JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Budaya patriarki yang masih sangat melekat hingga saat ini membuat para perempuan memiliki emosi yang terpendam.
Jika pada zaman dahulu kebanyakan perempuan lebih memilih untuk tunduk pada budaya patriarki, sekarang justru berbanding terbalik.
Perempuan di era saat ini memilih untuk mengekspresikan kemarahan dan emosinya yang selama ini ditekan oleh budaya patriarki yang kental.
Hal ini umumnya disebut dengan Feminine Rage atau yang berarti kemarahan feminin dalam bahasa Indonesia.
Selama berabad-abad lamanya, kaum perempuan ditindas dan dianggap tidak pantas marah. Pemikiran ini muncul karena adanya standar sikap perempuan yang harus tetap kalem, baik, dan sopan dengan siapapun terutama kaum pria dan apapun keadaannya. Bahkan saat mereka diperlakukan secara tidak adil sekalipun.
Saat itu, para perempuan patuh dengan standar yang ditetapkan. Kepatuhannya membuat kaum laki-laki berperilaku semena-mena.
Kasus pelecehan, kekerasan, dan pembullyan terhadap perempuan terjadi di mana-mana. Korban memilih bungkam karena merasa tidak memiliki kekuatan yang cukup.
Namun, di era saat ini, perempuan lebih memilih untuk memberontak, melawan, dan menghancurkan stigma perempuan tidak pantas marah yang tertancap dalam pemikiran semua orang.
Para perempuan tidak tinggal diam, mereka mulai menyuarakan kemarahannya secara vokal dan berani, sebagai bentuk pembelaan diri terhadap ketidakadilan yang terjadi.
Mulai dari diskriminasi gender, stigma tentang perempuan, standar tidak masuk akal yang ditetapkan, kekerasan gender, hingga ketimpangan dalam pekerjaan dan rumah tangga.
Mereka menyuarakannya melalui berbagai cara yakni:
- Mengunggah video atau foto di sosial media yang berisi kritik tajam terhadap budaya patriarki
Seruan “Gaslighting, Manipulation, Girl Power” kini marak di media sosial terutama pada platform TikTok. Seruan ini muncul dari video-video perempuan yang awalnya terlihat seperti menormalisasi perilaku memanipulasi laki-laki dengan berkata:
“First, gaslight him, then manipulate him, and lastly, girl power”
Namun, konteks tren ini bukan benar-benar mengajari atau mengajak berperilaku manipulatif. Melainkan digunakan para perempuan untuk menyuarakan kekesalan mereka terhadap standar ganda dalam hubungan.
Para perempuan juga menyebut tren ini sebagai dark humor atau reverse psychology, di mana laki-laki seringkali melakukan gaslight kepada perempuan dan kini mereka bergurau seolah akan membalas dendam kepada laki-laki.
Namun, dibalik candaannya terdapat rasa muak yang nyata terhadap perlakuan para lelaki yang sering merendahkan perempuan dalam hubungan.
- Melalui lagu, buku, dan film
Tak hanya menyerukannya melalui media sosial, para perempuan juga menyerukan kekesalannya melalui lagu, buku, dan film. Contohnya seperti:
- Lagu “Vampire” – Olivia Rodrigo
Lagu milik penyanyi ternama asal Amerika bertajuk Vampire ini memiliki makna kemarahan dan sakit hati perempuan karena hubungan yang toksik dengan lirik yang emosional dan penuh kemarahan.
Orang-orang juga seringkali menyebut lagu ini sebagai anthem atau lagu kebangsaan bagi para perempuan muda.
- Lagu “Your Power” – Billie Eilish
Your Power milik Billie Eilish ini membicarakan para lelaki yang menyalahgunakan kekuasaan terhadap para perempuan.
Liriknya tergolong kalem, namun memiliki makna yang tajam dan penuh kritik. Orang-orang menyebut lagu ini sebagai bentuk kemarahan yang diam namun mematikan.
Baca Juga: Kejari Kota Mojokerto Setor Uang Pengganti Korupsi BPRS Kota
Feminine rage pada dasarnya muncul karena adanya perbedaan perlakuan antara perempuan dengan laki-laki.
Perbedaan perlakuan ini akhirnya meluas sampai terjadi ketidakadilan struktural seperti perbedaan upah gaji, tugas rumah tangga, dan pelecehan.
Munculnya rasa kesadaran dalam diri perempuan akan lelahnya memikul standar sikap perempuan (lembut, sopan, baik, patuh, dan tidak pantas marah) yang telah ditetapkan juga menjadi salah satu faktor hal ini terjadi.
Selain itu, feminine rage bukan tentang kebencian, tapi keadilan. Perempuan berhak marah jika diperlakukan secara tidak adil, dan mereka ingin suara dan emosinya diakui serta dianggap sah.
FANEZA
Editor : Imron Arlado