JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Garam adalah senyawa kimia yang terbentuk dari unsur natrium (Na) dan klorin (Cl) yang kemudian membentuk senyawa kimia natrium klorida atau NaCL.
Di zaman modern seperti saat ini, garam hanya dianggap sebagai penyedap rasa atau bumbu dapur dan bahan pengawet makanan.
Garam memiliki dasar cita rasa yang asin, namun garam juga dapat mempengaruhi rasa makanan menjadi lebih seimbang seperti meningkatkan rasa manis, gurih atau umami, dan menetralisir rasa pahit dalam makanan.
Namun pada zaman romawi kuno, selain menjadi bumbu dapur garam juga memegang peran krusial dalam aspek kehidupan lainnya. Di era ini, garam digunakan sebagai alat tukar, alat pembayaran, simbol religius, dan fondasi penting dalam ekonomi serta militer.
Dalam era romawi kuno, jauh sebelum barang elektronik seperti kulkas ditemukan, para masyarakat romawi menggunakan garam sebagai alat dan bahan efektif untuk mengawetkan makanan, terutama daging dan ikan.
Pengawetan makanan dengan garam pada zaman romawi kuno juga dianggap sebagai cara paling efektif untuk mencegah pembusukan.
Selain digunakan sebagai pengawet, para masyarakat romawi juga menggunakan garam sebagai pengobatan tradisional seperti pembersihan luka, obat kumur saat sakit tenggorokan, penghangat, pereda nyeri otot, dan melancarkan gangguan pencernaan.
Garam juga memiliki sifat penyembuh dan penyeimbang, sehingga seringkali digunakan dalam ritual penyucian tubuh dan benda.
Tak hanya digunakan sebagai penyuci, pengawet, dan bumbu dapur. Pada zaman romawi kuno garam memiliki fungsi lainnya yang sangat unik dan cukup aneh jika dilihat dari sudut pandang masa kini.
Baca Juga: Tukang Tebang Tewas Tertimpa Randu di Kota Mojokerto
Garam pada masa romawi dianggap sebagai komoditas yang sangat berharga sehingga garam digunakan sebagai alat pembayaran bagi para prajurit romawi. Fungsi ini dianggap sangat unik dan tidak biasa jika dilihat dari sudut pandang era modern.
Jika para pekerja di era masa kini dibayar menggunakan uang, sangat berbeda dengan pekerja terutama para prajurit romawi kuno yang dibayar menggunakan salarium yaitu upah dalam bentuk garam.
Dari kegiatan itulah istilah salary muncul dan kita gunakan hingga sekarang. Kata salary ini diambil dari kata lain salarium, salary sendiri adalah kata dalam bahasa inggris yang berarti gaji.
Saat itu, garam juga disebut dengan sebutan “emas putih” karena perannya yang krusial dan nilai ekonominya yang tinggi setara dengan nilai ekonomi logam mulia di wilayah-wilayah yang sulit memproduksi garam.
Karena itu, garam juga dianggap sebagai simbol kemakmuran sebab wilayah yang memiliki akses sumber garam cenderung memiliki keadaan ekonomi yang makmur karena dapat mengontrol pasokan dan perdagangannya.
Daerah di sekitar tambang garam juga sering menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan kekuatan politik.
Selain digunakan sebagai alat pembayaran, garam juga digunakan saat acara ritual keagamaan serta penyucian. Persembahan garam kepada dewa dianggap sebagai simbol keabadian dan perjanjian suci yang tak akan putus.
Baca Juga: Tingkatkan Motorik Anak, Ikuti Olah Raga Pushbike
Bahkan di masyarakat, posisi atau status sosial seseorang ditandai dengan istilah “above or below the salt” yang artinya yang duduk di atas garam adalah kalangan terhormat.
Namun, berita mengenai para pekerja romawi yang dibayar menggunakan garam menjadi perdebatan para ilmuwan. Mereka berpikir bahwa kejadian yang lebih memungkinkan adalah para prajurit romawi tidak dibayar dengan garam secara penuh.
Melainkan para prajurit menerima tunjangan khusus yang disebut salarium dalam jumlah yang cukup untuk membeli garam, atau sebagian kompensasi mereka dibayar menggunakan garam dan sebagiannya lagi menggunakan uang. Jadi, bukan berarti seluruh gaji mereka berupa garam.
FANEZA
Editor : Imron Arlado