Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sering Dikira Sama, Ternyata ini Perbedaan Law of Attraction dan Law of Assumption!

Eki Septian Tri Wulansari • Jumat, 25 Juli 2025 | 03:23 WIB

 

Sering Dikira Sama, Ternyata ini Perbedaan Law of Attraction dan Law of Assumption! (sumber : Freepik)
Sering Dikira Sama, Ternyata ini Perbedaan Law of Attraction dan Law of Assumption! (sumber : Freepik)

RADAR MOJOKERTO - Pasti kalian tidak asing lagi dengan beragam manifestasi yang dibuat untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan hanya dengan menggunakan kekuatan pikiran atau sugesti.

Dua bentuk manifestasi populer saat ini adalah law of attraction dan law of assumption. Keduanya sama-sama melibatkan pikiran sebagai poin utama dari terwujudnya suatu keinginan. Lantas apa bedanya?

Law of Attraction

Law of attraction adalah bagian dari manifestasi yang diartikan sebagai hukum tarik menarik. 

Tokoh yang mempelopori teknik manifestasi ini adalah Phineas Quimby asal Amerika Serikat di awal abad 19. Pada abad 21, law of attraction menjadi semakin populer setelh tertuang dalam salah satu karya bertajuk The Secret milik Rhonda Byrne.

Prinsip law of attraction sendiri melibatkan tiga hal yaitu energi tarik menarik dalam satu frekuensi, menyingkirkan pikiran negatif dalam diri, dan berfokus pada masa kini. Ketiganya adalah prinsip pendukung keberhasilan penerapan law of attraction dalam mewujudkan keinginan.

Cara kerja dari hukum tarik menarik melalui tiga tahapan yaitu ask (meminta), believe (percaya), dan receive (menerima).

Energi yang timbul dari penerapan law of attraction akan diselaraskan oleh alam sehingga mampu membantu terwujudnya manifestasi seseorang.

Baca Juga: Gaya Rambut Cewek Bisa Ungkap Mood dan Karakternya, Berikut Faktanya

Law of Attraction mempercayai kekuatan energi dalam diri seseorang. Jadi ketika seseorang berpikir positif, maka hal positif lah yang akan terjadi. Maka dari itulah pentingnya menyingkirkan energi atau pikiran negatif untuk membantu terwujudnya keinginan.

Kepercayaan akan membawa seseorang mendekati titik yang dimanifestasikan untuk diwujudkan segera.

Law of Assumption

Law of assumption menekankan asumsi dan imajinasi untuk mewujudkan keinginan. Law of assumption atau hukum asumsi mulai dikaji sebelum abad 20 dan mulai berkembang di awal abad 20. Seorang penulis asal Amerika, Neville Goddard adalah tokoh paling dikenal di balik law of assumption.

Menurut Neville Goddard, imajinasi dan keyakinan membentuk peranan penting dalam mewujudkan keinginan.

Sebenarnya hukum asumsi bisa dikatakan juga sebagai bentuk kepura-puraan karena dalam prakteknya melibatkan imajinasi apabila keinginan telah hadir menjadi kenyataan, padahal sebenarnya belum.

Praktek hukum asumsi cukup mudah yaitu dengan membayangkan atau memvisualisasikan bahwa Anda telah memiliki atau bersikap seolah keinginan itu telah terwujud.

Lakukan visualisasi secara terus menerus dan lama kelamaan energi dari keyakinan atas imajinasi atau bayangan tersebut akan diselaraskan oleh alam sehingga keinginan segera terwujud.

Misal ketika ingin membeli mobil jenis X, bayangkan Anda sedang melihat-lihat katalog mobil, mendatangi showroom, membeli mobil impian Anda, mencoba merasakan masuk kedalamnya dan mengendarai mobil tersebut seolah mobil itu telah menjadi milik Anda.

Terdengar tidak masuk akal, namun itulah cara law of assumption atau hukum asumsi bekerja merubah imajinasi Anda menjadi kenyataan.

Perbedaan Law of Attraction dan Law of Assumption

Secara tujuan, kedua hukum, law of attraction dan law of assumption sama-sama tentang trik manifestasi yang melibatkan kekuatan pikiran untuk mewujudkan keinginan atau cita-cita.

Namun, perbedaan dari kedua hukum tersebut adalah soal keyakinan. Jika law of attraction menekankan pentingnya energi dan berpikir positif untuk menarik hal-hal serupa atau selaras dengan keinginan, lain halnya dengan law of assumption.

Law of assumption lebih mengutamakan keyakinan dalam diri dan berimajinasi serta bersikap bahwa mimpi atau keinginan sudah terpenuhi, nantinya imajinasi tersebut akan menciptakan realitas cerminan dari keyakinan tersebut.

Baca Juga: Sering Mengantuk Meski Sudah Tidur Cukup? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Secara praktek, law of attraction lebih mengutamakan berpikir positif dan memvisualisasikan keinginan secara berkala, sedangkan law of assumption seseorang diharuskan untuk bertindak, berimajinasi, dan berpikir seolah keinginan sudah tercapai.

Ringkasan Perbedaan

Keyakinan

Law of Attraction = Menarik energi negatif dalam membantu mewujudkan keinginan

Law of Assumption = Berimajinasi atau meyakini bahwa mimpi telah terpenuhi untuk menciptakan realitas yang sama

Praktek 

Law of Attraction = Berpikir positif dan visualisasi berkala

Law of Assumption = Bertindak seolah keinginan terwujud

Nah itulah dia perbedaan antara law of attraction dan law of assumption. meski keduanya merupakan hukum manifestasi, namun ternyata memiliki cara tersendiri dalam merubah keinginan menjadi sebuah realitas yang nyata.

Editor : Imron Arlado
#Law of Attraction #imajinasi #berpikir positif #keinginan #keyakinan #law of assumption #Manifestasi