Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Lelah Tapi Tak Tahu Sebabnya? Bisa Jadi Ini Beban Emosional yang Tak Terlihat

Imron Arlado • Sabtu, 19 Juli 2025 | 10:54 WIB
Lelah Tapi Tak Tahu Sebabnya? Bisa Jadi Ini Beban Emosional yang Tak Terlihat
Lelah Tapi Tak Tahu Sebabnya? Bisa Jadi Ini Beban Emosional yang Tak Terlihat

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di tengah kesibukan harian, banyak perempuan merasakan kelelahan. Bukan hanya karena pekerjaan fisik atau tekanan tugas, tapi karena beban emosional yang terus-menerus ditanggung.

Emotional labor adalah istilah untuk mendefinisikan beban tak kasat mata ini. Sayangnya, belum banyak orang yang menyadari seberapa besar pengaruhnya terhadap kesehatan mental.

Apa Itu Emotional Labor?

Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh sosiolog bernama Arlie Russell Hochschild dalam bukunya yang berjudul The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling (1983).

Konsep ini menjelaskan bagaimana seseorang ''mengelola emosi'' demi menjaga keharmonisan lingkungan sosial, terutama di ruang kerja dan keluarga.

Namun dalam perkembangannya, emotional labor tak hanya terjadi di lingkungan kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan lebih sering diharapkan untuk menjadi pengatur emosi kolektif.

Dalam konteks ini, perempuan harus bisa sabar, penuh pengertian, tidak mudah marah, dan selalu siap untuk menjadi tempat curhat orang lain.

 

 

Mengapa Perempuan Lebih Rentan?

Sejak kecil, banyak perempuan dibesarkan dengan pesan-pesan sosial yang mendorong mereka untuk menjadi penengah dan penjaga hubungan.

Mereka dianggap ''lebih baik'' jika mampu memahami orang lain, menghindari konflik, dan tidak menunjukkan emosi negatif.

Contoh dari kasus ini pada perempuan sangat beragam. Misalnya ketika seorang ibu rumah tangga yang menekan rasa lelah agar tetap bisa menyenangkan anak dan suami.

Atau ketika seorang karyawan yang menyembunyikan stres demi menjaga profesionalisme dan suasa kerja. Hingga ketika seorang teman yang selalu menjadi pendengar tapi tidak pernah didengarkan balik.

Di sisi lain, jika perempuan menunjukkan kemarahan atau ketegasan, mereka sering dilabeli ''emosional'', ''drama'', atau bahkan ''tidak dewasa''. Hal ini mendorong mereka untuk menekan emosinya sendiri demi citra sosial yang lebih dapat diterima masyarakat.

Dampak Emotional Labor

Emotional labor yang terus-menerus tanpa disadari bisa menyebabkan kelelahan emosional kronis (emotional exhaustion). Perempuan akan merasa ''kosong'', gampang tersinggung, atau kehilangan motivasi. Padahal, secara fisik mereka tampak baik-baik saja.

Selain itu, jika kita terbiasa memprioritaskan orang lain dan mengabaikan perasaan sendiri, hal ini bisa berujung pada hilangnya koneksi antara kita dengan kebutuhan emosional diri.

Beberapa perempuan bahkan mulai merasa bersalah saat ingin mengambil waktu untuk diri sendiri karena takut dianggap egois. Inilah bentuk tekanan internal yang muncul dari norma sosial yang tidak seimbang.

 

 

Cara Mengatasi Emotional Labor

Kunci utama untuk mengurangi dampak emotional labor adalah kesadaran dan batasan sehat untuk diri sendiri. Pertama, sadari bahwa kita berhak untuk merasakan dan mengekspresikan emosi, bukan hanya sekadar menahan atau menyembunyikannya.

Kedua, belajar untuk menolak demi diri sendiri tanpa merasa bersalah. Sadari bahwa diri kita lebih penting daripada harus memprioritaskan orang lain, jangan menjadi people pleasure.

Ketiga, ceritakan masalahmu dengan pasangan, teman, atau keluarga untuk mengurangi beban. Akui bahwa kamu juga butuh didengar dan dipahami.

Berhenti berpikir bahwa menjadi perempuan harus selalu kuat, selalu mengerti, dan selalu tersenyum. Hal itu tidak realistis dan sangat melelahkan. FADYA.

 

 

 

Editor : Imron Arlado
#Cara Mengatasi #beban emosional #Emotional Labor #dampak #emosi #Definisi