan, tersimpan sebuah fenomena psikologis langka namun nyata—cherophobia, yaitu rasa takut akan kebahagiaan.

Meski terdengar paradoksal, kondisi ini membuat seseorang secara sadar atau tidak menghindari situasi yang bisa membuatnya merasa bahagia.

Cherophobia berasal dari kata Yunani "chairo" yang berarti "kebahagiaan" dan "phobia" yang berarti "takut".

Orang dengan cherophobia tidak membenci kebahagiaan, namun mereka percaya bahwa kebahagiaan akan mengundang kesialan atau penderitaan.

Akibatnya, mereka menolak aktivitas sosial yang menyenangkan, menghindari perayaan, atau merasa tidak nyaman saat hidup terasa terlalu “baik”.

Penderita cherophobia mungkin menunjukkan beberapa ciri berikut:

- Menghindari momen menyenangkan karena takut konsekuensi buruk.

- Merasa bersalah saat merasa bahagia.

- Menganggap kebahagiaan sebagai tanda kelemahan atau keegoisan.

- Enggan ikut kegiatan yang melibatkan tawa, musik, atau hiburan.

 

 

 

Faktor Penyebab Cherophobia

Meskipun belum banyak studi mendalam, para psikolog menduga cherophobia bisa dipicu oleh:

- Trauma masa lalu yang berkaitan dengan kehilangan setelah kebahagiaan.

- Pola asuh yang menanamkan bahwa “kebahagiaan itu tidak abadi”.

- Kecenderungan perfeksionisme atau gangguan kecemasan.

- Keyakinan budaya atau spiritual tertentu yang memandang kesenangan sebagai sesuatu yang patut dihindari.

 

Cherophobia di Era Digital

Media sosial yang penuh pencitraan dan ekspektasi bisa memperparah kondisi ini. Ketika kebahagiaan ditampilkan secara berlebihan dan tidak realistis, sebagian orang justru semakin merasa cemas terhadap kebahagiaan mereka sendiri. Mereka membandingkan diri, merasa tidak layak bahagia, atau bahkan mencurigai kebahagiaan orang lain.

 Baca Juga: Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Buka Lahan Baru untuk Tanam Kopi Bendil

 

Cherophobia bukan gangguan mental resmi seperti depresi atau fobia lainnya, namun bisa berdampak signifikan pada kualitas hidup. Terapi kognitif perilaku (CBT) menjadi pendekatan yang menjanjikan untuk membantu individu mengenali pola pikir negatif dan membangun hubungan sehat dengan kebahagiaan.

 

Cherophobia mengingatkan kita bahwa bahagia pun bisa menjadi hal yang kompleks. Dalam dunia yang mengagungkan kebahagiaan sebagai tolok ukur kesuksesan, kita perlu memahami bahwa tidak semua orang melihat kebahagiaan sebagai tujuan utama.

Yang penting adalah mengenali perasaan kita sendiri dan, jika perlu, mencari bantuan untuk mengatasi ketakutan yang tersembunyi di balik senyuman. ANGELINA

 

Editor : Imron Arlado
#faktor penyebab #phobia #Kehidupan modern #cheorophobia #Takut Bahagia