Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Terlalu Sering Menjadi Tempat Curhat? Awas, Kamu Bisa Alami Compassion Fatigue

Imron Arlado • Kamis, 24 Juli 2025 | 03:52 WIB
Terlalu Sering Menjadi Tempat Curhat? Awas, Kamu Bisa Alami Compassion Fatigue
Terlalu Sering Menjadi Tempat Curhat? Awas, Kamu Bisa Alami Compassion Fatigue

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pernah merasa lelah setelah menjadi tempat curhat teman, mendengarkan cerita sedih keluarga, atau membantu orang lain menyelesaikan masalahnya?

Mungkin kita merasa senang bisa membantu, tetapi setelahnya malah merasa emosional, kosong, bahkan kesak tanpa alasan yang jelas.

Jika pernah mengalami hal tersebut, artinya saat itu kita sedang mengalami compassion fatigue atau kelelahan karena terlalu sering peduli.

Apa Itu Compassion Fatigue?

Compassion fatigue adalah kondisi stres emosional dan fisik yang muncul ketika seseorang terlalu lama atau terlalu sering terpapar penderitaan orang lain.

Kondisi ini awalnya banyak dibahas dalam dunia kesehatan, terutama pada profesi perawat, dokter, psikolog, guru, atau pekerja sosial.

 

 

Namun kini, seiring meningkatnya kesadaran kesehatan mental, compassion fatigue juga dialami oleh masyarakat umum, terutama mereka yang memiliki empati tingkat tinggi.

Psikolog mengatakan bahwa fenomena ini disebut sebagai ''cost of caring'' atau biaya emosional dari kepedulian terhadap orang lain.

Jika compassion fatigue tidak diatasi dalam jangka panjang, hal ini bisa menyebabkan burnout, kehilangan empati, bahkan mengganggu psikologis seperti kecemasan dan depresi.

Tanda-Tanda Compassion Fatigue

  1. Kelelahan emosional karena tubuh merasa lelah tanpa sebab yang jelas setelah membantu orang lain.
  2. Sulit merasa peduli lagi hingga menjadi tidak seantusias dulu dalam merespons orang lain.
  3. Mudah marah yang disebabkan oleh emosi yang menjadi lebih sensitif.
  4. Tidak lagi ingin bersosialisasi dan merasa terbebani jika harus mendengarkan cerita orang.
  5. Merasa bersalah ketika tidak bisa membantu semua orang.
  6. Adanya gejala fisik seperti pusing, nyeri otot, gangguan tidur, atau bahkan masalah pencernaan.
  7. Overthinking dan self-doubt apakah diri sendiri cukup baik atai terlalu egois saat mencoba membatasi diri dengan orang lain.

 

Cara Mengatasi Compassion Fatigue

  1. Membangun batasan yang sehat. Belajar untuk menolak atau menunda bantuan tanpa merasa bersalah karena kita tidak harus tersedia 24/7 untuk orang lain.
  2. Self-compassion dengan meluangkan waktu untuk me-time. Bisa dengan cara tidur lebih awal, menonton film, atau melakukan hobi kecil yang bisa menyenangkan hati.
  3. Bicarakan perasaan kepada teman atau profesional yang bisa diandalkan untuk meluapkan isi pikiran, jangan hanya menjadi tempat curhat orang lain saja.
  4. Kurangi paparan konten emosional. Batasi konsumsi berita negatif atau konten menyedihkan di media sosial untuk menjaga kesehatan mental.
  5. Menjaga keseimbangan aktivitas dengan membagi antara waktu untuk membantu orang lain dan waktu untuk mengisi ulang energi diri sendiri.

Menjadi orang yang peduli, penuh empati, dan mau hadir untuk orang lain adalah sifat yang mulia. Tapi ingat, kita juga perlu waktu untuk bernapas, merasa aman, dan pulih.

Jangan sampai keinginan untuk membantu orang lain justru membuat kita kehilangan diri sendiri. FADYA.

 

Editor : Imron Arlado
#psikolog #burnout #overthinking #Compassion Fatigue #Emosional #psikologis