Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Dunia Maya, Dunia Nyata, Bagaimana Media Sosial Membentuk Identitas Remaja?

Imron Arlado • Minggu, 20 Juli 2025 | 23:40 WIB

 

Di era digital saat ini, batas antara dunia maya dengan dunia nyata menjadi kabur, terutama bagi para remaja.  sumber foto: pinterets
Di era digital saat ini, batas antara dunia maya dengan dunia nyata menjadi kabur, terutama bagi para remaja. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di era digital saat ini, batas antara dunia maya dengan dunia nyata menjadi kabur, terutama bagi para remaja. Media sosial bukan hanya tentang sekadar tempat untuk berbagi  foto atau status.

Tapi juga telah menjadi ruang dimana anak-anak remaja mencari jati diri mereka, membangun identitas, dan merasakan validasi sosial. 

Remaja adalah fase krusial dalam perjalanan memahami siapa diri mereka, apa yang mereka percayai, dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh dunia.

Pada masa saat ini pengaruh lingkungan sangat besar, baik dari keluarga, teman sebaya, dan media sosial.

Media sosial menjadi ruang untuk para remaja eksplorasi diri. Remaja bisa bereksperimen dengan berbagai pesona dari gaya berpakaian hingga pandangan hidup.

Mereka juga bisa untuk menemukan komunitas yang memiliki minat yang sama, atau panutan yang menginspirasi mereka agar menjadi versi terbaik diri mereka.

Platform seperti instagram, TikTok, dan Snapchat memungkin remaja menampilkan versi terbaik diri mereka .

Mereka memilih foto terbaik, menyusun caption yang menarik, dan juga terkadang menyembunyikan sisi yang rapuh dari kehidupan mereka.

 

 

Dalam proses ini, media sosial menjadi semacam cermin yang memantulkan bagaimana mereka ingin dilihat. Tapi kadang cermin ini berubah menjadi topeng yang menutupi siapa mereka sebenarnya.

Remaja bisa merasakan terjebak dalam citra yang sudah mereka bangun, takut dianggap berbeda atau tidak keren jika menunjukan sisi asli mereka.

Satu like, satu komentar, atau satu pengikut tambahan bisa menjadi penentu suasana hati bagi sebagian remaja.

Validasi digital menjadi begitu penting, hingga terkadang menggeser nilai-nilai yang lebih mendasar seperti kepercayaan diri.

Mereka menunjukan bahwa ketertarikan emosional terhadap respons di media sosial dapat mempengaruhi harga diri.

Remaja yang terlalu bergantung pada feedback digital bisa mengalami kecemasan, stres, bahkan depresi jika tidak mendapatkan respons yang diharapkan.

Media sosial memiliki potensi besar sebagai ruang pembebasan identitas untuk memberi tempat bagi remaja yang merasa terpinggirkan di dunia nyata untuk bersuara. Mengekspresikan diri, dan menentukan dukungan. 

Namun tanpa literasi digital dan kesadaran diri, media sosial juga bisa menjadi ruang menyandera, membuat para anak remaja merasa harus terus tampil sempurna.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Yaitu, dengan membangun literasi digital, remaja perlu diajarkan bagaimana menggunakan media sosial secara sehat dan juga mengenali bahayanya FOMO.

Mendorong refleksi diri dengan mengajak remaja untuk merenung “Apakah aku memposting ini karena aku ingin, atau hanya karena aku ingin diterima?” Kesadaran ini sangat penting dalam menjaga otentitas identitas.

 

 

Menciptakan ruang aman di dunia nyata, dunia nyata yang penuh empati, dukungan, dan keterbukaan. Akan membantu remaja merasa tidak perlu mencari pengakuan semata dari dunia maya.

Media sosial bisa juga menjadi jembatan atau jurang dalam pembentukan identitas remaja. dunia maya memang nyata dalam pengaruhnya, tapi bukan satu-satunya cermin diri. 

 

 

Yang paling penting adalah bagaimana remaja bisa tetap setia pada diri sendiri di tengah riuhnya sorotan digital. dunia maya akan terus berkembang, tapi semoga saja dunia nyata tetap menjadi tempat remaja belajar untuk mengenali siapa mereka sebenarnya.

 

AILEEN ZNR



Editor : Imron Arlado
#media sosial #empati #Identitas Remaja #harga diri #Validasi Sosial #jati diri #dunia nyata #remaja #dunia maya