Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kenapa Labour Menjadi Lagu Feminisme yang Menyentuh Banyak Hati? Yuk Simak Penjelasannya!

Imron Arlado • Kamis, 24 Juli 2025 | 03:53 WIB

 

Musik bukan hanya tentang melodi yang enak didengar saja, ia juga bisa menjadi senjata. sumber foto: pinterets
Musik bukan hanya tentang melodi yang enak didengar saja, ia juga bisa menjadi senjata. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Musik bukan hanya tentang melodi yang enak didengar saja, ia juga bisa menjadi senjata. Senjata untuk menyuarakan ketidakadilan, membuat luka yang disembunyikan, dan pada akhirnya menjadi ruang perlawanan.

Itulah yang dilakukan Paris Paloma lewat lagunya “Labour” Dalam durasi tak sampai empat menit.

Lagu ini berhasil merangkum kelelahan kolektif jutaan perempuan yang hidup dalam sistem yang menormalisasikan ketimpangan. 

Lagu ini juga tidak hanya menyentuh hati, tapi juga mengguncang kesadaran.

 

Labour: Ketika Lirik Menjadi Terapi dan Protes

Di permukaan, “Labour” terdengar seperti hanya lagu ballad yang pelan dan sendu. Tapi dengarkan baik-baik liriknya.

Dan kamu akan menemukan amarah yang mendidih, luka yang tak terobati, dan ketegasan yang lahir dari keputusasaan.

 

 

“All day, every day, therapist, mother, maid / Nymph then a virgin, nurse then a servant”

(Sepanjang hari, setiap hari, terapis, ibu, pembantu / Nimfa lalu perawan, perawat lalu pelayan)

 

Lirik pembuka ini langsung menghantam. Paris Paloma menunjukkan bagaimana gambaran perempuan, mereka harus menjadi tempat curhat (terapis), pengasuh (ibu), penjaga rumah (pembantu), pemuas (nimfa), dan pada akhirnya menjadi pelayan.

Maknanya? Perempuan sering merasa tidak dicintai sebagai manusia atau pasangan, tapi hanya sebagai fungsi.

Nilainya ditentukan oleh seberapa banyak mereka bisa melayani pasangan, bukan seberapa mereka dihargai.

 

“Im not an object of desire, i am the fire / You should be afraid of me”

(Aku bukan objek keinginan, aku adalah api / Kau seharusnya takut padaku)

 

 

Di sinilah letupan kekuatan lagu ini terasa. Kalimat ini adalah bentuk reclaiming seperti pernyataan bahwa perempuan bukan hanya untuk dinikmati.

Mereka punya batasan, dan ketika batasan itu dilanggar, perempuan bisa membakar semua yang mencoba mengurungnya.

 

“And i will not wait in line / While you decide if you like me / Or if I am worth your time”

(Dan aku tak akan lagi menunggu / Sementara kau memutuskan apakah kau menyukaiku / Atau aku layak mendapatkan waktumu)

 

Ini adalah bagian yang paling menyayat. Ia bicara tentang perempuan yang selama ini menunggu validasi.

Menunggu pasangan berubah. Tapi lagu ini menjadi momen titik balik seperti, perempuan tak harus menunggu dihargai, ia cukup tau nilai dirinya.

 

Viral Karena Nyata, Bukan Sekadar Tren

Lagu “Labour” tidak hanya viral karena diputar di radio mainstream. Lagu ini juga meledak di media sosial, terutama di TikTok dan Instagram Reels, Karena orang-orang yang suka melihat media sosial.

Khususnya para perempuan yang menggunakannya sebagai latar belakang cerita pribadi mereka.

Video-video yang menampilkan pernikahan yang terasa seperti penjara, pacar yang selalu ingin dimengerti tapi tak pernah mau mengerti.

 

Baca Juga: Tersangka Korupsi Dana BLUD Puskesmas Tak Melawan

 

Lagu ini bukan sekedar diputar, ia juga perlu dihayati. Dan itulah kekuatan sejati dari lagu Labour.

Lagu itu tidak mencoba membuat perempuan merasa kuat dengan basa-basi motivasi, tapi justru mengakui bahawa mereka lelah dan itu valid.

 

 

Feminisme yang Penuh Luka, Tapi Tegas

Banyak lagu feminis bicara tentang kekuatan, kebebasan, dan semangat. Tapi lagu Labour memilih jalur lain.

Lagu yang diciptakan oleh Paris Paloma ini juga tidak penuh semangat membara atau ajakan revolusi keras.

Paris Paloma tidak mencoba menghibur tapi ia sedang menyuarakan realitas. Dan dalam realitas itulah kekuatan sejati lagu ini muncul.

Lagu Labour adalah feminisme dari titik puncak kelelahan.

Dan di dunia yang terus menuntut perempuan untuk melanjutkan keputusan untuk berhenti adalah bentuk perlawanan paling radikal.

 

 

Makna yang Tidak Bisa Diabaikan

Dalam salah satu bagian lirik yang paling menyakitkan, paris menyanyikan:

“You make me do to much labour"

Lirik ini sederhana tapi sangat menyayat, ia bukan jeritan, tapi sebuah penolakan. Ia adalah kesadaran bahwa perempuan tidak lahir untuk menjadi pelayan dalam cinta.

Bahwa mencintai bukan berarti mengurus semuanya sendiri. Bahwa dalam relasi yang sehat, beban dibagi, bukan ditimpakan.

 

Lagu Ini Adalah Alarm

Labour adalah lagu peringatan. Peringatan bagi perempuan bahwa cinta tanpa kesetaraan bukanlah cinta, tapi bentuk lain dari eksploitasi.

 

Baca Juga: Ornamen Jembatan Dibiarkan Rusak dan Hilang

 

Di tengah dunia yang sering membungkam perempuan dengan dalih kesabaran dan pengendalian, lagu Labour hadir sebagai pengingat bahwa perempuan bukan berarti menjadi beban. 

AILEEN ZNR

Editor : Imron Arlado
#kesetaraan #sendu #media sosial #feminim #ibu #Dicintai #labour #feminisme #dihargai #paris paloma #perempuan #reclaiming